Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
92. Mana Yang Harus Ditanyakan


__ADS_3

"Iya, Pa, ini aku sama Juwita. Dia bilang mau keliling nyari Abang. Iya. Iya, aku jagain."


Banyu terpaksa berbohong, mengikuti perkataan Juwita meski dia sebenarnya mau bicara agar Abimanyu ditampar bolak-balik.


"Terus gimana sekarang?" tanya anak itu.


"Kamu jagain Abi dulu. Aku ada urusan sama orang lain."


"Gak. Lo enggak boleh pergi sendiri."


Juwita menatap dingin anak tirinya. "Jangan ajak aku bercanda sekarang."


Banyu bahkan tersentak melihat ekspresi Juwita yang tak pernah dia lihat kecuali saat memukul Mbak Uni. Perempuan itu langsung pergi, nampak seperti orang yang kalau membunuh pun tidak akan menyesal.


Dan mungkin. memang tidak salah.


Juwita sekarang sangat mau mencekik Ajeng.


Juwita berlari melewati jalan yang tidak disentuh oleh Adji lagi, yakin bahwa Ajeng pasti masih berada di gedung sekolah.


Perempuan itu tidak akan bisa lewat dengan begitu banyak orang-orang Adji.


Sialan. Dia mengajari Abimanyu sesuatu yang tidak seharusnya. Kalau Juwita tidak merobek mulutnya, paling tidak ia harus mematahkan tangannya.


Di sisi lain, Ajeng masuk ke laboratorium kosong di mana patnernya sudah menunggu.


Perempuan itu tertawa kecil, menjempit rambutnya tinggi-tinggi karena berkeringat.


"Lo enggak pa-pa?" tanya partnernya, merangkul Ajeng mesra.


"Juwita ngeliat gue, tapi kayaknya enggak pa-pa."

__ADS_1


"Hmmm." Patner Ajeng itu mengintip lewat jendela, beberapa menit sampai Juwita terlihat berlari kecil mendekat.


Perempuan itu membuka satu per satu kelas kosong yang dia lewati.


"Dia mau buka kelas. Pindah ke pintu."


Ajeng menuju ke pintu, berdiri menunggu Juwita mendorong pintu laboratorium terbuka hingga Ajeng otomatis tersembunyi di belakangnya.


Namun saat itulah sesuatu yang tidak ia duga terjadi.


Partnernya mendorong badan Ajeng tersungkur, tepat di depan Juwita.


"Lo—"


Juwita sudah menyambar leher Ajeng dan mencekiknya.


Tentu saja Ajeng memberi perlawanan.


"Lo apain anak gue, bangsat?" desis Juwita penuh kebencian. "Lo mau apa lagi, hah? Ketemu gue kalo masalah lo sama gue, bukan anak gue."


Kebencian besar dalam diri Juwita sangat ingin menganiaya Ajeng.


Perasaan sakitnya dipukuli saat bersama Banyu dulu, lalu ia dipukul batako hingga koma beberapa hari, lalu Ajeng malah menyuruh Mbak Uni melukainya, dan sekarang dia merusak Abimanyu.


Juwita mau mencekik dia sampai dia pun koma seumur hidup.


"Kasih tau gue otak lo di mana! Biar gue ambilin buat lo pake! Jawab!"


Ajeng memberontak keras, menendang wajah Juwita hingga berhasil.


Namun Juwita tak mau membiarkan dia lari. Jadi saat Ajeng mengangkat kursi memukulnya, Juwita menepis dengan lengan, membiarkan tangannya sakit luar biasa hanya demi meraih Ajeng lagi.

__ADS_1


Kali ini Juwita membanting badan Ajeng ke lantai, mencekiknya lebih keras.


"Enggak bakal gue biarin lagi, anjing! Enggak bakal! Lo mau apa, hah?! Ngerasa berhak banget lo ngatur idup gue?! Mati lo sama gue, mati!"


Juwita sangat membencinya. Sangat-sangat membencinya sampai Juwita mau membunuhnya.


"Brengsekk! Cewek gila! Ampas kayak lo enggak pantes idup!"


Sebelum Juwita benar-benar kalap, tangannya ditarik paksa agar lepas dari leher Ajeng.


"Dia udah pingsan. Udah."


Juwita menatap orang itu, perlahan justru bulir-bulir air matanya jatuh, disusul tangisan kencang frustrasi.


"Emang lo tuh begini terus, Wi."


Pria itu berjongkok, mengambil Juwita dalam pelukannya.


"Udah, udah. Enggak usah nangis."


Juwita malah menangis semakin kencang. "Gue enggak ngapa-ngapain," adunya sambil terisak. "Gue enggak ngapa-ngapain dia, Mas. Tapi, hiks, tapi dia gangguin gue terus. Gue, hiks, gue—"


"Ssshhh, udah, udah. Gue udah denger. Udah, yah."


"Juwita."


Mereka berdua mendongak, melihat Adji berdiri di pintu dengan raut wajah dingin.


Perhatian Adji tertuju pada Ajeng, namun seketika berpindah pada posisi tangan pria itu di punggung Juwita, dan Juwita yang menangis di dadanya.


Mana yang harus Adji tanyakan? Kenapa Ajeng di sini atau kenapa orang asing itu memeluk istrinya?

__ADS_1


*


__ADS_2