
Duduk di pinggiran private pool malam-malam memang selalu jadi kebiasaan Juwita bahkan sebelum punya anak. Dan sepertinya satu rumah sudah tahu bahwa kebiasaan Juwita itu dilakukan jika dia punya masalah.
Yang paling tahu adalah Banyu ... dan Abimanyu.
Tiap malam jika mereka melihat Juwita duduk di spot kesayangannya itu, mereka akan datang bersama segelas cokelat, diberi taburan marshmallow lalu mendengar bahkan kalau itu cuma sesederhana Juwita lagi bete dan capek menjadi ibu.
"Here." Seperti sekarang. Banyu menyerahkan mug cokelat bertuliskan 'Mama Juwi' dan duduk di sampingnya. "Gue tau masalah lo apa tapi biar gue tanya lagi—lo kenapa, Juwita?"
Juwita menatap kakinya yang terendam dalam air kolam. Maunya Juwita berhenti merasakan ini tapi memangnya perasaan bisa dikontrol?
"Aku selalu ngerasa keluarga kita tuh sempurna. Segala sisi." Juwita menarik napas dari mulutnya karena mendadak lupa cara bernapas dengan benar. "Kerjaan Papa alhamdulillah, lancar dan sampe sekarang kita enggak pernah ngerasain yang namanya nahan laper karena harus hemat."
Banyu mengulurkan tangan, menggenggam jemari Juwita yang tak pernah berhenti Banyu genggam sejak menerimanya sebagai pengganti Mama. Banyu selalu menganggap Juwita sebagai saudara Mama bahkan Mama itu sendiri.
__ADS_1
"Papamu enggak sesempurna itu, jelas. Kadang-kadang aku sama Mas Adji juga suka berantem. Tapi, aku tuh enggak pernah ngerasa 'capek' sama keluarga kita. Karena aku punya kamu sama Abi."
Mereka berdua yang membuat Juwita merasa lengkap. Harus ia akui, itu mereka berdua.
Mendengar semua keluhan Juwita saat Adji tidak bisa, memberi Juwita solusi saat Adji tak sempat ada karena kesibukan kerja, dan menjadi sesuatu yang membentengi Juwita dari rasa sepi.
Juwita tak pernah merasa kesepian. Bahkan sekalipun Juwita sekarang tak punya teman kecuali sekadar kenalan ibu-ibu di sekolah Cetta.
"Aku ngerti enggak mungkin ada yang sempurna tapi," Juwita menatap Banyu dengan seluruh rasa muak yang ia tahan, "kenapa sih harus begini? Kenapa harus ... harus itu?"
Kenapa bukan pihak keluarga lagi yang mungkin meneror Juwita? Atau mungkin kemunculan Ajeng kedua? Kenapa bukan Adji mungkin bosan sejenak dalam hubungan dan mungkin dia ingin rehat dari hubungan suami istri?
Setidaknya itu semua ada solusinya walau mungkin menyakitkan.
__ADS_1
"Kenapa ...." Juwita tak sanggup mengatakannya karena ia bahkan tak tahu lagi harus bagaimana.
Juwita menggeleng, lalu menoleh pada Banyu.
"Aku enggak setuju sama cara begini. Ini kayak cuma nganggep seolah-olah enggak ada masalah dan ...."
"Dan lo enggak terima Abang bukan Abang yang selama ini lo mau?" tebak Banyu, tepat sasaran.
"Juwita, gue masih anak kecil kalo dibandingin elo sama Papa. But I know thing." Banyu menggenggam erat tangan Juwita. "Gue enggak pernah pengen Mama pergi even sampe sekarang, tapi kalo Mama enggak pergi, lo enggak akan pernah dateng ke sini."
Mungkin itu kejam tapi setidaknya Banyu merasakan itu.
Karena itulah Banyu menguatkan tekadnya sekalipun tahu Juwita sama sekali tidak ingin. Juwita tidak mau kehilangan siapa-siapa, terutama Abimanyu. Tapi sebagaimana semesta memaksa Banyu terima kepergian Mama, Banyu juga akan terima kalau ia harus kehilangan Abimanyu.
__ADS_1
Banyu tidak berniat menghentikannya sekalipun ia tahu Juwita menangis untuk itu.
*