Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
13. Salah Paham


__ADS_3

"Cetta, Mbak Uni mana?"


Juwita melirik waktu Banyu bertanya pada adiknya, namun ia putuskan pura-pura tidak tahu. Lagipula itu masalah orang dewasa. Biar Adji dan Juwita yang menyelesaikannya.


"Enggak tau." Cetta menjawab sambil lalu. Tidak mengadu juga bahwa dia disakiti oleh perawatnya hingga Juwita yakin dia memang sudah sangat terbiasa.


Pantas saja tiap bersama Mbak Uni, dia entah kenapa jadi penurut.


Banyu nampaknya penasaran ke mana perawat adiknya, tapi dia ogah bertanya pada Juwita, jadi hanya pergi mengambil makanan.


Sementara di luar sana, Abimanyu yang akan pulang mendapat telepon dari Mbak Uni.


Wanita itu sebenarnya tidak takut pada Juwita. Gadis yang bahkan masih terbilang remaja—masih sama bocah dengan anak Adji, tidak pandai mengurus anak sama sekali.


Pikir Mbak Uni, Juwita malah akan setuju kalau anak nakal itu diatur dengan cara sedikit kasar.


Lagipula itu hanya cubitan kecil. Dia malah marah dan menendang wajah orang.


Tapi Mbak Uni jadi sadar kalau Juwita mengadu, bisa-bisa ia dituntut. Jadi sebelum dia melakukan sesuatu, Mbak Uni harus melakukan sesuatu juga.


Dan sasarannya adalah Abimanyu. Sang tuan muda pertama yang emosional dan gampang terprovokasi.


"Halo, Mbak?" Abimanyu yang tidak tahu niat itu, masih berpikir Mbak Uni adalah bagian dari keluarganya. "Kenapa nelfon?"


"Mas, tolongin Den Cetta."


Abimanyu terkejut mendengar suara tangisan Mbak Uni. "Kenapa? Cetta kenapa? Mbak Uni di mana?"

__ADS_1


"Mbak Juwita, Mas. Den Cetta katanya nakal banget, terus Mbak Juwita marah sampe nendang muka saya."


"Hah?"


"Tolongin Den Cetta, Mas."


Abimanyu spontan mengingat pukulan bola Juwita yang super duper keras sampai tangannya serasa mau patah. Masuk akal jika dipikir perempuan kasar itu bertindak. Namun sampai menendang wajah orang?


Di kepala Abimanyu, Mbak Uni jauh lebih terpercaya. Maka sesuai dugaan Mbak Uni, Abimanyu berlari kencang untuk pulang.


Mbak Uni sengaja menunggu tak jauh dari rumah jadi Abimanyu melihat bekas tendangan keras Juwita di wajahnya.


"Sial*n!"


Abimanyu berlari kesetanan, khawatir sekaligus marah.


"Juwita!" Abimanyu membuka pintu keras-keras, berteriak memanggil ibu tirinya.


Juwita terkejut, jelas terlonjak. Begitu pula Banyu dan Cetta.


"Bang—"


"Lo apain adek gue, bangsat?!" Abimanyu tiba-tiba datang mencengkram kerah baju Juwita, mengguncangnya murka. "LO APAIN DIA?!"


Juwita mengerjap syok. Ini berbeda dari Abimanyu yang menatapnya sinis atau mengejeknya papan. Wajah dia menakutkan, dan cengkramannya serius.


"Kamu ngomong apa—"

__ADS_1


"LO NENDANG MUKA MBAK UNI KARENA JAGAIN CETTA!"


Banyu tercengang. Tapi anak itu juga spontan berpikir tentang Mbak Uni yang menghilang. "Cetta, sini." Banyu mengambil adik bungsunya segera. "Pergi ke kamar buruan."


Bahkan Cetta bisa menyadari kemarahan Abimanyu. Dia berlari naik sesuai instruksi Banyu, sementara kakaknya ikut menghampiri Juwita.


"Udah gue bilang enggak mungkin orang kayak lo jagain Cetta!" Banyu merampas lengan Juwita. "Pergi lo! Jangan munculin muka lo lagi di sini!"


Juwita menatap dingin mereka.


Ah, sial*n. Ia benar-benar tidak suka diperlakukan begini. Tapi kalau anak-anak yang salah paham ini dilawan balik, justru situasi akan lebih rumit.


"Lepas." Juwita menarik diri. "Yang mutusin di sini Papa kalian, bukan kalian. Jadi diem."


Tangan Abimanyu tiba-tiba menarik rambutnya, membuat Juwita tertarik ke belakang. Tindakan spontan Juwita adalah memutar tangan anak itu, membuatnya berlutut.


"Hati-hati yah kalo mau narik. Kamu kira saya enggak tau mutusin tangan orang?"


"Lepasin abang gue, l*nte!"


Juwita melirik tajam. Banyu yang tidak menduga dia bisa membuat ekspresi seperti itu langsung terdiam.


Dilepaskan tangan Abimanyu, mendorongnya tersungkur. Juwita berlari ke atas, masuk ke kamar dan menguncinya.


Kemarahan membuat Juwita menangis. Ia paham betul anak-anak itu salah paham, dan sepertinya terprovokasi. Tapi sampai mengatainya berlebihan dan mencekik Juwita, apa mereka pikir mereka berhak?


*

__ADS_1


__ADS_2