Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
25. Curhatan Adji


__ADS_3

Juwita sama sekali tidak meleset. Ketika di kamar, tidak seperti kemarin, ia dan Adji hanya berbaring saling membelakangi tanpa percakapan.


Nyaris tak pernah sebenarnya mereka bersentuhan, kecuali hanya sekadar sentuhan tanpa makna.


Tapi yang tadi berbeda. Karena jelas-jelas Juwita memeluk dia, mengeluarkan suara yang agak terlalu manja.


Duh, mending ia menemani Abimanyu main voli sampai subuh daripada berada di sini.


"Kamu enggak tidur?"


Juwita pura-pura tidur meski nampaknya Adji tahu ia tidak.


Tempat tidur bergerak waktu Adji ikut bergerak. Juwita meneguk ludah kasar, sebelum menghela napas karena Adji turun dari kasur.


Oke, Juwita tahu tidak seharusnya ia tegang. Dari awal malah ia bersiap melayani Adji dan Adji yang sebenarnya belum siap.


Namun Juwita sekarang agak ... entahlah, intinya merasa tidak mampu.


Maaf. Mungkin besok. Ya, pasti besok.


"Kamu enggak perlu tegang banget. Saya enggak bakal deketin kamu, sekarang."


Juwita spontan menoleh. Agak terkejut melihat Adji datang dengan bingkai foto istrinya.

__ADS_1


Dia menenangkan diri dengan itu?


"Yah, kamu juga bukan anak-anak jadi saya mau jujur aja. Saya emang agak kepancing." Adji duduk di tempat tidur lagi, menatap foto Melisa lekat-lekat. "Kamu mau denger cerita saya sama Melisa?"


Mungkin itu dapat meredam canggung. Juwita mengangguk, duduk diam seperti Adji.


"Melisa dulu hamil duluan. Sebelum kami menikah."


Wow. Pembukaan yang luar biasa tidak diduga.


Walau telinga Juwita sudah sering mendengar sesuatu tentang hamil duluan, tidak ia sangka Adji adalah salah satu pelaku. Kayak, dia terlihat seperti pria yang dari lahir sudah lurus.


"Umur saya waktu itu dua puluhan, Melisa enam belas. Masih awal SMA. Kami kenalan lewat temen Melisa, tau-tau pacaran sampai kelewat batas."


"Sama aja kayak orang lain, karena hamil, kami buru-buru nikah."


Cerita yang sederhana, menepikan soal hamil duluannya. Kalau dia sampai bertahan sejauh ini dan dipisahkan oleh maut, berarti mereka saling cinta, kan?


"Tahun-tahun awal pernikahan saya sama Melisa mungkin bisa dibilang tahun terburuk."


"Kenapa?" Juwita spontan bertanya.


Adji menggeleng, tapi bukan sebagai jawaban pada Juwita, namun seperti pada diri sendiri.

__ADS_1


"Dibilang umur belum cukup, mungkin alesan aja? Dibilang bekal kurang, mungkin alesan juga? Tapi kalau diliat dari sudut pandang saya sekarang, dulu itu kami belajar bahwa dalam diri setiap orang ada yang namanya bosen."


Hmmm, saling bosan, kah? Juwita memikirkan itu juga di awal. Setiap hari bersama, setiap hari bersapa, bagaimana mungkin tidak bosan?


"Ada tahun di mana saya ngerasa Melisa udah enggak suka sama saya."


Adji tersenyum menatap foto istrinya, sebelum menepikan itu ke nakas, yang berarti sudah merasa redam.


"Tahun keempat atau ketiga, saya lupa. Tapi saya ngerasa 'wah, kayaknya udah sampe sini'. Saya ngerasa, mungkin salah cuma karena hamil kami nikah. Jatohnya terpaksa. Karena kalau Melisa enggak hamil, saya enggak kepikiran sama sekali buat nikah waktu itu."


Juwita mengerutkan bibir. "Terus? Jatuh talak?"


"Pernah. Dua kali. Di tahun itu. Waktu pertama dari saya pribadi. Saya ngerasa, udahlah, pisah aja. Tapi setelah itu baik lagi. Cuma ...."


Pria itu mengerutkan wajahnya seolah berat dia bicara.


"Saya selingkuh."


Juwita tercengang. Pria ini? Pria lurus ini? Serius?


*


Thank you buat kalian yang udah baca dan dukung karya ini. selalu inget tinggalin like sebagai bentuk dukungan buat perkembangan karya dan author. dan kolom komentar adalah tempat bebas kalian menilai. 🙂

__ADS_1


__ADS_2