Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
part 9


__ADS_3

Rahwana membawa Bisu dengan senang hati karena ia adalah penyelamat, tapi waktu Bisu melepaskan tangannya seperti dia tidak pernah butuh lalu berlari ke pelukan Zayn seolah itu yang dia mau, Rahwana berdecak kesal.


Bisa-bisanya!


Bukankah harusnya Bisu berterima kasih dulu pada Rahwana yang sudah membawanya?


"Kenapa kamu peluknya Om Zayn? Kan aku yang bawa kamu!" omel Rahwana.


Tapi Nabila tidak mendengar, menenggelamkan wajahnya di dada Zayn. Hal itu mengundang tawa dari Zayn.


"Rahwana, laki-laki enggak boleh gampang cemburuan," ucapnya menasehati.


Rahwana mendengkus. Kenapa jadi laki-laki sangat sulit? Harus bwgini, harus begitu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu!


"Kamu apa kabar, Sayang?" Zayn mengusap-usap rambut Nabila yang kini mulai memanjang lagi walau tidak beraturan. "Kangen Om yah?"


Nabila mengangguk. Mendongak dengan mata berkaca-kaca. Ia selalu merindukan Om Baik Hati setiap kali dia pergi. Nabila tak pernah bosan menunggunya setiap hari, berharap dia segera muncul.


"Maaf, yah. Om banyak kerjaan jadi susah sering-sering dateng."


Nabila menggeleng. Isyarat bahwa itu tidak apa-apa asal Om Baik Hati menyempatkan diri datang.


"Kamu dikurung di kamar sama Mamanya Rahwana?"


Nabila mengangguk.


"Kalo gitu gimanapun jangan keluar-keluar yah. Janji sama Om kamu duduk di kamar sampe acara selesai."


Nabila mengangguk lagi.


"Bisu kenapa sih enggak mau ngomong?" timpal Rahwana. "Bisu dulu enggak bisu. Kenapa enggak mau ngomong?"


Zayn mengusap-usap puncak kepala Nabila. "Enggak masalah. Yang penting kamu sehat."


Senyum lebar Nabila berkembang mengekspresikan kebahagiaannya. Terlebih setelah itu Zayn mengeluarkan sejumlah makanan dan mengajak mereka berdua untuk makan bersama.


Zayn sedikitpun tidak marah saat Nabila duduk di pangkuannya, tidak mau turun sekalipun Rahwana menyuruhnya. Bahkan setelah makan, Nabila tertidur di pelukan Zayn, mencengkram pakaiannya seolah tak mau Zayn pergi dari sisinya.


Zayn mengantar gadis kecil itu sampai ke kamarnya. Memasang selimut ke tubuhnya dan menyelipkan sebatang permen untuk dia makan esok hari.


Sebelum Zayn kembali ke tempat Rin berada.


"Makin lama gue sama lo, makin gue merinding," komentar Rin.


Zayn tergelak. "Lo tau enggak sih kapan waktunya hero muncul?"


"Pas ada bahaya?"


Pria itu semakin tertawa. "Bukan. Waktunya hero muncul tuh pas lo udah babak belur."

__ADS_1


Setelah penjahat menyiksa seseorang habis-habisan dan mereka diambang kehancuran, barulah saat itu superhero muncul. Superhero tidak disebut superhero ketika dia muncul di awal masalah, apalagi menyelamatkan sebelum sesuatu hancur. Karena ... seseorang belum putus asa.


Kemunculan superhero saat semua orang sudah dikalahkan, saat harapan sudah hancur dan pikiran sudah berkata tidak ada lagi kesempatan selamat—kemunculan itu akan terkenang.


Itu adalah aturan klasik dari superhero di mana pun.


"Bocahnya Abimanyu udah putus asa. Dia babak belur sama nenek sihir. Mau bapaknya yang muncul, atau penjahat yang pura-pura baik, selama dia ngerasa superhero udah muncul, dia udah ngerasa diselametin. Gue superhero. Hal yang bakal selamanya dia kenang."


Rin mendengkus. "Terus sekarang gimana? Kita masih harus nunggu buat kepalanya Rose?"


"Lo tuh mau kepala Perdana Menteri. Lo kira bisa ajaib lo kirim orang terus SURPRISE kepalanya dateng ke elo? Nyulik anak ajudannya aja butuh tujuh tahun buat nunggu."


Zayn tersenyum lebar memandangi rembulan di atas sana.


"Bilang sama Bos, gue bakal jamin Abimanyu sujud ke tanah asal Bos mau sabar nungguin."


*


Abimanyu mendorong pintu kamar, menemukan gelapnya ruangan itu dari cahaya selain cahaya rembulan di langit sana. Rara, istrinya, menjadi semakin kurus seiring waktu. Keberadaan Nabila yang belum bisa dilacak adalah alasan utamanya.


"Ranaya."


"Bila mana?" bisik Rara parau. "Kamu udah jemput Bila, kan?"


"...."


"Udah berapa bulan?" Rara mendadak berpaling, menatap Abimanyu dengan segenap frustasi di wajahnya. "UDAH BERAPA BULAN KALIAN NYARI?!"


