Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Berhenti atau Pergi


__ADS_3

Juwita tak tahu sejauh apa Adji tahu. Ia tak bisa tahu seberapa banyak dia tahu. Namun ... setidaknya belum sampai pada ucapan Abimanyu kemarin, kan? Karena dia masih menatap Juwita seperti biasa.


Walau Juwita rasa itu juga bukan berita baik.


Selesai dengan urusan baju dan lain-lain, Adji memboyong mereka makan ke restoran tempat dia dan Juwita sering berkencan di hari-hari 'bebas anak' sekali sebulan. Selama perjalan, Juwita tak bisa berhenti gelisah.


Itu mungkin terlalu jelas sampai Mama berkata, "Gimana kalo kita pisah aja? Kamu sama Juwita pesen tempat lain, biar anak-anak sama Mama."


Tidak. Juwita tidak mau berdua dengan Adji sekarang saat pikirannya sedang kacau. Tapi Adji menerima tawaran itu tanpa beban, pergi berpamitan dengan anak-anaknya.


Mereka masuk ke tempat VIP yang lebih intim, disuguhi oleh steak ribs kesukaan Adji.


"Mau aku suapin, Sayang?" Adji bertanya karena Juwita tak kunjung memegang peralatan makan. "What's up, Baby? Kamu diem aja dari tadi."


Haruskah Juwita bertanya? Tapi kalau itu hanya dugaannya, sama saja Juwita mengatakan sesuatu yang terlalu menjijikan untuk didengar. Terutama oleh seorang ayah.


Mata Juwita mendadak panas dan berkaca-kaca.


"Aku mau curhat," ucapnya setelah itu. "Tapi dengerin aja. Kamu ... enggak perlu ngomong apa-apa."


Adji meletakkan alat makannya seketika. "Sure, Baby. Tell me everything."

__ADS_1


Tangan Juwita terulur, meraih tangan Adji untuk digenggam. Berulang kali menarik dan membuang napas sebelum berbicara.


"Sometimes, aku ngerasa kita enggak harusnya sama-sama."


Adji meremas lembut tangan Juwita sebagai respons namun sesuai kata Juwita, dia diam mendengar, tidak berbicara.


"Bukan karena aku ngerasa kurang, Mas. Sama sekali bukan. Maksud aku, kayak ... hal-hal yang dateng di antara kita seakan-akan bilang kita enggak ditakdirin buat sama-sama."


Itu terdengar seperti mereka berjodoh karena Juwita kebetulan menyelamata Cetta, lalu istrinya Adji meminta Adji menikahi Juwita demi menggantikannya, dan kebetulan ternyata Adji kerabat Juwita juga.


Terdengar seperti jodoh.


Tapi Juwita tidak melupakan penolakan anak-anak Adji. Saat mereka, terutama Abimanyu dan Banyu melampiaskan kekesalan dan kesedihan mereka pada Juwita. Tentu saja, setelah itu mereka menerimanya.


Juwita seharusnya tidak pernah bertemu mereka, semua dari mereka.


"Jelas, aku juga enggak lupa kalo aku super duper bahagia sama kamu." Juwita membawa tangan Adji ke bibirnya, mencium tangan yang telah menggenggamnya di setiap saat Juwita putus asa, juga bahagia. "Aku ... aku cuma mau bilang kalau aku lagi capek. Overthinking sama banyak hal. Mungkin bakal sering aneh jadi ...."


"Hei, it's okay." Adji beranjak, menarik kursinya untuk bergeser ke samping Juwita.


Dengan lembut pria itu menuntun Juwita dalam pelukannya, lagi-lagi mengusap lembut punggungnya seakan dia mau Juwita merasa ia adalah perempuan paling tersayang di dunia ini.

__ADS_1


"Mas enggak mau banyak ngomong terus bikin kamu badmood tapi, seenggaknya Mas mau bilang ini." Adji memegang dagu Juwita, mengecup sangat lama bibirnya. "Jatuh cinta sama kamu bikin semua omong kosong nyebelin di hidup Mas jadi enggak penting sama sekali."


Juwita memejam ketika Adji mencium telapak tangannya.


"Sampe detik ini Mas enggak pernah, sedikitpun, nyesel milih kamu."


Juwita tersenyum. Dan sejujurnya ia selalu tersenyum setiap kali Adji mengatakan itu karena dia tahu Juwita menyukainya.


"Aku juga. Aku enggak pernah nyesel bahkan kalau aku sering mikir kayak tadi. Mungkin selamanya aku bakal milih kamu, Mas."


"Itu lebih bagus." Adji tersenyum mencium dagunya dan menatap manis pada Juwita. "Mas enggak bakal lepasin tangan kamu."


Sepertinya Juwita tak perlu membicarakan Abimanyu. Entah apa yang Adji tahu, sikapnya sekarang menunjukkan dia memilih mereka berdua tetap bersama.


"Mas."


"Hm?"


"Kayaknya aku butuh Mbak di rumah. Buat bantu-bantu sementara."


Juwita selalu menolak karena ia ingin fokus, secara utuh, hadir sebagai satu-satunya 'pembantu' dalam hidup anak-anaknya. Namun Juwita merasa sekarang ia tak akan fokus sampai benar-benar memastikan Abimanyu berhenti.

__ADS_1


Atau pergi.


*


__ADS_2