
"Apa-apaan sih istri kamu itu!"
Adji menjauhkan ponsel dari telinganya atau nanti ia harus ke dokter telinga. "Kenapa, Tante?" tanyanya berusaha pelan, agar yang seberang juga tenang.
"Istrimu itu kok bisa-bisanya ngajakin Cetta main di jalanan! Bukannya persiapan mau sekolah, temenin anakmu belajar, malah dia ke pinggir jalan ngomong sama gelandang! Anakmu mau jadi gelandangan juga?!"
"Maksudnya apa? Juwita lagi sama Abimanyu, katanya."
"Halah! Barusan Tante dikirimin foto anakmu selonjoran di trotoar! Enggak pake sepatu malah ketawa-ketawa sama pengemis! Istrimu itu mau ngajarin apa sama anakmu? Kamu nyari istri bukanya yang bener ngurus anak malah modelan begitu!"
Adji memutuskan diam, karena sepertinya yang bersangkutan memang tidak mau menjelaskan ada apa dan langsung marah-marah.
Keluarga adalah segalanya bagi Adji. Segala-galanya. Tapi kadang ada orang yang statusnya keluarga juga, sebenarnya tidak terlalu perlu ikut campur, namun sibuk luar biasa mengurusi semua kekurangan.
Oma Putri yang merupakan bibinya Adji adalah salah satu. Dari sejak dirinya dan Melisa menikah sampai sekarang, selalu saja ada yang kurang.
Adji tidak bisa banyak bicara, karena dulu beliau yang merawat Adji saat Mama dan Papa ke luar negeri. Adji juga menikah di rumah beliau, jadi rasanya sudah seperti orang tua.
Bedanya, Oma Putri punya mulut pedas dan tidak suka memikirkan perasaan orang lain. Orang lain tidak berani padanya, namun Oma Putri berani pada semua orang.
"Malu Tante ngeliat anakmu begitu! Bisa-bisanya anak kamu malah gaul sama anak enggak jelas!"
"Iya, Tante."
Adji iya-iya saja, dan bersyukur ketika panggilan terputus.
Kepalanya mau pecah mendengar teriakan. Tapi Adji menyempatkan diri menghubungi Abimanyu untuk bertanya di mana Juwita.
__ADS_1
Panggilan Adji tidak diangkat. Daripada pusing, Adji menepikan ponsel, kembali bekerja.
Nanti di rumah juga ketemu.
...*...
"Papa, tadi Cetta kasih sepatu ke pemulung."
Juwita menoleh dari masakannya waktu dengar Cetta mulai bercerita. Seluruh keluarga Adji sekarang sudah berkumpul, menunggu makan malam selesai dibuat, kecuali Abimanyu yang memilih pergi latihan.
Anak itu maniak voli, demi Tuhan.
"Kok gitu?"
"Iya, kata Kakak pemulungnya kasian."
"Enggak pa-pa." Adji menjawab santai. "Terus gimana? Temenan kamu sama anaknya?"
"Enggak. Soalnya langsung diajak pergi sama Kakak. Abang marah."
"Kok gitu?"
Juwita menggeleng panik, melarang Cetta bicara.
Karena anak itu mulai patuh pada Juwita, dia pun langsung bicara hal lain.
"Papa, kok adeknya masih kecil udah kerja? Emangnya Papa-nya dia enggak kasih uang, yah?"
__ADS_1
"Bukan enggak bisa," jawab Juwita dari dapur. "Cuma dianya mau bantu, biar Papa sama Mamanya enggak capek banget. Anak hebat tuh gitu. Cetta juga belajar begitu."
"Cetta juga mulung?"
"Boleh," jawab Banyu seketika. "Besok mau gue kasih karung juga? Atau mau langsung dorong gerobak?"
Adji hanya tertawa sedangkan Banyu mengacak-acak rambut adiknya.
Waktu mereka menikmati kebersamaan itu, ponsel Juwita tiba-tiba berdenting. Satu, dua, tiga. Beruntun notifikasi masuk sampai Adji menoleh.
Karena kepo, Juwita mengelap tangannya dan buru-buru buka handphone. Ia takut itu mungkin dari rumah sakit, atau dari Ibu dan Ayah, tapi ternyata bukan.
Isinya justru memaksa Juwita berhenti bernapas.
Cewek lont*!
Nikah demi harta, kasian bangettt!
Gue pernah deh liat muka lo di aplikasi ijo
Lo kan yang open harga sejuta semalem
Boleh keluar dalem katanya
Jijik gue sama lo
Enggak punya harga diri!
__ADS_1
...*...