Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Masih Idup Kalian?


__ADS_3

Setelah menahannya beberapa hari, Sakura menceritakan semuanya pada Rini, sang sahabat. Air mata dan kemarahan tampak jelas mewarnai wajah gadis cantik itu, terlebih saat ingat bahwa Abimanyu belum pulang sama sekali.


"Menurut gue lo mesti ngelawan," kata Rini yang ikut emosi mendengarnya. "Nyokap tirinya Abimanyu tuh masih muda. Beda empat taunan doang kan sama Abi? Besar banget kemungkinan kalo dia yang mulai semuanya."


"Tapi Abimanyu bilang itu salah dia," isak Sakura.


"Oh, come on. Abimanyu jelas udah tergila-gila. Iyuh banget tau enggak dia suka sama nyokapnya sendiri, even itu nyokap tiri. Besides, itu justru masuk akal kalo si Juwita itu godain Abimanyu. Abimanyu lebih muda dari bokapnya, jelas lebih kuat urusan ranjang. Bokapnya Abimanyu mungkin udah enggak sanggup makanya si Juwita diem-diem minta dipuasin sama anaknya."


Sakura menutup mulutnya yang mendadak mau muntah.


"Fakta, kan? Abimanyu lebih ganteng, lebih muda, lebih segala-galanya. Apalagi dia tuh anak pertama. Entar kalo bokapnya koit, ya otomatis semuanya punya dia, kan? Taktik dasar cewek kali. Pilih yang paling banyak duitnya dan jangka panjang."


Sakura semakin tersedu-sedu. "Gue tuh liat mereka pelukan sambil gendong adeknya tau enggak. Sampe gue tuh curiga itu anak Abimanyu."


"Bisa jadi. Siapa yang tau mereka ngapain diem-diem?" Rini mendengkus jengkel. "Tapi lo jelas enggak boleh kalah!"


Ya, Sakura tidak berniat merugi. Kenapa dirinya harus terpuruk padahal ia yang korban di sini? Bercerai dari Abimanyu hanya membuatnya malu, jadi seseorang yang harus disingkirkan itu Juwita, ibu tiri menjijikan itu.


"Sakura, lo bukan cewek bego. Even lo ketipu sama Abimanyu, enggak berarti selamanya lo mesti jadi bego. Just do your best."


Tangisan Sakura mulai mereda, mengangguk dalam dekapan sahabatnya. "Gue bakal pastiin bongkar semuanya."


Rini mengelus-elus kepala sahabatnya itu. "Yah," katanya lembut. "Lo enggak boleh biarin siapa pun nginjek-injek lo. Lagian, selalu kata orang, mertua tuh antagonis di kehidupan pernikahan."


Benar. Antagonisnya adalah Juwita.


*


"Mas, I hate you." Juwita mengerang frustrasi saat tubuhnya berbaring lemas di ranjang. "Aaaaaaaaarrrrrrgggggg, please tolong aku, siapa pun yang bisa!"


Adji tergelak di depan cermin, memasang kimononya lepas mandi di kamar mandi.

__ADS_1


"Dasar aneh," ejek Adji. "Pas main 'Mas, mau lagi' pas selesai 'enggak mau lagi'. Yang jujur dong, Sayang."


"Heh, maniak!" Juwita membalas murka sampai rasanya tanduk di kepalanya langsung keluar. "Ini bukan masalah enak enggak enak, yah! Iya enak!"


"Iya, Sayang, enak."


"TAPI CAPEK!" Juwita melempar bantal. "CAPEK TAU ENGGAK! CAPEK!"


Adji berbalik, berkacak pinggang. "Tapi enak?" godanya.


"CAPEK!"


"Iya, capek tapi enak, kan?"


"ENAK TAPI CAPEK! KEBALIK!" Juwita kembali menjatuhkan diri, mengubur wajahnya di bantal dan mengerang panjang. "Aku males," gumamnya. "Males. Males banget. Males."


Adji geleng-geleng. Kadang, Juwita bisa bertingkah seperti anak kecil manja alih-alih terlihat seperti ibu tiga anak. Tapi Adji menikmati ketika istrinya bertingkah begitu. Itu membuat Adji mau memanjakannya.


Dan itu menandakan Juwita sudah tidak bersedih.


"Males," jawab Juwita.


"Katanya mau jemput anak-anak."


Juwita sudah terlanjur malas gara-gara Adji. Akhirnya Juwita mengambil ponselnya yang tak tersentuh berhari-hari, menghubungi anak-anaknya di sana.


"IBU!!" teriak Nia dan Lila bersamaan, kaget melihat Juwita di layar.


"Yo, Bocah-Bocah." Juwita menyapa asal. Sebenarnya cuma untuk menyembunyikan canggung atas pertengkaran memalukan yang telah ia perlihatkan pada mereka. "Masih idup semua kalian?"


"Masih!" jawab Lila polos.

__ADS_1


"Nia masih idup, Ibu." Adiknya ikut menimpali.


"Ibu!" Yunia merebut ponsel di tangan kakaknya.


"Idup juga kamu, Nak?"


"Dup!"


Juwita tertawa keras. Meresapi rindunya terhadap mereka. Apalagi waktu mereka bertengkar, ingin menguasai handphone satu sama lain dan tidak mau mengalah. Yunia yang tadinya memegang langsung menangis kencang karena Lila merebut ponselnya, disusul tangisan Nia karena Lila tidak mau berbagi.


Sebagai ibu mereka, Juwita cuma menonton.


Percayalah, mencegah pertengkaran anak-anak adalah hal bodoh karena percuma. Daripada stres sendiri, mending nikmati. Kecuali jika mereka sudah saling menyakiti, baru Juwita bicara. Tapi mereka diawasi oleh Banyu dan Bima di sana, maka berarti baik-baik saja.


Sepuluh menit kemudian, baru semuanya duduk tenang, menatap handphone yang diletakkan jauh dari semua orang.


"Udah berantemnya?" tanya Juwita.


"Udah!" jawab mereka kompak, kecuali Yunia yang ngambek.


"Bagos." Juwita mengacungkan jempol, membuat mereka tertawa.


Adji di belakang Juwita ikut tertawa meihat cara Juwita merespons anak-anak.


"Nah, sekarang, bocah-bocah, Ibu mau bikin pengumuman."


"NO!" teriak Lila seketika.


"No what?" balas Juwita heran.


"YOU CAN'T LEAVE US LIKE THIS, MOMMY!" jeritnya histeris. [IBU ENGGAK BOLEH NINGGALIN KITA!]

__ADS_1


*


Bantu author ngembangin karya dengan dukungan kalian, yah ☺


__ADS_2