Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Tak Ingin Menahannya Lagi


__ADS_3

Abimanyu langsung masuk ke kamarnya begitu Juwita pergi, masuk ke kamar mandi hanya untuk meninju cermin sebagai pelampiasan emosi.


"Fvck, fvck, fvck!" Abimanyu memukul-mukul kuat pinggiran wastafel tak peduli itu membuat tangannya sakit. "Shiit! Shiit! Shiit! FVCK!"


Seharusnya ia tak mengucapkan kalimat itu. Kalimat 'I love you' sudah cukup bermasalah dan menjauhkan Juwita darinya tapi mulut sialan ini malah meracau tentang hal lebih berbahaya!


"Udah pasti dia enggak mau lagi ngeliat gue." Abimanyu meninju tembok lagi dan lagi, abai pada darah yang menetes di tangannya. "Akh!"


Rasa sakit dari amukan juga emosi yang terlampiaskan setidaknya sedikit membuat Abimanyu tenang. Anak yang jelas sudah dianggap bermasalah dan super duper gila itu kini cuma mengeluarkan rokok dari sakunya, duduk bersandar pada tembok seperti pecundang sungguhan.


"Udah enggak bisa mundur," gumam Abimanyu. "Gue udah ngomong sekarang jadi mustahil bisa mundur."


Meracau tentang seharusnya Papa bercerai saja agar Juwita bersamanya itu benar-benar tidak waras. Mata Juwita tadi terlalu jelas. Dia sudah tidak menganggap Abimanyu sebagai sesuatu yang perlu dia sayangi.


Kalau begitu ... Abimanyu tak perlu menutupinya lagi, kan?


Semuanya. Segala yang selama ini ia tahan.


*


Adji merasa sedikit heran hari ini ia pulang tanpa disambut oleh istrinya. Anak-anak terlihat baik-baik saja di bawah jadi Adji tidak terlalu khawatir namun ketidakhadiran Juwita saat dia biasanya ada itu mengganggu.


Setelah mencium, menyapa dan berjanji akan bermain sebentar dengan anak-anak nanti, Adji langsung naik. Mendorong pintu kamar terbuka, sesuai dugaan menemukan Juwita di atas ranjang.

__ADS_1


"Sayang." Adji menutup pintu, menguncinya. "Kamu kenapa? Sakit?"


Banyu tidak menghubungi padahal biasanya dia yang tidak bisa tenang kalau Juwita sakit. Tapi saat Adji datang mendekati tempat tidur, Juwita tiba-tiba menariknya, mencium Adji tergesa-gesa.


Jelas saja Adji terkejut. Hubungan pernikahannya dan Juwita sudah melewati usia di mana istrinya malu-malu, namun Adji yakin Juwita tidak pernah sampai langsung menerkamnya begitu pulang.


Meski Adji tetap membalas ciuman intens itu dengan senang hati.


"Perasaan aku aja," bisik Adji di bibirnya, "atau belakang kamu emang lagi agresif? Kamu ngidam? Hamil?"


Juwita mencubit perutnya kesal yang justru dibalas tawa.


"Emang kenapa aku cium kamu? Suka-suka aku."


Adji mengusap kepala istrinya lembut. "Aku tau bukan suka-suka aja tapi aku enggak bakal nanya. Cerita sendiri kalo udah siap."


"It's not the right time, Baby," bisik Adji menolak tapi *******-***** provokatif pinggang Juwita. "Mas janji mau main sama bocah-bocah dulu."


"I know." Juwita justru menjilati lehernya, meninggalkan gigitan keras yang menyenangkan. "Mas."


Adji ditelan oleh euphoria. Pria itu tak pernah benci bagaimana cara Juwita memakannya di setiap sudut.


"Mas."

__ADS_1


"Yes," jawab Adji susah payah. "Yes, Baby?"


"I love you."


Adji mengerang, merasakan gairahnya melonjak ke puncak akibat bisikan manis itu.


"I love you, Mas. I love you. I love you."


Adji menyentak punggung Juwita padanya, menatap wajahnya, matanya, ekspresinya saat berusaha menyatukan diri mereka.


"Say it again," titah Adji dengan suara serak yang nyaman di telinga.


Juwita mengalungkan lengan ke lehernya dan memberikan bisikan yang lebih menggoda. "I love all of you, specially that one."


Adji menggigit kecil dagu Juwita saat tubuh mereka sepenuhnya menyatu dengan lembut. "This one?"


Juwita membuka mulut, hendak mengeluarkan kepuasannya saat tiba-tiba pintu diketuk.


"Papa lama banget! Katanya janji mau main!" teriak Lila.


Adji menutup mulut Juwita dengan ciumannya. "Tanggung," bisiknya sedikit terkekeh. "Main cepet, enggak pa-pa?"


Juwita cuma mengangguk bersamaan dengan mereka mendengar suara Cetta memanggil adiknya turun, karena 'Papa sedang mandi'.

__ADS_1


Anak itu mungkin paham kenapa Adji tidak menjawab meskipun anaknya berteriak.


*


__ADS_2