
"Jadi ceritanya kamu cemburu sama Mas Bima?" tanya Juwita, begitu memahami duduk permasalahan kenapa mantan duda beranak tiga sontoloyo ini mendadak bertingkah aneh.
Ternyata dia malah cemburu? Serius, cemburu?
Adji langsung mendelik. "Enggak usah panggil Mas."
"Yaudah, panggil Om."
Tangan Adji terulur, mengusap satu muka Juwita cuma buat membungkam mulutnya. "Enggak usah."
Juwita cuma geleng-geleng, karena memang mau dipikir pakai apa pun juga tidak bakal habis dipikirkan. Bisa-bisanya dia cemburu pada saudara Ibu?
Bima pula. Masih lebih masuk akal dia cemburunya pada Adit misalkan? Atau Sandy?
Ya iya sih memang tidak ada yang mustahil, terutama setelah Juwita mengetahui perasaan Abimanyu, tapi ini bapak-bapak berpikir sehat kek.
Masa Juwita pelukan di depannya dengan orang yang bukan muhrim? Sehebat itukah Juwita di mata Adji sampai ia berani pelukan dengan selingkuhannya di depan Ayah, Ibu, Mama dan Papa Mertua?
Itu sih tidak waras, yah.
"Emang Cetta kedua kamu, tuh." Juwita mencubit keras pipi Adji, berasa kayak dirinya yang tua sedangkan bapak ini sebenarnya bocah. "Dasar, dasar, dasar. Ih, kugigit juga kamu entar."
Adji malah nyaman diunyel-unyel. "Ya kamu kemarin kenapa peluk-peluk kayak gitu. Saya ngeliat jadi emosi."
"Emosi enggak sampe kayak gini juga, Bapak."
Juwita benar-benar gemas sampai tak berhenti mencubit pipi Adji. Tak peduli dia meringis dan pipinya merah, Juwita melampiaskan rasa gemas dengan mencubitnya.
__ADS_1
Adji pasrah juga pada akhirnya. Duduk mendekap Juwita sampai ia bosan, dan ikut membaringkan kepalanya ke bahu Adji.
Sudah terlanjur juga naik tiba-tiba waktu sarapan. Semua orang di bawah pasti pada ngeh kenapa Adji dan Juwita naik. Jadi yah, mau bagaimana lagi?
Daripada ngeluh, Juwita menikmati waktu saja.
Pelan-pelan, suasana juga makin tenang. Adji mengusap-usap punggung telanjang Juwita, menikmati sentuhan kulit bersama kulit antara mereka.
"Semua yang nyakitin kamu udah saya amanin."
Juwita menggambar tulisan abstrak di kulit bisep Adji. Butuh waktu diam sebentar baru bisa membalas, "Kamu mau apain?"
"Terserah kamu. Kamu yang kena masalah, kamu yang korban. Kamu mau apain, saya nurut."
"Emang enggak pa-pa kayak gitu? Kamu enggak ngandelin polisi, kan?"
"Kalo aku mau ketemu Ajeng lagi, kamu bolehin?"
Adji mengangguk, soalnya Ajeng sekarang juga tidak bisa mengapa-apakan Juwita lagi. Kalau Juwita mau membalas dengan membenturkan batako ke kepala semua orang yang Adji tahan pun dia bisa.
Mereka tak punya kuasa berkutik di depan belenggu yang Adji pasang sekarang.
"Kamu emang masih mau ketemu dia? Kamu kan yang bikin dia pingsan di sekolah Abimanyu?"
Juwita mengalihkan mata, tidak mau jadi tersangka.
"Saya enggak bakal tanya. Enggak ada gunanya juga."
__ADS_1
Ya memang lebih baik tidak. Soalnya kalau dia bertanya, perbuatan Abimanyu kemarin bisa tercium oleh Adji.
Bukannya Juwita mau menyembunyikan kesalahan Abimanyu, bukan. Cuma, Adji itu orang tuanya. Perasaan dia ke Abimanyu lebih kuat daripada Juwita.
Kalau dia marah ya jelas dia lebih marah dari Juwita dan kalau dia kecewa ya dia pasti lebih kecewa dari Juwita.
Juwita cuma mau kepercayaan Adji ke Abimanyu tidak rusak, soalnya yang merusak juga bukan Abimanyu tapi Ajeng. Anak itu hanya korban kali ini. Kasihan dia jika malah dituntut.
Kecuali jika Abimanyu mengulang hal sama. Biarpun sekali lagi dijebak, Juwita akan berterus terang ke Adji.
"Saya cuma mau kamu tau."
Adji mendorong Juwita cuma agar menatap wajahnya langsung, mengusap-usap pipi perempuan itu.
"Saya enggak mau kamu kenapa-napa lagi. Saya enggak butuh kamu ngapain, yang repot-repot. Urusin saya, sayang sama anak-anak, hangout mungkin sama Mama, udah cukup. Jangan masuk rumah sakit lagi."
Juwita mendengkus, tapi bukan dalam maksud negatif.
"Aku sayang kamu, Mas."
Adji tersenyum kecil. "Harus selalu."
"Kamu?"
"Ya tergantung."
Detik berikutnya Adji berteriak, karena rahangnya Juwita gigit keras-keras.
__ADS_1
*