
Belanja.
Juwita suka belanja, tapi selama ini Juwita sering menahan diri karena sesuai perjanjian mahar Juwita, Adji harus menghidupi orang tuanya, membantu bisnis mereka selama sepuluh tahun full. Makanya Juwita jarang meminta. Apalagi barang-barang bekas Melisa yang mahal-mahal juga tidak semuanya berfungsi di rumah, jadi tidak berguna membeli yang baru.
Hari ini, Juwita berpikir tidak menahan diri. Mereka memasuki butik yang seluruh isinya berharga tidak main-main dan tidak mungkin dimasuki kecuali membawa seseorang seperti Adji.
Juwita memeluk erat lengan Adji. "Mbak-mbaknya ngeliatin kita," bisik Juwita.
Adji tersenyum kecil. "Mungkin karena kamu enggak pake dress seksi tapi malah baju tidur."
"Kamu cuma pake sendal jepit, celana pendek, kaos murah," balas Juwita tak mau kalah.
Suaminya merangkul Juwita. "Yang penting dompet."
Itu agak lucu dan menghibur sebab mereka benar-benar disangka pencuri saking sederhana pakaian mereka. Tapi Juwita bertingkah seakan-akan ia sugar baby di film-film CEO, menyambar barang-barang seolah semuanya cuma berharga dua ribu.
"Aku enggak pernah dateng ke sini seumur hidup." Juwita menatap tas yang nampak sangat-sangat elegan dan memancarkan kemahalan itu. "Ternyata ngabisin duit suami ternyata enak juga."
Adji tergelak. "Quid pro quo, Sweetheart. You doosie I doosie."
Juwita berkacak pinggang. "Itu maksudnya aku harus bayar ini sama 'service' di tempat lain, hm?"
__ADS_1
"Exactly."
"Alright tapi siap-siap dompet kamu kosong."
"Do whatever you want, Baby. Mas cuma nunggu 'dessert'."
Orang-orang yang tadi menatap Juwita dan Adji seolah mereka berdua gila langsung terlihat canggung saat semua belanjaan Juwita dijumlahkan.
Saat mereka sedang membungkusnya, Juwita menatap Adji untuk berkata, "Berlian, boleh?"
Adji menatap Juwita penasaran. "Okay tapi kamu enggak mau bilang kenapa tiba-tiba? Soalnya biasanya kamu enggak mau."
Itu ... untuk Abimanyu.
Dia tidak pernah melihat Juwita menghambur-hamburkan uang. Tidak pernah. Mungkin dia berpikir bahwa Juwita adalah wanita manis yang tidak menginginkan harta pria sekalipun sudah bertahun-tahun menikahinya.
Jadi bagaimana jika dia melihat Juwita pergi malam-malam memakai baju tidur untuk menghabiskan uang miliaran bersama suaminya yang tidak meringis akan tagihan itu?
Yah, orang bilang wanita cemburu pada kecantikan wanita lainnya, sementara laki-laki cemburu pada dompet lelaki lainnya.
"Udah lama aku enggak muncul depan keluarga kamu," jawab Juwita kemudian. "Sesekali aku mau muncul jadi Nyonya Besar yang dari atas ke bawah mahal semua. Super duper spektakuler. Lucu kan kalo keluarga kamu nanyain 'omg, itu yang harganya segitu yah'."
__ADS_1
Adji terkekeh, tapi memeluk Juwita tanpa masalah.
"Harusnya bilang dari kemarin, kita bisa ke Singapur belanja."
Sayangnya Juwita baru berpikir begitu tadi. Tapi seharusnya ini sepadan.
Dan semoga berhasil.
*
Abimanyu menatap ponselnya yang menampilkan lokasi Juwita dan Adji sekarang berada. Mungkin Juwita lupa bahwa sebelum semuanya berantakan, dia membiarkan Abimanyu, Banyu, dan Cetta untuk selalu bisa melacak di mana keberadaannya demi mencegah kejadian buruk.
Abimanyu memanfaatkan kepergian Juwita untuk bisa pergi juga, sebab ia tak bisa tidur ataupun tenang di kamar memikirkan besok ada pernikahan bodoh untuknya.
Baru saja Abimanyu melangkah meninggalkan kamar, suara tangisan Yunia lagi-lagi terdengar. Abimanyu spontan memutar langkahnya, menengok bayi dua tahun itu tengah duduk memeluk boneka.
"Hei, Baby." Abimanyu menggendongnya, menepuk-nepuk punggung Yunia. "Kamu kenapa?"
Yunia memeluk erat lehernya tanpa mengatakan apa-apa.
"Kamu kenapa gampang banget nangis." Abimanyu bergumam, mencium wajah Yunia yang bersimbah air mata. "Persis kayak Juwita."
__ADS_1
Niat Abimanyu pergi akhirnya batal, namun ia kembali ke kamarnya dan membiarkan Yunia tidur di sana. Saat dia tidur dalam pelukan seseorang, setidaknya Yunia tidak akan menangis.
*