Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Extra Part Terakhir + Menuju Cerita Abimanyu


__ADS_3

"Mas." Juwita menunjukkan test pack di tangannya. "Positif."


Adji yang tengah asik mengepang rambut Yunia semoat cengo dan seperti tidak mengerti. Berbeda dari Adji, Banyu dan Cetta langsung menengok dari playstation mereka, lalu masing-masing kompak menggeleng.


"Juwita." Banyu memanggilnya sangat serius. "Lo enggak kepikiran nyari suami lain?"


"Heh, bocah!" Juwita mendelik. "Sembarangan ngomong, yah!"


"Ya abisnya lo udah kayak kucing ngelahirin."


"Itu pelecehan yah barusan. Mas, laporin ana'mu ke polisi!"


"Tapi Kak Juwita bukannya udah enggak mau?" Cetta ikut menyahut. "Emangnya badan Kak Juwita enggak pa-pa?"


Haduh, anak kucingnya ini manis sekali. Juwita terkekeh pelan menghampiri sofa itu dan mengacak-acak rambut Cetta. Memang sih Juwita tiap melahirkan selalu menangis tersedu-sedu bilang sudah tidak mau, tapi dua minggu setelah itu juga mentalnya membaik dan bahagia.


"Ibu, Lila mau punya adek lagi?" tanya Lila semangat. "Lila mau adek cowok, Ibu!"


"Nia juga!"


Juwita tertawa lepas. "Doain Ibu yah. Soalnya anak Ibu cewek semua jadi Ibu juga pengen anak cowok."


"Terus lo ngeliat kita berdua apaan? Bencong?" sahut Banyu pura-pura sebal.


"Duh, cahku, kamu kan enggak unyu waktu aku urusin. Tinggal Cetta doang yang unyu-unyu dikit."


Cetta membuang muka malu, tak suka diingatkan tentang masa kecilnya yang menurut dia konyol.

__ADS_1


"Mas, tanggepan kamu mana, nih? Masa dikasih kabar begini diem doang?!" Juwita protes sebab Adji malah diam saja di sana.


"Ngapain kaget, Sayang?" Adji tersenyum santai. "Kan Mas yang bikin."


Banyu langsung membuat suara orang muntah-muntah sedangkan Cetta membuang mukanya geli. Juwita meraih bantal sofa untuk pergi memukul punggung Adji yang malah terkekeh tak berdosa.


"Makasih, yah." Adji merangkul Juwita dan mengusap-usap perutnya. "Sehat-sehat, Sayangnya Mas."


Juwita tersenyum congkak. "Tau enggak kenapa aku enggak protes banyak anak?"


"Ya karena percuma," celetuk Banyu. "Masa mau gugurin? Jadi ya terpaksa."


"Heh, bocah, kenapa dari tadi aku nyium kedengkian dari kamu, hah?" Juwita melempar bantal sofa yang tadi dipukulkan pada Adji kepada Banyu. "Hoooh, aku tau, kamu iri soalnya belom punya istri juga. Kesian anak bujang."


Banyu melotot. "Pacar gue banyak!"


Juwita balas melotot. "Katanya enggak punya!"


Hah, itu tidak benar. Yang paling sering ribut justru Juwita dan Banyu. Atau kadang-kadang Juwita dan Cetta. Bahkan kalau Juwita sedang kumat, dia bisa mengajak Lila berdebat sampai mereka saling ngambek.


"Oke, oke, fine. Terserah lo, Ibu." Banyu menyerah setelah rambutnya dijambak-jambak.


"Tadi aku mau jawab tapi kamu gangguin! Sekarang tanya lagi!" perintah Juwita egois.


Banyu mendengkus tapi daripada rambutnya habis dirontokkan oleh ibu tirinya yang sengklek ini, buru-buru dia bertanya, "Kenapa lo enggak protes punya banyak anak?"


Memang sih itu membingungkan. Soalnya Juwita bahkan tidak KB. Banyu baru tahu itu saat mendengar Juwita mengobrol dengan tetangga yang terkejut mengetahui Juwita punya tiga anak padahal masih muda. Waktu disuruh KB biar 'aman' Juwita malah menolaknya sendiri dan berkata dia menyerahkan KB-nya pada Tuhan saja.

__ADS_1


Kan aneh kalau Juwita benar-benar mau terus melahirkan padahal dari yang Banyu dengar tiap persalinan dia menangis kencang. Belum lagi ketika hamil dia tersiksa.


"Itu karena ...," Juwita mengibaskan rambutnya sombong, "biar nanti duitku banyak."


"Hah?"


"Haduh, Bocah, kalian bocah-bocah nih investasi sebenernya. Entar kalo besar kalian pada kerja, akunya santai-santai di rumah nungguin. Entar nih kalo gede semua, suaminya Lila beliin aku rumah, terus suaminya Nia beliin aku helikopter, terus suaminya Yuni ngajakin aku liburan di Paris. Terus nanti nih kamu sama Cetta dompet berjalan. Aku mau beli apa-apa tinggal bilang 'heh, budak, bayarin! balas budi udah kuurusin!'."


"Halu lo spesifik banget, yah."


"Lila enggak mau nikah!" timpal Lila dengan polosnya. "Mau sama Ibu sama Papa aja selamanya."


"Enggak bisa, Sayang." Juwita menjawabnya lemvur. "Papa udah tua. Enggak bisa selamanya."


Adji menoleh cengo. "Kamu doain aku mati?"


"Eh, Mas, enggak boleh ngomong gitu yah. Aku cuma bilang kamu udah tua, enggak mungkin selamanya. Aku juga, anak-anak juga. Namanya juga manusia. Iya kan, Yuni?"


Yunia mengangguk saja.


"Tapi kan yah namanya ada hitung-hitungan, Mas. Kan Mas yang paling tua di sini jadi kodratnya begitu," tambah Juwita lagi, mengundang tawa puas dari Banyu dan Cetta. "Makanya aku mau banyak anak. Supaya nanti kalo Mas enggak ada aku ada yang jagain, banyak."


Adji mencubit pipi istrinya tapi juga tertawa atas ucapan itu. "Entar kalo Mas enggak ada kamu nikah lagi?"


"Gak!" Banyu dan Cetta kompak bersuara. "Gak bakal! Amit-amit, enggak!"


Juwita mengangkat bahu dengan wajah 'apa boleh buat'.

__ADS_1


*


Author kasih pembukaan dulu sebelum menuju cerita Abimanyu versi tobat dan dewasa yang meniru bapaknya tersayang. Jangan lupa ngikutin yah keseruannya. Besok author akan update 3 bab pertama.


__ADS_2