Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Anak Menjijikkan


__ADS_3

Tapi sebelum Juwita pergi, Abimanyu kembali menarik tangannya untuk berbalik.


"Kenapa lo enggak ngerti?" tuntut Abimanyu tanpa bisa berpikir jernih lagi. "Kenapa lo enggak bisa ngerti soal ini? Lo selalu ngerti! Selalu lebih ngerti dari semua orang tapi kenapa enggak sama ini?!"


"Emang aku harus ngerti apa soal kamu, Abimanyu?" Juwita membalasnya muak. "Aku udah berusaha ngerti kamu dari kemarin tapi kamu cuma bilang 'leave me alone, jangan ganggu gue, ini hidup gue'. Aku berusaha ngerti tapi aku justru keliatan bego! Kasih tau aku harus ngerti kayak gimana?!"


Abimanyu tidak tahu. Ia tidak tahu sebenarnya apa yang harus dimengerti tapi ia berharap Juwita mengerti.


Maka Abimanyu terhuyung, bersandar pada tembok dan mencengkram rambutnya sendiri. "Itu enggak adil," gumamnya, tak mampu lagi menahan air mata. "Itu enggak adil buat gue."


Melihat anak itu menangis, Juwita jelas ikut menangis. Banyu sudah sering mengatakannya bahwa Abimanyu adalah anak kesayangan Juwita. Sekalipun Abimanyu yang paling sering membuatnya menangis tapi Juwita selalu mencari Abimanyu paling pertama, pagi dan malam hari.


"Itu juga enggak adil buat aku," bisik Juwita frustrasi. "Aku mesti tanggung jawab kayak gimana soal kamu, Cahku? Bilang sama aku, bilang. Aku mesti gimana biar kamu enggak kayak gini?"


Dia bisa menemukan banyak perempuan yang lebih baik dan lebih menarik. Dia bisa kembali jadi Abimanyu yang ambisius walaupun sangat pemarah. Dia bisa memaksa Juwita untuk menemaninya lari keliling GBK lalu latihan memukul bola sampai rasanya tangan mereka bisa patah.

__ADS_1


Jadi katakan sebenarnya Juwita harus apa agar semua itu kembali?


Juwita berjongkok, meraih Abimanyu dalam pelukannya. Tubuh dia yang gemetaran akibat tangisan itu menunjukkan betapa kekanakan dia sebenarnya. Mungkin dia kembali hilang akal sebab masih mengingat luka kematian Melisa.


Ada banyak stok maaf Juwita untuk mereka, sangat banyak. Jadi sama sekali belum terlambat buat dia menyadari.


Tapi ....


"Gue mau lo," bisik Abimanyu. "Itu enggak berubah biarpun pernah ilang. Gue inget gue bilang ke elo, gue mau lo, Juwita. Gue enggak pernah bilang itu ke orang lain kecuali lo."


"Abimanyu—"


Juwita menatap anak itu tak percaya. Bagaimana bisa dia—


"Kenapa harus gue yang nyari orang baru?" Abimanyu menarik tangan Juwita ke bibirnya. "Kenapa bukan Papa aja? Papa bisa, Juwita, gue enggak bisa. Kalo gitu Papa aja, kenapa mesti gue?"

__ADS_1


Sesaat, Juwita percaya Abimanyu masih punya sedikit akal sehat dan kesadaran. Tapi sepertinya memang Juwita tidak boleh lagi berharap.


Anak ini sudah sepenuhnya rusak.


"Kamu tau, Bi? Kamu bikin jijik."


Tatapan Abimanyu yang semula layu kembali membara. "Kenapa Papa boleh sayang sama lo terus gue enggak?!"


"Kalo lo ngomongin soal agama, I don't fucking care about that bullshiit! I just want you! I just love you and God can do whatever He wants!"


Juwita ingin menamparnya namun mendadak berpikir bahwa tamparan dari komet pun mungkin tak mempan lagi bagi Abimanyu.


Maka Juwita menarik paksa tangannya, kini mundur sangat jauh. "Jangan nyebut Tuhan pake mulut kamu yang banyak dosa," ujarnya sebelum berbalik pergi, tak mau sedikitpun mendengar lanjutan racauan menjijikan itu.


Sekarang Juwita akan setuju pada Banyu. Bukan karena ia berubah pikiran atau karena merasa Banyu benar. Juwita cuma tak mau lagi membuang-buang waktu, energi dan perasaannya buat mengurus anak gila.

__ADS_1


Maaf, Mbak. Juwita cuma bisa berbisik pada Melisa dalam hatinya. Aku mau jagain titipan kamu, tapi aku enggak bisa terus ngorbanin diri sendiri, terutama buat kesalahan anak kamu sendiri.


*


__ADS_2