
"Haduh, duh, duh. Cup, cup. Enggak yah, Sayang. Enggak kenapa-napa. Emang begitu muka kakaknya."
Tangisan Arja makin keras. Membuat Juwita makin menimang-nimang anak itu agar dia berhenti menangis. Kedekatan Juwita dan Arja jelas jadi perhatian anak tirinya.
Cetta mengerucutkan bibir. "Kakak, Cetta mau makan."
"Lah, kamu belum makan?" Juwita spontan melotot ke kedua anak tirinya. "Kalian nih ngapain sih sampe enggak ngasih makan ke Cetta? Masa ngasih makan adek aja enggak inget?"
Banyu mendelik pada adiknya. "Kamu tadi yang bilang makannya di sini aja."
"Yaudah mau makan." Cetta memanjangkan tangan. "Gendong."
Tangisan Arja makin kuat. Anak itu sekarang tak suka ada Abimanyu, Banyu dan Cetta hingga dia mengamuk.
Juwita bingung mau meladeni siapa.
"Kamu udah besar masa masih digendong?"
Pipi Cetta makin menggembung.
Juwita mengerjap heran sebelum tiba-tiba dapat pencerahan. Tunggu sebentar. Bocah ini, jangan bilang dia ....
"Yaelah, Bocah. Masa kamu cemburu sama anak bayi?"
"Hmpt!" Cetta membuang muka.
"Malah hmpt! Denger yah, Sontoloyo, namanya anak bayi itu emang digendong soalnya belum bisa jalan. Kamu waktu bayi juga gitu, jadi sekarang gantian sama bayi yang lain."
Malah dia semakin membuang muka.
Juwita mengomeli Cetta yang menurutnya bersikap terlalu kekanakan padahal sudah mau sekolah, tanpa dia tahu kalau Banyu dan Abimanyu tengah melotot pada Arja hingga tangisan bayi itu semakin keras.
Kini, Arja merasa tengah diserang oleh monster yang mau memakan jiwanya hidup-hidup.
"Woi, woi, woi. Anak gue warga sipil kenapa dilibatin perang, hah?"
__ADS_1
Bima muncul, buru-buru menyelamatkan anaknya.
"Sini, Nak. Emang orang bodoh semua di sini. Enggak level kamu sama mereka, yah?"
"Heh! Mulut lo yah!"
*
Juwita sebenarnya lagi merasa sakit, cuma karena ada anak-anak tirinya datang, ya Juwita harus menjamu mereka sebaik mungkin.
Kebetulan memang di rumah Juwita baru ada makanan jika orang tuanya pulang dari pasar. Tadi Yuli cuma pergi beli bubur ayam untuk sarapan bersama dan tidak tersisa lagi, jadi alhasil Juwita pergi membeli makanan di gang depan.
Niat Juwita beli, bungkus, pulang makan di rumah. Biar sekalian ia bisa istirahat.
Tapi mereka bertiga memaksa ikut, jadi pada akhirnya mereka makan di warung bersama.
"Kakak." Cetta memanggil, sambil dengan patuh menerima suapan dari Juwita.
Dia tidak mau makan sendiri. Tangannya capek, kata dia.
"Itu tadi siapa?"
"Yang mana?"
"Yang Kakak gendong."
"Sepupu aku. Anaknya saudara Ibu aku. Kan aku bilang, namanya Arja."
Cetta mengunyah dengan mulut menggembung, tapi masih berusaha bicara. "Kakak jangan main sama dia, yah?"
"Kenapa?"
"Enggak boleh. Sama Cetta aja."
"Kalo aku enggak mau?"
__ADS_1
"Enggak boleh." Cetta bergeser mendekat, memeluk paksa lengan Juwita. "Kakak enggak boleh gendong yang itu lagi. Sama Cetta aja."
"Enggak mau aku," balas Juwita usil.
"Kalo enggak mau, Cetta bawain Pika!"
Juwita cuma senyum. Mungkin Adji belum menjelaskan apa-apa ke anaknya soal perpisahan mereka, jadi Cetta masih berpikir Juwita bakal pulang nanti.
Begitu selesai makan, karena Juwita pusing, ia mengajak mereka pulang. Tapi Cetta tidak mau, Banyu juga tidak, sementara Abimanyu malah diam saja.
Ujung-ujungnya Cetta mau ke taman bermain yang kebetulan dskat dengan tempat makan mereka tadi, hingga Juwita terpaksa patuh.
Yasudahlah. Tidak akan sering ada momen begini lagi nanti.
"Yang ngurus rumah siapa sekarang?" tanya Juwita, penasaran juga.
Mustahil empat laki-laki hidup dalam rumah tang begitu besar tanpa wanita mengurusnya. Jadi mungkin ada orang baru, atau mungkin ibu mertua Juwita terpaksa pulang karena keadaan.
"Papa nyewa asisten sementara," jawab Banyu.
"Ngurus Cetta juga?"
"Enggak." Banyu mendorong ayunan yang Juwita duduki untuk bergerak lembut. "Cetta gue sama dia nih yang ngurus."
"Hmmm." Juwita langsung senyun tenang.
Ya tidak semua orang pasti seperti Mbak Uni, tapi Juwita lebih percaya kalau kakaknya yang mengurus langsung biarpun pasti tidak diurus sebaik tangan wanita.
Paling tidak ada gitu yang melihat Cetta sesekali. Toh, dia juga sekarang sudah besar.
"Juwita." Banyu terus mengayunkan ayunan tempat Juwita duduk, tapi menjaga agar ritmenya tidak terlalu kencang dan Juwita justru semakin pusing.
Walau tetap pusing. "Hmmm?" Juwita cuma bergumam, menatap Cetta yang lagi asik manjat-manjat di sana.
"Lo enggak mau pulang?"
__ADS_1
*