
Sementara Adji berada di rumah Ibu-nya Juwita dan Juwita tidur bersama Cetta, Abimanyu menghubungi adiknya yang sejak tadi tak mengangkat panggilan.
Anak itu biasanya tak mengabaikan panggilan, apalagi sudah sejak tadi pula Banyu keluar.
Butuh waktu cukup lama Abimanyu menunggu panggilan balik, sampai akhirnya Banyu benar-benar menghubungi.
"Lo di mana? Papa nanyain lo."
"Lo di rumah, Bang?"
Kenapa dia malah membalik pertanyaan orang?
Abimanyu mendengkus, tapi menjawab saja biar cepat. "Gue di rumah jadi kalo lo enggak balik cepet, Juwita nanti ngomel-ngomel."
"Well, can you come here ... now?"
"What? Are you even listening?"
Abimanyu tahu kadang Banyu itu bisa menjengkelkan tapi kenapa pula mendadak seperti Juwita begini?
"Come home NOW."
"Bang, gue lagi serius." Banyu merendahkan suaranya, seperti sedang berbisik. "Gue enggak bisa jelasin di sini jadi dateng sekarang. Jangan kasih tau Juwita, atau Papa."
Ada apa dengan bocah ini?
Tapi kayaknya dia serius, jadi Abimanyu mau tak mau penasaran. Ia menatap jam di tangannya, menyadari sekarang sudah memasuki sore.
Adji belum kembali.
__ADS_1
"Urgent banget?"
"Pake tanda seru."
"Papa enggak di rumah masalahnya."
"Kunciin aja rumah terus chat Papa. Buruan."
Kayaknya benar-benar penting sampai Banyu membiarkan Abimanyu meninggalkan Juwita sendirian, walau dengan catatan beritahu Adji.
Maka bergegas Abimanyu mengambil jaketnya. Tak lupa menulis note juga dan diletakkan di dekat Juwita biar dia membacanya jika bangun, lalu memberitahu Adji kebohongan yang bisa membuatnya dimaklumi keluar buru-buru meninggalkan Juwita.
Banyu pun mengirim lokasi tempatnya berada.
Yang bikin Abimanyu rada panik, itu karena tempat yang Banyu beritahukan ternyata adalah hotel mewah.
Apa yang dilakukan bocah itu di sini?
"Bang!"
Abimanyu berjalan cepat menghampiri adiknya. Sebagai seorang kakak, walau kadang paling bobrok, Abimanyu tak ingin adiknya ikut-ikutan punya masa lalu buruk.
"Lo kenapa?"
Banyu mengisyaratkan Abimanyu buat berpaling, menemukan sosok yang bikin nyawa Abimanyu serasa tercabut dari kerongkongan.
"Pa-pa-pak Presiden!" Abimanyu spontan membungkuk, gugup setengah mati bertemu salah satu orang terpenting di negara ini.
Gila, gila, gila! Apa yang dilakukan adiknya di sini?!
__ADS_1
"Saya udah mantan," ucap Pak Mahardika.
Spontan, Abimanyu melatah dan berkata, "Pak Mantan Presiden!"
"Kamu ngejek saya?"
Abimanyu mendadak kaku.
Walaupun beliau ini seorang mantan presiden, sebenarnya Abimanyu lebih mengingat beliau sebagai pelopor dari kompetisi Asgard yang dulu Abimanyu sangat ingin ikuti.
Jika Asgard yang merupakan sekolah naungan beliau tidak membuat kompetisi besar yang bahkan menyaingi tingkat nasional itu, maka mungkin kemajuan olahraga dan seni di negara ini masih terpuruk.
Abimanyu sangat menghormatinya. Adji pun sangat menghormatinya. Bahkan Mama pernah bekerja untuknya.
"Maaf, Pak, sa-saya—"
Mahesa Mahardika tertawa, mengibas-ngibaskan tangan santai. "Saya bercanda. Enggak perlu kaku kayak gitu. Sini, duduk ngobrol sama saya."
Abimanyu masih bertanya-tanya kenapa Banyu bisa terjebak di sini, berhubungan perpustakaan letaknya di arah yang cukup berbeda.
Namun ia tak bisa banyak tanya di depan orang penting hingga Abimanyu patuh.
Banyu pun duduk mengikutinya. Di meja, sudah terlihat bekas gelas cokelat yang kemungkinan besar diminum oleh Banyu.
"Abimanyu, kalau enggak salah kamu pemain voli? Adji pernah bilang sama saya, kalau anaknya berbakat."
Abimanyu tertegun.
Benarkah? Papa mengatakan hal semacam itu? Papa yang cuma tahu berkomentar dan bahkan paling malas mendengar berita klub Abimanyu?
__ADS_1
Padahal Abimanyu selalu berpikir bahwa Papa tidak terlalu peduli pada kemampuan Abimanyu. Abimanyu pikir karena ia atlet dan atlet tidak menghasilkan uang sepasti seorang pengusaha, Adji mungkin memandangnya tidak terlalu berguna.
*