
Kayaknya orang rumah peka ada masalah yang terjadi, karena waktu malam, semua orang diam. Meja makan hening kecuali oleh celotehan Cetta yang ditanya apakah sudah siap masuk sekolah atau tidak.
Abimanyu tidak keluar kamar. Mungkin memutuskan tidak makan makan, dan Juwita cuma diam-diam menyuruh Banyu nanti bawa buah dan minuman ke kamar, kalau-kalau Abimanyu gengsi keluar.
"Mas Bima ke mana, Bu?" tanya Juwita begitu beranjak membersihkan piring, sementara para pria ke depan TV membicarakan hal yang disukai bapak-bapak.
"Tadi bilang mau ke rumah temennya dulu. Paling besok ke sini lagi."
"Oh."
Mama berdiri di belakang Juwita, menepuk-nepuk bahunya. "Adji lagi marah?" tanya wanita itu pelan, biar Adji tidak dengar.
"Marah kenapa, Ma?"
"Hmmm, jangan bohongin Mama, deh. Itu anak tinggalnya di perut Mama dulu sebelum jadi suamimu, loh."
Juwita mau tak mau meringis. "Ya ada, lah, Ma. Masalahnya Abimanyu, cuma kalo ngomong detilnya aku enggak enak."
Ibu mertua Juwita tinggal di negeri yang bebas, jadi cara berpikirnya pun lebih terbuka. Beliau tidak berusaha ikut campur juga, cuma mengangguk menerima.
Malah kelihatannya Ibu yang lebih khawatir, mengira Juwita bertengkar dengan Adji.
"Enggaklah, Bu. Ngapain berantem-berantem enggak ada faedahnya."
Juwita menarik lembut tangan Ibu dari wastafel.
"Udah, Ibu istirahat, Mama juga. Ini biar aku aja."
"Jangan banyak ngelawan suamimu."
"Iya, Ibu. Enggak berantem ih dibilangin ngeyel banget. Ibu sana istirahat. Sana, sana. Mama juga."
__ADS_1
Juwita menyelesaikan tugas bersih-bersih sendiri, membuatkan minuman buat Ayah, Papa juga Adji, lalu membacakan buku cerita buat Cetta di ruang bermainnya.
Anak itu tidur di sana, dan Juwita biarkan karena sedang merasa tak bisa ke kamar Abimanyu buat memindahkan Cetta.
Ketika keluar, semua orang sudah masuk kamar masing-masing, termasuk Adji juga. Juwita malah membuat cokelat panas di dapur, pergi ke pinggir kolam renang buat merenung.
"Hah." Juwita menghela napas. Mencelupkan kakinya ke kolam renang cuma buat menggigil. "Ketar-ketir aku, Kak, ngurus keluargamu."
Buat Juwita, bicara pada bayangan Melisa itu jadi penguat tersendiri.
"Aku sebenernya harus gimana? Takutnya Abimanyu malah sakit hati, ngira gara-gara aku dia dimarahin, gara-gara aku makanya Mas Adji pilih kasih."
Juwita menghela napas lagi.
"Tapi giliran belain Abimanyu, ya masalah dateng juga dari keluarga Mas Adji."
"...."
"...."
"Pengen kulelepin ke empang lele, heran."
"Gue lebih heran lo ngomong sendiri."
Juwita menoleh terkejut, tapi langsung mencipratkan air ke Banyu yang berjalan mendekat.
"Belom bobo kamu?"
"Bobo banget bahasa lo, najiss." Banyu duduk bersila di samping Juwita. "Lo ngomong sama siapa? Setan piaraan lo?"
"Iya, nih. Namanya Banyu." Juwita tertawa kecil.
__ADS_1
Walau tahu tidak lucu, ya setidaknya menghibur diri sendiri.
"Aku heran aja kok gini banget aku."
"Apanya?"
"Ya maksud aku, kayak, apa yah?" Juwita malah bingung sendiri. "Ya bete aja sama keluarga di sana. Kok malah disampein padahal udah selesai. Abangmu juga jadi bete, jadi marah, padahal udah mau baik anaknya."
Banyu malah menatap Juwita heran. "Lo enggak marah sama Abang?"
"Buat?"
"Ya dia salah."
"Marah tuh perasaan," jawab Juwita apa adanya, "ngamuk tuh tindakan. Aku marah, enggak ngamuk. Karena ngamuk enggak bikin Abimanyu bisa berubah."
"Iya, sih."
"Tapi aku agak takut, sih."
"Soal?"
Keluarganya Adji.
Mereka nampaknya tipe keluarga yang lebih suka menyerang kubu yang mereka anggap tidak sesuai dengan mereka.
Dan sialnya, Juwita rasa Ajeng sudah menyiapkan amunisi buat keluarganya Adji itu.
Biar mereka menyerang Juwita dari sisi lain lagi.
*
__ADS_1