Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
My Handsome CEO : I Love You, Pak


__ADS_3

"Selamat pagi, Pak."


"Selamat pagi—" Julio mengangkat wajahnya dari ponsel dan berniat menyapa Kalista dengan keramahan yang sama tapi dibuat berhenti seketika.


Di kantor ini, pakaian formal sejujurnya cuma dibutuhkan saat ada pertemuan besar dengan tamu dari luar. Tidak mengherankan sama sekali bahkan kalau ada karyawan yang datang cuma dengan jeans, kaus, dan rambut diikat tak rapi.


Yang terpenting adalah dia bekerja.


Tapi Julio rasa anak gadis di depannya ini agak terlalu santai. Celana yang agak terlalu pendek, kaus yang juga ketat, walau dia menutupinya dengan outer formal.


"Sergio mana?" tanya Julio, menahan komentarnya.


"Di ruangannya, Pak. Aku—maksudnya saya tadi cuma disuruh bikinin kopi sama cemilan terus disuruh keluar."


Tentu saja. Anak itu akan sibuk memikirkan hal lain jika melihat gadis yang dia sukai dengan dandanan seperti ini. Lingerie bukan satu-satunya pakaian wanita yang seksi.


Jujurly, wanita terlihat seksi asal kalian menyukainya, termasuk saat pakai daster.


"Oke." Julio berbalik. "Kamu ikut saya."


Nampaknya Kalista tidak terlalu paham karena dia kurang diberitahu oleh siapa pun. Julio memang memperingati semua orang bahkan OB di kantornya untuk menjaga Kalista baik-baik sebab dia punya bapak yang cukup gila membakar kantor kalau sudah marah.

__ADS_1


Jadi mari tunjukan secara langsung tanpa menyakiti perasaannya.


*


Kalista mengerjap kaget ketika mobil Julio berhenti di pusat perbelanjaan. Tadi Kalista pikir Julio mau membawanya ke pertemuan entah apa atau paling tidak membeli sarapan, tapi mereka ke mal?


"Kak Julio—maksudnya Bapak ada pertemuan di sini?"


"No tapi saya ada urusan penting di sini." Julio mengedik. "C'mon."


Kalista bersedia jadi bebek jika itu artinya mengikuti langkah Julio dari belakang.


God, gumam Kalista dalam hati. Just why he looks so sexy?


Kalista tidak peduli ke arah mana langkah Julio mengarah, karena sejujurnya ia cuma peduli dengan wujud Julio itu sendiri. Bahkan saat dia berhenti berjalan dan menoleh pada Kalista, tatapan Kalista tak bisa berhenti.


"Kalista?"


"Kak Julio ganteng banget," puja Kalista seperti fanatik. "Sumpah, Kak. Sumpah."


Sudut bibir Julio bergetar mendengar kalimat itu untuk kesekian kali. Julio ingat di pertemuan pertama mereka, Kalista mengucapkan hal yang sama dan membuat Rahadyan histeris.

__ADS_1


"Oke, Kalista, oke. Kamu juga cantik banget. Kalo udah, sekarang kamu ikut pramuniaga-nya, kita belanja baju."


Kalista mengangguk patuh dan setengah tak peduli mau disuruh apa. Kayaknya kalau disuruh kayang di sana pun Kalista akan patuh dan itu membuat Julio hanya tertawa kecil.


Kejujuran Kalista di matanya selalu lucu. Menggemaskan dan kekanakan karena dia mengakui bahwa dia tergila-gila oleh wajah.


Julio juga tak pernah lupa bahwa Kalista yang mengubah adiknya, Sergio. Dulu anak itu agak anti sosial, sibuk menjadi anak Mami yang patuh, tapi kemudian dia bertemu Kalista dan menjadi lebih 'hidup' walau juga menjadi agak pembangkang.


"Itu bagus," komentar Julio begitu Kalista keluar dengan outfit yang setidaknya lebih formal. "Kamu pake baju kayak gitu ke kantor lebih bagus, loh. Cantik banget."


Kalista langsung berputar ke pramuniaga untuk berkata, "Kasihin baju kayak gini sepuluh pasang, Kak. Kalo ada baju model lain yang kayak gini, warna apa aja juga bungkusin yah, Kak."


Julio langsung tersenyum penuh kemenangan.


Mission complete.


*


Baca cerita lengkapnya di sini 👇


__ADS_1


__ADS_2