Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
8. Lomba Lari


__ADS_3

Juwita selalu bangun pagi untuk olahraga. Ia selalu menjaga kondisi tubuhnya prima agar tidak gampang sakit sampai tua, sebab pikirannya selalu tentang menjaga Ayah dan Ibu.


Adji masih tidur waktu Juwita bangun. Turun dengan pakaian olahraga, Juwita pergi keluar untuk lari. Ia memasang earphone di telinganya, mendengarkan musik sambil memutari kompleks.


Yang tidak disangka, Juwita bertemu anak tirinya.


"Loh, loh, loh." Juwita langsung melepaskan earphone dari telinganya. "Ada bocah manisku ternyata. Lagi lari buat menang yah, Nak?"


Abimanyu menatap tajam. "Situ sendiri? Enggak istirahat habis ngangkang?"


Wah-wah, Juwita dari kemarin berpikir tapi anak-anaknya Adji sungguh punya pergaulan jelek. Omongan mereka begitu terbuka padahal sedang bicara soal hubungan seksual ayahnya sendiri.


Ibu mereka pasti kesulitan menangani kenakalan mereka.


Balas apa, yah?


Juwita berjalan mendekat, membungkuk menatapnya dari bawah tapi seolah mengejek dari atas.


"Yang enak-enak enggak bikin capek. Oh, sori, yah, kamu kan enggak tau. Belum punya, yah? Duh, maaf, yah."


Sebelum dia mengamuk, Juwita sudah berlari, menertawakan dia.


Pikir Juwita, dia akan pulang karena nampaknya sudah cukup berlari, tapi ternyata bocah itu menyusul.


Juwita yang sadar dia mengejar langsung mempercepat larinya.


Semakin lama justru semakin jadi pertandingan, sama-sama ogah kalah sampai lupa kalau itu cuma lari santai pagi hari.


Secara bersamaan, mereka berlutut di depan rumah, kelelahan.

__ADS_1


"Gue hah gue menang!" Abimanyu berseru di antara deru napas.


"Enggak, aku!" Juwita balas melotot. "Yang duluan duduk aku."


"Yang duluan sampe gue!"


"Enggak ada! Yang duluan aku!"


"Gue!"


"Bocah!" Juwita menggeram.


Abimanyu balas menggeram.


Tak sadar kalau Adji berdiri di teras, menyaksikan mereka berkelahi tentang hal tidak penting.


"Lo dulunya atlet?" tanya Abimanyu dengan nada tak suka.


Juwita yang mendengar ada nada tertentu di sana langsung menyeringai. "Kenapa? Mau diajarin mukul bola? Olo, olo, olo. Kamu belajar sama tembok dulu yah, Nak. Kecepetan sepuluh tahun."


"Apa lo bilang?!"


Juwita tertawa keras. "Kecuali kamu minta kayak gini 'Mama Cantik, ajarin main voli dong'. Nanti aku ajarin."


"Cuih, cuih, cuih!"


Tawa Juwita makin keras. "Wahahaha, dasar enggak guna! Kalo mau jago main bola, pertama jangan kurang ajar dulu! Bleeewk."


Tapi waktu berbalik dan melihat Adji di sana, Juwita langsung terkesiap.

__ADS_1


Abimanyu menoleh karena istri baru papanya berhenti tertawa. Melihat Adji di teras, Abimanyu ikut terkesiap, buru-buru berdiri.


Tentu saja, Abimanyu tidak melewatkan ekspresi pucat Juwita.


"Saran aja, Mama Cantik. Kalo nikah sama duda yang punya anak, jangan sampe ngejek anaknya depan bapaknya. Kesian."


Juwita menahan diri tidak menggeplak kepala Abimanyu.


Dasar setan!


Sayangnya Juwita tak punya waktu, karena ia panik mengetahui Adji melihatnya tertawa. Mana tadi Juwita berteriak keras mengatakan Abimanyu tidak berguna.


"Anu, itu ...."


Adji mengangkat alis. "Mau sarapan sekarang?"


Eh? Tidak ada gamparan?


Sesuatu seperti 'kamu yang enggak guna, dasar cewek enggak guna' atau 'kamu bilang anak saya enggak guna?'.


"Itu ...."


"Banyu sama Cetta belum bangun. Kalau selesai mandi, tolong bangunin. Pengasuhnya Cetta baru dateng jam delapan."


Safe, kah?


Juwita menghela napas lega, karena setidaknya Adji tidak marah.


*

__ADS_1


__ADS_2