
Dari balik pohon besar, Rahwana bersembunyi sambil melihat sosok Nabila tengah sibuk menimbah air. Sudah dua hari berlalu sejak dia terlihat murung, masih memikirkan sarinya yang dirusak oleh Elis.
Kemarin Rahwana menawarkan sari baru padanya, sari pemberian Zayn setelah Rahwana meminta, tapi meskipun Rahwana bilang itu dari Zayn, Bisu tetap saja diam.
Mungkin dia tidak percaya. Atau dia takut menerima pemberian Rahwana lagi.
"Bisu," panggil Rahwana pelan. "Bisu, kamu masih marah?"
Nabila tetap saja bekerja, tidak menghiraukan Rahwana. Setelah embernya penuh, dengan tangan-tangan kecilnya Nabila mengangkat air itu, menghilang ke bagian belakang rumah sebelum datang lagi untuk mengisi embernya.
Dia harus melakukan itu sampai semua gentong di dalam penuh.
"Bisu."
Sebuah tangan tiba-tiba mendengar di puncak kepala Rahwana, membuatnya tersentak sebelum jadi kesal karena itu Zayn.
"Om." Rahwana tidak bisa melupakan bagaimana dengan santainya dia minta tangan Bisu dipotong. Walau tidak jadi, tetap saja Rahwana kesal.
"Rahwana, kamu ternyata enggak jago bujukun perempuan yah?"
"Jago!" Jiwa kelakian Rahwana langsung sinis mendengar ia disebut tidak jago, sampai-sampai Rahwana meninggikan suaranya. "Aku jago! Cuma enggak mau aja!"
Suara Rahwana jelas menarik perhatian Nabila tanpa sadar. Perempuan itu akhirnya menoleh, semringah melihat Zayn.
Pluk!
Suara ember jatuh langsung terdengar, disusul langkah buru-buru Nabila menghampiri Zayn. Dia terlihat sangat gembira seperti anak kecil yang menyambut perayaan pesta di desa.
Rahwana bahkan tidak bisa mencegah ketika Zayn memeluk Nabila yang lompat ke pelukannya.
"Halo, Cantik." Zayn mengusap-usap kepalanya. "Kamu katanya dimarahin lagi, hm? Tante Jahat jahatin kamu lagi?"
Nabila langsung terlihat ingin menangis. Dia mengingat sari pemberian Rahwana yang masih dipikir sari pemberian Zayn. Andai Nabila bisa bicara, ia mau minta maaf sudah membuat sari pemberian Zayn jadi jelek.
Tapi Nabila tidak bisa bersuara. Tangannya cuma bisa mencengkram pakaian Zayn, lalu tetesan air matanya pun jatuh.
"Jangan nangis," ucap Zayn sambil menyeka air matanya. "Loh, kenapa malah tambah nangis? Om enggak suka liat kamu nangis, Sayang."
Rahwana memicing. Tapi tak bisa mengingatkan Bisu soal apa pun karena sudah berjanji. Jika janjinya dilanggar, Bisu akan benar-benar terluka.
Rahwana tidak mau Bisu-nya terluka.
"Atau gini aja," Zayn melirik Rahwana, "gimana kalau kita pergi ke pasar bertiga? Beliin kamu baju baru juga."
Nabila langsung berbinar dan Rahwana yang melihat itu bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Bisu terlihat sangat mau pergi. Saat dia berbinar-binar, seolah dia tidak pernah bersedih, takut dan terluka, Nabila terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
Jika besar nanti, Rahwana pasti akan membuat dia tersenyum lebih sering.
"Tapi, Om, caranya gimana?" tanya Rahwana seraya mendongak pada Zayn. "Kalo Mama marahin Bisu gimana?"
__ADS_1
"Tenang aja. Mamamu enggak akan marahin orang dewasa." Zayn mengusap-usap Puncak kepala Nabila. Tersenyum manis padanya. "Om bantu selesaiin airnya jadi jangan nangis lagi yah, Cantik?"
Nabila mengangguk. Tersenyum sampai pipinya membulat lucu.
Di neraka ini, Zayn adalah satu-satunya yang mampu menbuat Nabila merasa baik-baik saja.
"Aku juga! Aku juga mau bantuin Bisu!" Rahwana seketika semangat. Ia selalu mau membantu Bisu saat dia kesusahan tapi Mama melarangnya.
Kalau ada Zayn juga, Mama pasti tidak akan marah atau menegur Rahwana.
*
Berkat Zayn, Nabila dan Rahwana sudah jelas dibolehkan pergi. Walaupun memang Zayn tidak izin di depan mereka, jadi terkesan mereka pergi diam-diam tanpa diketahui sang nenek sihir.
Rona wajah Nabila sudah terlihat bahagia saat mereka berjalan menuju pasar. Zayn menyuruh mereka menutup wajah, dengan alasan agar tak terlihat oleh Elis ataupun kenalanan Elis, nemun tentu alasan utamanya adalah karena Zayn menghindari kemungkinan Nabila diketahui.
"Bisu, kamu tau enggak? Di pasar banyak yang jualan permen enak loh. Nanti kita beli buat dibawa pulang, yah?"
Nabila mengangguk semangat. Lalu menoleh pada Zayn seperti bertanya apakah boleh hal itu dilakukan.
Tentu saja, Om Baik Hati harus tersenyum.