"Olivia pasti enggak mau nyariin, kan? Olivia pasti sengaja enggak mau nyari karena dia marah! Enggak mungkin belum ketemu! Olivia cuma sengaja biar aku nyesel!"


Abimanyu berusaha tetap mengunci mulut.


Pikiran Rara sekarang sedang kacau. Bahkan kalau Olivia tampak sangat ingin berkata 'rasain karma lo!' pada mereka, wanita itu tidak akan pernah sengaja menyiksa Nabila.


Rose adalah perdana menteri negara jadi tentu saja dia superpower. Dia hebat, genius, bisa melakukan banyak hal. Namun ... Rose bukan Tuhan.


Bukan siapa pun selain manusia yang kebetulan punya kuasa.


Dunia ini terlalu luas untuk Rose ketahui segalanya. Karena itu sekalipun mereka semua berusaha keras mencari, jika Tuhan belum berkenan membantu pencarian ini, hasil yang Rara inginkan tidak akan terlihat.


"Bi, plis." Rara merangkuk ke ujung tempat tidur, mencengkram pakaian Abimanyu. "Aku mohon. Aku mohon sama kalian. Balikin anak aku. Balikin Bila, Abimanyu!"


"...."


"Aku enggak bakal minta kamu pulang lagi. Kalo kamu mau pergi selamanya pun terserah kamu. Tapi balikin Bila. Balikin anak aku. Cuma dia, hiks, cuma dia satu-satunya yang enggak boleh kamu ambil!"


Abimanyu menutup wajahnya ditemani rintihan istrinya. Ia berusaha tidak ikut menangis walaupun sekarang jantungnya serasa ditusuk ribuan pisau.


Bukan cuma Rara yang menganggap Nabila harta paling berharganya. Bukan cuma Rara yang menganggap Nabila belahan jiwanya.

__ADS_1


Anak itu, Abimanyu rela menyerahkan hidupnya hanya demi anak itu. Ia rela membunuh siapa saja demi anak itu.


*


"Ini semakin menarik." Rose menopang dagunya memandangi laporan pencarian Nabila. "Aku mulai merasakan sesuatu yang berbahaya di leherku."


Olivia melirik Rose seketika. "Lo pikir Abimanyu bakal ninggalin lo?"


"Entahlah. Mana kutahu hati manusia. Kalau dia berkhianat, akan kubunuh semua keluarganya di depan istana negara dan membuat seluruh warga melempari mereka dengan batu." Rose tertawa. "Tapi ... pasti sudah terbersit di benak Abimanyu."


Dia sudah terlihat putus asa.


Beberapa kali dia melirik Rose untuk sebuah alasan yang hanya dimengerti oleh Abimanyu.


Pasti dia berpikir begini : kalau dia membunuh Rose dan menyerahkan mayatnya pada Faksi Anti-Mahardika, dia akan tahu di mana anaknya.


Tapi untuk sekarang pasti hanya pikiran saja. Karena kalau dia benar-benar melakukannya, Abimanyu akan melihat mayat istrinya kering dari darah.


Itu adalah risiko menjadi bagian terdalam dari sebuah negara.


"Tentu saja aku tidak akan membiarkan itu. Jika aku membantu Abimanyu mendapatkan anaknya, kesetiaan dia padaku akan semakin bertambah." Rose menautkan tangan di bawah dagunya. "Tapi ... bagaimana jika anak itu sudah mati?"


Itu adalah hal yang paling mereka takutkan.


"Omong-omong bagaimana dengan Kisa? Banyu sudah berhasil membujuknya?"


Olivia menghela napasnya lelah. "Belum. Tapi dari semua orang, kenapa sih harus Kisa? Emangnya dia beneran bisa bantuin kita? Menurut gue dia enggak tau apa-apa."


Rose tertawa. "Memang sulit berhadapan dengan orang bodoh."


"Orang bodoh mana yang diijinin duduk di ruang kerja lo?!" protes Olivia. Walaupun percuma karena Rose tidak akan pernah berhenti menyebut mereka bodoh selama mereka tidak sepintar Rose.


"Bodoh adalah sebutan paling tepat untuk kalian. Karena jika tidak, seharusnya kalian sudah mengerti."


Olivia menahan dirinya tidak menggetok kepala Rose. Karena bisa-bisa ia dianggap melakukan kejahatan terhadap Perdana Menteri.


"Apa boleh buat kalau otakmu menang sekecil itu." Rose menghela napas kasihan. "Siapa nama lengkap Juwita?"


"Hah?"


"Jawab saja."


"Kalo enggak salah ... Juwita Padmavati."


"Dari nama lalu karakteristik wajahnya, kemungkinan dia punya darah India." Rose tersenyum. "Kisa punya wajah yang mirip dengan Juwita. Untuk membuat wajah seseorang bisa semirip itu, dibutuhkan karakteristik yang serupa untuk hasil memuaskan. Walaupun hanya sebatas teori, kemungkinan Kisa juga berdarah India."


"Terus, hubungannya sama Nabila?"


"Dari tujuh negara yang menurutku paling memungkinkan, India adalah salah satunya."

__ADS_1


Rose memejam. "Sekarang sudah mengerti kan, Bodoh?"


*


__ADS_2