Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Aku Nyerah


__ADS_3

Abimanyu membuka pintu kamarnya dan membanting itu saat menutupnya.


"Enggak ada apa-apa antara gue sama Juwita. Lo salah paham."


Walau cara bicara Abimanyu juga sebuah masalah, Sakura mengabaikannya dan langsung pada inti permasalahan.


"Jelas ada apa-apa, Bi. Posisi kamu meluk dia itu bukan posisi anak meluk mamanya, spesifiknya mama tiri."


"Enggak ada apa-apa gue bilang."


"Terus kamu pikir aku percaya?!"


Tangan Abimanyu mendorong barang di atas meja terdekatnya sebagai bentuk pelampiasan amarah. Tentu saja, itu menimbulkan suara pecah yang menyakitkan.


Juga membuat Sakura tersentak.


"Kalo pun ada apa-apa urusannya sama lo apa, hah?" balas Abimanyu kasar.


"Of course ada urusan! Kamu gila yah?! Aku istri kamu! Kamu yang minta aku nikah sama kamu!"


"Hah, terus itu neraka buat lo, gitu?" Abimanyu menyambar lengan Sakura, mendorongnya hingga terpelanting di kasur. "Lo pikir gue percaya lo cinta sama gue? Bacot, anjing. Lo suka sama gue itu karena gue ganteng terus bokap gue kaya."


"Lo kira gue percaya betina kayak lo ngomongin cinta? Jadi mending sekarang lo diem, nikmatin yang bisa lo nikmatin, enggak usah ganggu yang bukan urusan lo."


Abimanyu mendadak mendengar suara mobil adiknya memasuki halaman rumah. Karena tak ingin Banyu sampai ikut campur juga dan membikin masalah makin ruwet, Abimanyu berhenti di sana.


Pria itu menarik tangan Sakura yang terisak-isak. Kini dengan lembut menyeka air matanya.

__ADS_1


"Gue emang suka sama Juwita, dari dulu, tapi dia enggak suka sama gue. Gue yang ngotot mau sama dia."


Abimanyu menyingkirkan rambut Sakura yang menghalangi wajahnya.


"Yunia itu adek gue. Kenapa gue gendong adek gue daripada ngeladenin lo? Itu karena lo enggak lebih menarik dari adek gue. Sekarang ngerti? Enggak ada apa-apa. Enggak usah mikir macem-macem."


Sakura terus saja menangis.


"Lo enggak mau cerai, kan? Enggak mau diomongin satu kampus, kan?" Abimanyu mencium bibirnya lembut. "Lo masih punya gue. Gue enggak bakal main kasar, enggak bakal ninggalin lo. Cuma diem."


Diam dan pura-pura saja tidak tahu.


*


Sebagai wanita, Juwita punya imaginasi yang sangat banyak. Kadang-kadang ia bahkan membayangkan Adji punya selingkuhan di kantor dan dia meninggalkan Juwita karena ia cuma ibu rumah tangga. Jaman sekarang ibu rumah tangga tampak sederajat dengan budak.


Tapi sekalipun begitu, Juwita tidak pernah membayangkan bahwa dirinya pergi dari keluarga ini. Seberat apa pun, Juwita tidak pernah membayangkan DIRINYA pergi.


Itu mimpi buruk. Terlalu menjijikan.


"Juwita."


Suara Banyu menyentak Juwita dari lamunan. Buru-buru ia menyeka air matanya, menengok ke pintu di mana anak tirinya tampak sudah mandi, menenteng kantong makanan.


"Lo kenapa?" Banyu melangkah lembut agar tidak mengusik tidur Lila, Nia dan Yunia. "Abimanyu lagi?"


Juwita sangat ingin memberitahunya. Sangat. Tapi ia putuskan tidak karena Banyu pasti akan berkata 'jangan'.

__ADS_1


Demi Tuhan, tidak semudah itu. Tidak semudah itu Juwita mau berpikir 'yasudah, usir saja Abimanyu karena dia pengganggu'. Anak itu lahir di rumah ini dan tumbuh di sini.


Dia jauh lebih berhak dengan keluarga ini ketimbang Juwita.


"Enggak ada apa-apa," jawab Juwita, meski jelas suaranya sumbang. "Udah jam setengah dua, kenapa enggak tidur?"


Banyu menengok mereka dulu, untuk memastikan saja sekaligus membawakan makanan yang tadi dibelinya sebelum pulang.


"Juwita." Banyu datang, duduk di sampingnya dan menggenggam tangan Juwita baik-baik. "Gue lagi capek jadi enggak bisa banyak omong tapi ... please, gue capek ngeliat lo nangis."


Air mata Juwita justru berjatuhan meski ekspresinya terlihat tabah. Tangannya terulur, membelai wajah Banyu yang membuatnya sadar sudah berapa banyak waktu berlalu.


Dia sudah besar. Sudah bukan anak jutek yang usil dan pedas. Juwita sangat menyayanginya. Sangat. Luar biasa menyayangi mereka sebagai anak sekaligus sahabatnya.


"Banyu."


"Hm?"


"Aku nyerah." Juwita menepuk-nepuk lembut pipinya dan tersenyum. "Aku nyerah sama kalian."


Banyu terpaku kosong.


"Aku," Juwita cuma bisa tertawa meski air matanya berjatuhan, "aku harusnya enggak besar kepala ngambil tugas Mama kamu. Aku nyerah."


"Juwita—"


"Ssshh." Juwita terlalu lelah untuk mendengar apa pun.

__ADS_1


Intinya dia harus tahu bahwa Juwita sudah menyerah.


*


__ADS_2