
Sejak dulu, tepatnya sejak Mama pergi, mungkin Abimanyu sudah memiliki dua kepribadian dalam satu tubuh ini. Sisi pertama dirinya adalah sisi anak yang berusaha mengerti keadaan keluarga dan menjadi lebih dewasa karena ia anak pertama.
Tapi sisi satu lagi adalah sisi anak yang tidak mau tahu apa pun karena ia bahkan tak tahu harus tahu apa.
Abimanyu mengikuti sisi dewasanya di awal, bahkan sekalipun ia juga berbuat banyak keegoisan dulu. Namun sekarang Abimanyu membisukan kedewasaannya dan membiarkan pemberontak itu menang.
"Sejak kapan kamu ngerokok?"
Abimanyu menoleh pada suara papanya. "What? Aku udah punya KTP."
Walau tahu maksud Adji bukan itu, Abimanyu tidak mau membahas masa lalu dirinya. Tidak perlu membawa-bawa sesuatu seperti 'dulu Abimanyu seperti ini' karena itu dulu dan dulu itu sudah berlalu.
"Jangan deket-deket anak saya kalo kamu lagi ngerokok," ucap Adji saat dia bergabung di lapangan voli yang dulu jadi spot favorit Abimanyu berlatih.
Di sini Abimanyu berjuang keras meraih mimpinya, ikut ke pertandingan voli tingkat nasional—namun setelah terwujud, semuanya jadi terasa tidak berguna.
"Terus, gimana sama calon istri kamu?"
"Papa nikahin Juwita di KUA juga selesai." Abimanyu membalas tak peduli. "Perempuan selalu punya harga buat dibeli, kan?"
"Ya, sama kayak tas Dior asli sama KW," balas Adji tajam.
__ADS_1
"What's the metter? Fungsinya sama, sama-sama tas."
Adji memicing. "Kualitasnya beda."
Abimanyu mengembuskan asap rokoknya ke udara. "Kalo rusak tinggal ganti. KW enggak mahal."
Pembacaan antara pria dan pria memang kadang tidak enak didengar oleh wanita, namun Adji menggeleng menatap anaknya yang barusan berucap hal demikian tanpa penyesalan.
Sebagai orang tua, dengan enam anak dari dua istri berbeda, Adji punya segudang pengalaman untuk segala macam hal dalam hidupnya. Karena itu Adji bisa mengatakan bahwa anak ini, anak pertamanya, punya masalah serius.
Tapi dia jelas tidak akan menangis penuh haru kalau Adji berceramah tentang penyesalan saat dewasa nanti.
Abimanyu mengerutkan kening. Kenapa tiba-tiba?
"Tapi," Adji memutar tubuhnya menghadap Abimanyu, menatap lekat-lekat wajah anak bermasalah itu, "banyak di dunia ini yang bisa ngancurin kita, sekalipun kamu enggak ngasih izin."
"What are you talking about?"
Adji mengedik ke belakang Abimanyu yang jelas-jelas kosong. "Antrian orang yang hidupnya kamu ancurin."
Begitu saja Adji berlalu pergi, meninggalkan raut wajah marah pada Abimanyu.
__ADS_1
Anak lelaki seusia Abimanyu bukanlah Cetta yang jika dimarahi akan menunduk ketakutan. Anak lelaki seusia Abimanyu adalah anak yang jika wajahnya dipukul bahkan oleh sang ayah, maka satu-satunya balasan adalah pukul balik.
"Juwita termasuk antrian di belakang Papa, kan? Persis di depan Mama."
Adji jelas berhenti mendengar dua sosok istrinya disebut.
"Maksud kamu saya ngancurin hidup Juwita? Mamamu?"
"Emang enggak? Papa enggak boleh lupa kalo Papa pernah selingkuh dari Mama." Abimanyu tersenyum remeh. "Dan jelas-jelas Juwita nikahin Papa cuma buat uang yang Papa masih kasih ke orang tuanya."
"You better shut your mouth, Son." Adji menatap tak percaya Abimanyu. "Kamu orang terakhir yang berhak ngomongin soal 'Papa'. Terutama bawa-bawa masa lalu yang Papa udah selesaiin."
Abimanyu sadar bahwa ia mengatakannya cuma karena emosi. Dan yah, karena ia tidak bisa melawan Adji kecuali membawa-bawa masa lalu yang sebenarnya sudah selesai.
Maka, Abimanyu mengatakannya.
"Then you better stay out of my business, Pa." Abimanyu mendekat, tapi hanya untuk melewati Adji dan pergi. "Papa enggak sesuci itu jadi enggak usah nyuruh aku jadi suci."
*
Abimanyu jadi anak super bermasalah 😿
__ADS_1