"Nanti kasih Om juga yah?" Zayn tersenyum mengacak-acak rambut Nabila.
Sungguh lucu melihat anak ini tampak sudah terbiasa dengan nerakanya dan sedikitpun tidak terpikir bagaimana orang tuanya sekarang menggila.
*
"Kalian dipermainkan ternyata." Rose tertawa kecil membaca hasil lab yang menunjukkan darah di kotak paket itu, potongan jari mengerikan itu bukanlah jari Nabila.
"Dasar licik," cerca Rose walau tidak membenci idenya.
Dia mengincar tempat yang tepat. Mau palsu atau tidak, ibunya Nabila sekarang mengalami guncangan mental yang hebat sementara Abimanyu secara jelas hampir menyerang Rose jika tidak ditahan oleh banyak orang.
Jika salah ditangani sedikit saja, orang ini juga akan berhasil memecah hubungan Rose dan keluarga Abimanyu. Andai perbuatan Abimanyu sampai ke telinga Dion atau Damar, sudah pasti kedua pria itu akan menuntut Abimanyu sekeluarga atas tindakan kekerasan terhadap perdana menteri.
"Tapi dengan begini seharusnya sudah cukup jelas," lanjut Rose.
Olivia melirik. "Aaa. Penculiknya, yang lo bilang kemungkinan Zayn, itu mungkin bakal nunjukin Nabila nanti."
Di saat itu adalah kesempatan paling besar mereka merebut anak itu kembali, namun ... kalau dia benar-benar berniat menampakkan Nabila secara sengaja, maka dia pasti akan menyiksanya sangat keras dulu.
"Foto ini asli," ucap Rose memegangi foto Nabila yang meringkuk sehabis dipukuli. "Dia tersiksa, bahkan kalau tangannya masih utuh."
Dengan kata lain kalau menunggu waktu Nabila dimunculkan baru diselamatkan, sama saja menunggu Nabila disiksa sangat parah.
Setelah menunggu kesempatan bertahun-tahun, nampaknya si Zayn menguasai semua langkah ini.
Karena jujur saja Rose sedikit buntu sekarang.
__ADS_1
*
Sebenarnya kalau dibandingkan mal tempat Nabila biasa pergi bersama orang tuanya, sudah jelas pasar di desa kecil gersang begini tidak ada apa-apanya. Namun mungkin Nabila sudah lupa tentang hidup enak itu. Dia hanya tampak gembira saat mereka sampai di tempat orang ramai berkumpul, dan berbagai orang terlihat memenuhi lokasi pasar itu.
"Aku sering ke sana beli mainan," kata Rahwana, menunjuk ruko mainan yang dia ingat. "Bisu, ayok ke sana, kita beli mainan buat kamu."
Nabila ternyata menggeleng, justru memegang tangan Zayn lebih kuat. Dia mendongak, menatap Zayn di antara sari usang yang dibuat sampai menutup kepalanya.
"Kamu mau beli baju dulu?" Zayn entah kenapa bisa mengerti.
Dan Nabila mengangguk, membuat Rahwana cemberut.
"Oke, kalo kamu maunya itu." Zayn menggandeng tangan Nabila berjalan hingga Rahwana mau tak mau mengekori.
Dari belakang Rahwana kesal melihat Nabila malah sangat manja dengan Zayn padahal Rahwana seharusnya tempat dia bersandar.
Zayn hanya pura-pura baik saja.
Ketika di toko baju, Nabila terpaku melihat banyaknya pakaian-pakaian cantik yang bahkan lebih bagus dari pemberian Rahwana kemarin. Gadis kecil itu kembali menoleh pada Zayn dan pria itu mengangguk.
"Sana pilih."
Nabila diluar dugaan menggeleng. Dia menarik-narik tangan Zayn, lalu menunjuk baju-baju tersebut.
"Bisu, buruan pilih. Om Zayn udah bolehin." Rahwana mau menarik lengan Nabila, menemaninya memilih kalau dia malu. Tapi Nabila menepis Rahwana, tetap menarik-narik Zayn dan menunjuk bajunya.
Butuh beberapa waktu untuk Zayn sadar maksud gadis kecil ini.
"Kamu ... mau Om pilihin?"
Nabila mengangguk berulang kali.
"Bisu, yang mau pake kamu, kenapa malah Om Zayn yang milih?" Rahwana berusaha membujuk, mau Bisu ditemani olehnya saja, tapi Nabila terus menggeleng, meminta Zayn saja.
Zayn merasa ada sesuatu yang tidak beres. Walau pada akhirnya ia mengiyakan agar Nabila berhenti menarik-narik.
"Yang itu," kata Zayn, menunjuk sebuah sari berwarna orange.
Itu sari yang jelek, di mata Zayn. Sebenarnya tak tahu kenapa ia tak mau memilihkan sari yang bagus walau seharusnya ia memilih warna lain.
Tapi ketika pemilik toko memberikan sarinya pada Nabila, tanpa ragu dia memeluk baju itu, tersenyum hingga pipinya memerah manis.
Zayn semakin merasa tidak beres ketika napasnya mendadak berat, mengetahui bahwa gadis ini sudah bergantung padanya sesuai rencana.
Sesuai rencana, harusnya.
Masa gue baper sendiri, pikir Zayn geli pada dirinya. Omong kosong gue baper sama anaknya Abimanyu.
*
__ADS_1