Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Ada Sesuatu


__ADS_3

Kedatangan calon istri Abimanyu itu seperti neraka bagi Juwita. Mungkin ia mendadak jadi calon mertua menyebalkan yang tidak tahu menghargai anak gadis, calon istri anaknya. Tapi perempuan yang datang itu sungguh ... jauh dari harapan Juwita.


Dia cantik, terlihat pandai berdandan dan manis; sementara dia terlihat tidak bisa melakukan apa-apa selain itu.


"Halo, Tante." Gadis itu menyapa Juwita sambil memeluk lengan Abimanyu, nampaknya malu-malu. "Nama aku Sakura, juniornya Kak Abimanyu di kampus."


Juwita bukan tipe manusia yang akan bersikap dingin bahkan jika dirinya sedang marah, tapi untuk pertama kali Juwita menanggapi anak polos dengan respons negatif.


"Halo." Juwita tak menerima uluran tangannya tapi mengarahkan dia masuk. "Silakan. Papanya Abimanyu udah di dalem."


Abimanyu jelas menyadari sikap dingin Juwita. Pemuda itu menatapnya walau kemudian pura-pura tidak tahu, merangkul kekasihnya masuk.


Sakura diam-diam berbisik pada Abimanyu. "Mama kamu kayaknya enggak suka sama aku, Yang."


"Cuek aja," balas Abimanyu mencium puncak kepala perempuan. "Emang gitu."


"Aku takut."


"Enggak pa-pa." Abimanyu mengusap-usap punggungnya berharap dia berhenti cerewet.


Di sisi lain, Banyu yang melihat kedatangan pacar Abimanyu—beda lagi dari yang mereka pikir bakal datang—tidak peduli siapa dia tapi lebih peduli menyambutnya.


"Hai!" Banyu menghampirinya dan bersikap sangat ramah, berbeda dari sikap dia biasanya. "Nice to meet you, Calon Kakak Ipar. Nama lo siapa, btw?"


"Sakura. Hai juga, Banyu. Abimanyu sering cerita soal kamu loh. Katanya kamu anak IT yah?"


"Ohya?"

__ADS_1


Tidak. Abimanyu bahkan tidak memberitahu dia soal berapa adiknya. Sakura tahu dari hasil stalking akun keluarga Abimanyu tapi Abimanyu tidak punya niat meluruskan, diam-diam melirik Juwita.


Kenapa dia harus bersikap dingin? Kalau dia memang ingin Abimanyu berhenti menyukainya, dia seharusnya mendukung semua ini, kan?


Selama sesi perkenalan dan Adji menanyakan banyak hal pada Sakura, Abimanyu tidak fokus. Ia berulang kali melirik Juwita yang kadang sibuk bersama anaknya, kadang sibuk bersama Cetta, tapi kentara dia tidak mau ikut campur urusan pernikahan.


Dan orang yang paling menyadari semua itu adalah Adji.


Pria itu juga berulang kali melihat Abimanyu menoleh pada Juwita, seakan-akan dia menunggu ibu tirinya ikut bergabung. Adji juga berulang kali menoleh pada Juwita, sadar bahwa Juwita sengaja menjauh.


Ada sesuatu yang terjadi dan Adji tidak tahu itu.


Maka malamnya, setelah calon istri Abimanyu pulang, Adji mengajak anaknya berbicara empat mata.


"Kamu serius mau nikah? Juwita enggak ngasih kamu restu, keliatan. Kamu masih mau nikah?"


"Papa enggak ngomongin zina." Adji memicing. "Kamu kenapa sama Juwita? Dia enggak bakal begitu sama kamu tiba-tiba."


"I don't know," Abimanyu mengangkat bahu. "I don't care, actually. Papa pernah bilang kalau urusan pernikahan itu urusan personal, kan? Papa milih Juwita jadi istri Papa tanpa konsultasi sama kita, so Papa juga enggak perlu ngurusin aku nikah sama siapa."


"Sakura enggak pinter masak, yang bersih-bersih di apartemennya itu robot, dan dia delivery makanan tiap hari sesuai kebutuhan. Sakura sama Juwita enggak perlu jadi sama."


Adji bukan orang bodoh. Anak di depannya ini jelas-jelas tidak mau peduli siapa istrinya dan dia cuma mau menikah, entah untuk alasan apa.


"Okay." Adji menyerah keputusan padanya. "Melisa dari dulu punya tabungan soal pernikahan, itu buat kamu, Banyu sama Cetta. Papa bakal kasih itu, kelola sendiri buat kebutuhan kamu. Kamu boleh tinggal di sini, sama istrimu, makan makanan Papa, tapi sisanya itu urusan kamu. Paham?"


Abimanyu tidak menjawab, berlalu dengan wajah keras kepala.

__ADS_1


Bukan Adji tidak penasaran sebenarnya ada apa. Ia tetap peduli pada anaknya dan sejujurnya Adji tidak setuju Abimanyu menikahi perempuan yang nampaknya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali ... merepotkan.


Tapi sekali lagi, kalau nanti dia menyesal, dia harus menyesalinya sendiri.


Adji naik ke lantai atas, menemukan Juwita sedang melihat album foto-foto mereka—foto-foto dia dan anak-anak sejak beberapa tahun lalu.


"Kamu ngapain?"


Juwita mengangkat bahu. "Menyadarkan diri kalo anak-anak udah pada gede."


Pria itu tersenyum sekalipun tahu istrinya sedikit berbohong. Adji tidak memaksa. Jika Juwita tidak bercerita maka dia memutuskan dia tidak perlu bercerita. Adji percaya padanya.


"Abimanyu belum segede itu, terus terang." Adji duduk di hadapannya, mengecup kecil bibir Juwita. "Dia masih butuh kamu buat mukul kepalanya kalo dia salah."


Juwita mengerucutkan bibir dan Adji mengecupnya kembali.


"Mas."


"Hm?"


"Mau main brutal?"


Adji tercenung. Walau sejurus kemudian dia tersenyum penuh arti. "Brutal banget?"


"Brutal banget." Juwita mengalungkan lengannya ke leher Adji dan Adji dengan senang hati balas memeluknya.


*

__ADS_1


__ADS_2