Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
26. Nurun dari Bapaknya


__ADS_3

"Kok bisa?"


"Ya itu tadi, bosen. Jadi, tahun itu, saya inget banget kami enggak pernah berhubungan s*ksual. Tidur tetep sekasur, tapi Abimanyu juga di kasur. Kita enggak curi-curi waktu, ya gitu-gitu aja. Saya kerja, dia ngurus anak, bareng-bareng cuma ngomongin anak."


"...."


"Saya enggak tau soal Melisa tapi buat saya, itu hubungan yang nyiksa. Sayang sama anak bukan berarti kebutuhan diri saya hilang. Tapi yang saya liat, buat Melisa dulu hubungan saya sama dia lebih fokus ke anak sampai lupa ke diri sendiri."


"Melisa enggak mau ngelayanin kamu?"


"Ya. Karena bosen juga, dia bilang. Kami capek, stuck, pokoknya ngerasa mau hidup yang lain. Bukan yang di mana kami satu rumah, ngeliat diri satu sama lain. Jadi akhirnya saya selingkuh."


"Melisa marah?"


Adji menggeleng. "Saya inget banget waktu dia tau, dia diem. Biasanya kami adu mulut, saling nyalah-nyalahin, tapi waktu itu diem. Dia diem, saya diem. Saya sama dia mungkin sama-sama yakin dulu kalau ini puncak. Enggak mungkin bisa diperbaikin lagi."


"Tapi?"


"Entah dateng dari mana pikiran saya sama dia, tiba-tiba saya sama dia bilang. Kok kita gini, yah?"


Juwita mengangkat alis tak mengerti. "Apanya?"


Pria itu tertawa. "Ya pertanyaan buat satu sama lain. Kok jadi gini? Kok yang dulu bahagia jadi begini? Kok yang dulu cinta malah jadi begini? Kok bisa begini?"

__ADS_1


"....."


"Saya sama Melisa sama-sama diem lama. Berhari-hari karena pertanyaan simpel itu. Kenapa? Saya juga nanya ke diri saya. Kok bisa? Kok begini? Salahnya di mana? Kok waktu nikah dulu gampang banget ngebayangin sampe mati, tapi tiba-tiba, entah ombak dari mana, tiba-tiba kacau begini? Kok bisa?"


Ah, jadi muncul tamparan dalam diri masing-masing, kah?


"Habis itu kalian baikan?" tanya Juwita, larut dalam cerita.


"Enggak. Saya bilang ke Melisa, kamu pulang dulu ke rumahmu. Saya juga mau ke Amerika, pulang ke orang tua. Tenangin pikiran masing-masing, ngobrol sama orang tua."


"Terus gimana?"


"Di Amerika saya jadi sadar kalau bosen yang saya rasain justru saya cari. Rencana saya di Amerika sebulan, dua minggu saya pulang. Jemput Melisa, Abimanyu sama Banyu. Kita bilang, lain kali kalo udah bosen, kita mesti bilang. Kalau ngerasa ada masalah, mesti bilang. Jangan membabi-buta nahan demi cinta sampe akhirnya justru numpuk."


Juwita menepuk-nepuk tangan Adji, respect pada bagaimana dia dan Melisa bertahan. "Tapi selingkuhan kamu gimana?"


Pria itu tertawa kecut seraya menjatuhkan kepala ke sandaran kasur.


"Yang namanya selingkuhan suami orang, dibuang tiba-tiba juga enggak bisa protes. Biarpun saya emang sempet susah lepas juga."


"Ohya?"


"Tapi Melisa bilang, 'kamu pilih aku sama anak-anak atau selingkuhan kamu'. Ya jelas saya pilih istri sama anak. Jadi tiap saya diganggu, saya bilang ke Melisa. Sampe akhirnya perempuan itu bosen ditolak."

__ADS_1


"Mbak Melisa enggak pernah ngelabrak?" Yang mirip sinetron atau drama-drama viral gitu, loh.


"Enggak, sih. Melisa itu punya sifat 'sombong', dalam tanpa kutip. Dia ngerasa, kok saya yang harus ngerendahin harga diri buat pelakor? Pernah malah dia bilang 'kalau kamu milih selingkuhan kamu, aku kasih, anggep aja sedekah sama orang kurang beruntung'."


Juwita tertawa, membayangkan wanita anggun itu berkata demikian dengan raut sombongnya.


Tawa Juwita menular pada Adji. Entah sejak kapan kecanggungan itu pergi, dan kenyamanan yang kemarin datang.


Kini keduanya berbaring telentang di tempat tidur, bersiap mengistirahatkan diri. Tapi ketika Juwita memejamkan mata, Adji menyempatkan diri berbicara.


"Saya enggak bakal sentuh kamu sebelum kamu yang minta ke saya."


Juwita nyaris tersedak. "Kok gitu?"


Adji malah tersenyum. "Soalnya lebih seru."


Hidih. Pantas saja anak-anaknya selalu suka bersaing dan tidak mau kalah.


Nurun dari orang ini!


...*...


Thank you buat kalian yang udah baca dan dukung karya ini. selalu inget tinggalin like sebagai bentuk dukungan buat perkembangan karya dan author. dan kolom komentar adalah tempat bebas kalian menilai. 🙂

__ADS_1


__ADS_2