Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
7. Obrolan Malam Pertama


__ADS_3

Adji tahu ia seharusnya memberitahu mereka untuk tidak bercanda, apalagi dengan ocehan mesum semacam itu. Tapi waktu Juwita membalasnya dengan kalimat sangat memalukan, Adji malah menikmati muka malu gadis itu.


Ya Tuhan. Adji banyak berpikir karena harus menikah sementara belum bisa melepas istrinya, tapi ternyata dia tidak semerepotkan yang Adji pikir.


Terlihat bisa diandalkan, pekerja keras, akan tetapi juga menyimpan sisi kekanakan yang tidak kalah dengan anak-anak Adji.


Waktu Adji tertawa, Abimanyu dan Banyu sama-sama terkejut.


Sejak kepergian Mama, Adji nyaris tak berekspresi. Tidak menangis, tidak juga tersenyum apalagi tertawa.


Mungkin itu cara Adji melampiaskan rasa sedihnya. Maka dari itu mereka terkejut melihat Adji tertawa selepas saat Mama masih ada.


Kedua anak itu menatap Juwita kesal. Mereka setuju Adji menikah karena Mama. Mereka menerima Juwita juga karena Mama. Tapi tetap saja, mereka tidak puas kalau begitu saja membiarkan Juwita.


Tidak semudah itu menempati posisi Mama mereka.


...*...


Justru saat malam, Juwita malah semakin kepikiran. Ucapan tak berguna tadi siang benar-benar mau ia cabut bersama nyawanya sendiri.


Di depan bocah itu tidak apa, tapi Juwita mengucapkannya di depan Adji!


Sialan!


Juwita menatap ponselnya penuh rasa getir. Ia rasanya mau menghubungi Ibu dan minta pulang saja daripada harus menghadapi Adji.

__ADS_1


Duh, kenapa mulutnya malah mengatakan itu, sih? Mana sambil senyum pula!


"Juwita."


Glek.


"Kamu enggak pa-pa tidur dulu."


Juwita mengerjap. Maksudnya tidak ada malam pertama?


Seolah membaca pikiran Juwita, Adji menggaruk tengkuknya gelisah. "Saya bukan enggak mau sentuh kamu. Bukan begitu. Makanya saya langsung minta kamu tidur di sini tapi ...."


Ah, dia belum bisa melupakan istrinya, kah?


Mungkin memang canggung dia harus tidur dengan wanita lain sekarang padahal istrinya baru meninggal, tapi seharusnya dia tetap bisa melakukan itu tanpa harus merasa bersalah.


Meski begitu dia tetap merasa sulit. Dia pasti sangat mencintai Melisa.


Juwita diam-diam menghela napas lega. Sejujurnya ia juga belum siap.


"Saya enggak masalah, kok." Juwita menepuk-nepuk sisi lain tempat tidur. "Anggep aja saya sama kamu temen baru. Enggak usah canggung banget."


Padahal Juwita lebih canggung.


"Maaf." Adji duduk, lalu diam.

__ADS_1


Keheningan itu akan membunuh jika dibiarkan lama, makanya Juwita cepat-cepat membuka pembicaraan. "Kalau bukan karena istri kamu, saya mungkin masih susah mikirin di mana cari uang buat operasi Ibu."


"Buat saya itu balas budi. Melisa selalu bilang kalau bukan karena kamu, anak saya yang terakhir mungkin udah enggak ada."


Juwita menatap tangannya yang saling bertaut di atas paha, berusaha tidak canggung. "Jujur, saya jadi ngerasa terlalu dibantu."


"Maksud kamu?"


"Yah, saya selalu nolongin orang tanpa mau dibalas upah. Soalnya, gimana yah, itu ngurangin ketulusan saya. Maksud saya, saya emang selalu yakin kalau nolongin orang bakal dibalas pertolongan juga sama Tuhan. Tapi, kayak, kalau dibalas langsung sama orang yang nolongin, saya jadi ngerasa kurang tulus."


Juwita menggaruk belakang kepalanya, bingung harus mengatakan apa.


"Maksud saya, kayak, besok kalau saya nolongin orang, saya jadi ngerasa saya bakal inget ini, terus saya kayak 'eh, nanti dia bales juga enggak, yah'. Kalau saya kurang tulus nolong, saya malah takut Tuhan enggak nolongin saya lagi."


Dia mengerti tidak, yah? Juwita merasa ucapannya berputar-putar saja. Ia berpikir keras bagaimana cara menjelaskan, tanpa tahu bahwa Adji sudah mengerti.


Pria itu menatap Juwita bingung sekaligus kagum.


"Emang menurut kamu ada orang yang mau lompat ke depan mobil buat nyelametin anak orang?"


Begitu yang Melisa katakan di akhir-akhir masa hidupnya.


"Mau dia anak-anak, mau umurnya baru dua puluh, nyatanya dia yang lompat. Buat Cetta."


*

__ADS_1


__ADS_2