Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
102. Emang Iya?


__ADS_3

Ekspektasi Juwita, Ajeng disekap di sebuah gubuk kumuh seperti di film-film, vibes markas penjahat gitu. Terus dia diikat, mulutnya ditutup lakban, dan tidak dikasih apa pun kecuali air minum.


Ternyata tidak. Juwita malah diajak ke sebuah rumah berlantai dua, terlihat sudah tua tapi terawat.


Yang Juwita temui bukan orang-orang kekar berbaju hitam, berkacamata hitam dan botak mirip algojo, tapi malah seorang pemuda yang usianya mungkin kisaran usia Juwita atau Bima, menyambut Adji dengan setelan santai kaus putih.


"Selamat sore, Pak, Mbak." Dia menyapa Adji dan Juwita ramah, seadanya. "Biar saya anter ke selnya."


Juwita memeluk lengan Adji, menatap sekitarannya kepo. Kok ini lebih mirip kunjungan hotel non-formal, yah? Atau jangan bilang Adji memang mampir ke hotel dulu?!


"Ini apa, Mas?" bisik Juwita tak paham.


"Markas preman, kamu bisa bilang." Adji menjawab tenang. "Tapi aslinya mereka organisasi. Bisa dibayar buat nangkep orang sekaligus nutupin kalau orang itu hilang."


"Enggak bahaya?"


"Yang punya mantan presiden Mahardika."


Oke, aman. Jika yang punya mantan orang nomor satu, berarti aman.


Juwita cuma tidak mau Adji malah sampai tersangkut kasus penculikan dan sebagainya. Tapi kalau backingannya adalah orang sekuat itu, Juwita bisa salto di sini tanpa harus khawatir ada apa-apa.


"Tapi kamu enggak nyiksa orang sampe dia hampir mati terus lecet-lecet, kan?" tanya Juwita lagi, mendadak panik.


Adji menghela napas gemas. "Bisa, kalau kamu mau."


"Mas." Wajah Juwita langsung horor.

__ADS_1


"Ya saya tau kamu enggak mau jadi enggak, Juwita."


Ya siapa tahu, kan?


Juwita akhirnya diam, mengikuti orang di depannya sampai mereka turun ke bawah, lantai bawah tanah yang ternyata dibuat mirip sel penjara tertutup.


Juwita celingak-celinguk melihat sekitaran, namun tak sempat karena mereka berhenti di depan sebuah sel, yang ketika dibuka, seketika terlihat sosok Ajeng tengah terbelenggu rantai.


Ramburnya masih terlihat rapi, bajunya tidak sobek-sobek, plus matanya juga tidak terlihat seperti orang kurang tidur. Dia cuma dirantai. Oke, dia baik-baik saja.


Adji tidak ekstrem menyiksa manusia.


Baru Juwita akan masuk, Ajeng sudah tersenyum.


"Aku enggak nyangka kamu sampe pake jasa kayak gini." Dia bicara itu pada Adji. "Pantes aja Nana ilang enggak ada berita apa-apa. Kamu pasti ngabisin uang banyak cuma buat bayar mereka."


"Aku juga bisa beli yang beginian pake uangku. Aku enggak miskin kayak istrimu."


Adji memasukkan tangan ke saku celananya. Menatap tak berminat pada Ajeng.


"Ya kalo soal adu harta, kayaknya memang kamu lebih bisa kasih mereka uang banyak. Ngejual semua aset kamu masih lebih mending daripada di sini, kan?" balas Adji.


Juwita diam memerhatikan mereka.


"Tapi kamu enggak perlu ngajarin mereka buat mihak siapa. Kamu bisa kasih uang miliaran sekali lempar, tapi cuma sekali."


Nyatanya keberpihakan organisasi ini lebih condong pada Adji, karena melihat kerjasama bersamanya jauh lebih menguntungkan daripada Ajeng yang rela menjual seluruh hartanya demi bebas.

__ADS_1


Singkat kata sih itu percuma.


"Dan oh, kenalin, istri saya." Adji memberi ruang bagi Juwita masuk. "Enggak perlu kaya buat dia bikin saya mau."


Hoh, rupanya ada dendam masa lalu.


Juwita diam doang, karena merasa dirinya bisa menunda dulu.


Seru dong melihat orang debat. Juwita mah menikmati saja.


Termasuk seru melihat Ajeng tertawa terbahak-bahak.


"Sok manis banget ngomong gitu. Kamu lupa pas dulu sama aku, kamu ngemis-ngemis, hm? Enggak suka sama istri kamu karena dia enggak cantik? Lebih enak sama aku yang jago goyang? Gitu kata kamu, kan?"


Juwita mau duduk, mau makan popcorn menyaksikannya. Biar kayak nonton bioskop gitu, tapi sayangnya enggak bisa.


"Digombalin pas saya enggak waras aja kamu seneng," balas Adji lagi.


Lalu Adji mendengkus.


"Kamu kan pro urusan laki-laki. Masa bedain mana yang tulus mana yang nafsu aja enggak bisa. Atau jangan-jangan kamu ngerasa semua cowok di hidup kamu sampe sekarang itu tulus? Iya sih tulus. Mana ada laki-laki dikasih paha dadaa enggak tulus. Tapi ngomong-ngomong, paha istri saya sekarang masih lebih mulus."


Emang iya?


Juwita mengintip pahanya, tapi tidak bisa karena ia pakai dress sebetis.


*

__ADS_1


__ADS_2