
Adji menepuk dahi pada bagaimana kejutannya jadi kacau gara-gara semua orang kebanyakan bicara. Tidak bisakah mereka diam sebentar mengikuti skenario yang sudah dibuat baik-baik?
Padahal tadi rencananya mereka bilang mau membuat Juwita sampai menangis menutup mulutnya seperti yang sering terlihat di sosial media.
Yang kelihatannya super terharu dan membayar semua kesedihan Juwita selama beberapa hari belakangan.
Gara-gara mereka tidak bisa bekerja sama, ya tidak heran Juwita sekarang cuma bermuka ‾︿‾.
Pada akhirnya Adji juga keluar, mendekati mereka.
Waktu melihat Adji mendekat, tiba-tiba Abimanyu bicara.
"Juwita."
Wanita yang nampak masih berusaha mencerna itu langsung berpaling. "Ya?"
"Gue—"
"Jadi istrinya Papa!"
Cetta berteriak lagi, mengangkat tinggi-tinggi kotak yang sebenarnya berisi cincin buat Juwita.
"Kakak nikah sama Papa terus jadi istrinya Papa! Terus Kakak pulang deh sama Cetta!"
Menolak romantis. Padahal selama beberapa hari ini Cetta diajari buat mengikuti skenario, tapi nampaknya dia tidak sabaran dan capek menunggu Abimanyu bicara.
"Bocah, aku—"
__ADS_1
"Dear Juwita Padmavati." Banyu ternyata sudah mengambil mic dari tangan Bima, menarik seluruh atensi mereka. "Karena abang sama adek gue sama-sama tololl, yaudah biar gue."
Juwita mengerjap.
"Tapi sebelum itu gue mau lo tau kalo gue kepaksa doang ngomong."
Dasar bocah ini.
Adji geleng-geleng melihat kenapa dari tiga anaknya, satu yang paling pintar saja tetap susah diatur. Masa bicara normal sekali saja dia tidak bisa?
Hah, baiklah. Ini sudah lebih baik daripada tidak sama sekali.
Mau Abimanyu yang bilang kalau Banyu, sama saja. Asal mereka menyampaikan pada Juwita apa yang perlu disampaikan.
"Jadi, gue mau bilang—"
Adji pun sudah sangat berharap dia mengucapkan kalimat yang itu, agar Juwita merasa lebih baik. Mereka semua sudah capek-capek merangkainya jadi Juwita harus dengar.
Tapi mendadak Banyu diam, memiringkan wajah seperti orang yang berpikir, lalu mengerutkan kening.
"Gak jadi, deh. Norak banget kalo dipikir-pikir."
Suara tawa terdengar disusul teriakan Mama yang berkata kalau Banyu dan Abimanyu harus sunat sekali lagi sebagai penebusan dosa.
Adji pun jadi ingin menjitak kepala mereka berdua.
"Mereka mau bilang," Adji akhirnya turun tangan, menarik tangan Juwita berbalik padanya, "kalau mereka udah terlalu nakal, terlalu nyusahin, terlalu bikin pusing, makanya mereka butuh kamu buat nempeleng muka mereka."
__ADS_1
Itu bukan kalimat yang disusun tapi Adji juga sudah jengkel melihat anak-anaknya.
Cetta mengangkat sekali lagi kotak hadiahnya, karena dari tadi belum ada yang mengambil. "Papa, cincinnya."
Memang menolak romantasi. Padahal itu kejutan, bukan sesuatu yang perlu dijunjung kayak air dari sungai.
Tapi yasudahlah. Terserah saja. Intinya mereka sudah berusaha.
Adji meraih cincin berlian di kotak tersebut, memasangkan ke jari tangan Juwita.
"Karena kemarin saya ngelamar kamu kurang meriah, sekarang saya mau lamar kamu lagi. Kamu mau jadi istri saya, Juwita? Tapi kamu udah jadi istri saya, jadi enggak mungkin bilang enggak."
Juwita mendongak. Dia menatap Adji seperti orang yang tidak mengerti bahasa, tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah.
Kedua sudut bibir Juwita turun ke bawah, bergetar menirukan Cetta yang menangis ketika ditinggalkan.
"Dasar gak jelas!" teriak Juwita tiba-tiba.
Bukan cuma itu, Juwita bahkan melepaskan sandalnya, lalu memukuli Adji keras-keras.
"Seleramu tuh enggak jelas! Ampas! Sampah banget!"
"Aduh-duh, salah saya apa?"
"Kamu kira berapa hari aku ngira bakal cerai, hah?! Kamu kira berapa hari aku takut jadi janda?! Kamu pikir lucu beginian?! Kamu kira lucu dikasih kejutan beginian?! AKHHHHHH, SINI KAMU, SINI!"
Juwita mengamuk layaknya banteng.
__ADS_1
*