
Beda dari keluarga Ayah, Juwita dekat dengan keluarga Ibu. Tapi memang keluarga Ibu kebanyakan hidup berkecukupan—tidak super miskin, tapi tidak kaya, jadi sulit untuk membantu banyak.
Jelas waktu Ibu bolak-balik rumah sakit, Bima adalah salah satu yang membantunya, tapi dia pun masih muda. Bima baru berusia dua puluh lima tahun, berdomisili di Bali setelah menikah.
Dulu waktu SMA, Juwita sering jalan dengan Bima dan dikira pacaran. Jadi kadang-kadang Juwita dan Bima memang suka iseng membuat kesan mereka punya hubungan, padahal dia adik bungsunya Ibu.
"Lo kenapa sama Ajeng?"
Saking dekatnya, Juwita bicara dengan Bima seolah bicara dengan sahabat sendiri.
"Adit cerita ke gue." Bima mengusap-usap lengan Juwita tanpa bosan. "Yaudah gue ke Jakarta. Terus gue ketemu Sandy juga. Waktu gue denger, lo tau, mau gue racun tikus tuh cewek."
Juwita mendengkus. Tak sengaja melihat Cetta mengintip penasaran, tapi malu mendekat.
"Cahku, sini."
"Anak bungsu laki lo?"
"Um." Juwita langsung memeluk Cetta, mengangkat dia ke pangkuannya. "Nih, kenalin, Omnya aku. Kamu panggil dia Kakek."
Tapi omong-omong Adji tidak turun. Padahal Juwita mau mengenalkan mereka. Tadi Juwita tidak sadar karena sibuk menangis, dan merasa sangat emosional.
"Bocahku yang besar, Mas?"
"Tenang aja. Udah gue minta Sandy jemput dia."
"Kalo dia kenapa-napa gimana?"
Bima mencubit hidungnya. "Mau jemput?"
"Sekarang?"
"Iyalah. Udah enggak sakit kepala, kan?"
Cetta memeluk leher Juwita. "Cetta ikut."
__ADS_1
"Di rumah dulu kamu, Sayang," tolak Juwita halus.
Bukan apa-apa. Cetta selalu mengamati segala sesuatu baru melaporkannya pada mereka. Kalau dia melihat Abimanyu mabuk, Cetta pasti akan bicara pada Adji.
"Sana dulu sama Oma. Nanti pulang aku beliin cokelat sama es krim."
"Bilang aja lo mau juga," ledek Bima.
"Sekalian."
Juwita beranjak, menyerahkan Cetta pada mertuanya sekaligus memberitahu bahwa ia mau keluar dengan Bima. Juwita tidak naik minta izin pada Adji, karena Juwita pikir Adji sedang sibuk mengurus masalah Ajeng.
Khawatir mengganggunya.
Lebih baik Juwita selesaikan apa yang bisa ia selesaikan, agar Adji tidak merasa ditambah masalahnya.
Sepanjang perjalanan, Juwita menceritakan duduk permasalahan pada Bima.
Tentang bagaimana itu bermula, tentang apa saja yang Ajeng lakukan, dan kekhawatirannya kalau perempuan itu sudah terlalu gila sampai mengincar Abimanyu.
"Gue yang ngusulin ke Ajeng buat bikin masalah di sekolah anak lo."
"Hah?"
Buma tersenyum. "Yah, nanti lo juga ngerti."
Juwita memiringkan wajah tak paham, tapi menerima. Toh nanti ia paham kan, katanya?
Waktu tiba di tempat Abimanyu diamankan, ternyata anak itu sedang muntah-muntah di wastafel.
Juwita masuk ke kamar mandi tersebut, menyuruh Banyu untuk mundur agar Juwita bisa memijat tengkuk Abimanyu.
Hah, dasar anak sontoloyo.
Kalau dia punya masalah, ya dia seharusnya curhat pada Juwita, pada Banyu, atau minimal curhat pada bola lalu pukul bolanya keras-keras ketika emosi. Bayangkan saja bola itu masalahnya, agar dia lega.
__ADS_1
Bukan malah terjebak dalam permainannya Ajeng.
"Juwita." Abimanyu menyadari keberadaan Juwita, menoleh dengan muka kacau oleh alkohol.
Tentu, Juwita sulit menahan ekspresi kecewanya.
Kalau Juwita diprotes karena rambutnya Abimanyu kepanjangan, ya Juwita bodo amat. Namun kalau Juwita diprotes anak tirinya minum alkohol, Juwita rasa ia bakal menangis di pojokan menyalahkan diri sendiri.
Perempuan itu pusatnya keluarga. Kalau suami atau anak laki-laki liar, Juwita tahu yang harus paling awal diperbaiki itu ibunya.
"Cahku, Cahku." Juwita mengusap kepala Abimanyu miris. "Mamamu nitipin kamu bukan buat begini. Kecewa aku, Bi."
Abimanyu muntah lagi.
Tampak tercekik oleh perasaannya sendiri hingga Juwita tahu anak ini dicekoki sangat banyak minuman.
Akh! Harusnya Juwita cekik saja Ajeng tadi sampai mati!
"Pelan-pelan, Sayang. Muntah aja."
Abimanyu menjatuhkan kepalanya ke pinggiran wastafel dan mungkin akan terbentur kalau Juwita tidak cepat menyangga.
"Kecewa karena apa?" gumam dia, masih setengah sadar. "Kecewa karena gue suka?"
"Udah, diem dulu. Muntah baru kita keluar."
Abimanyu malah selonjoran. "Gue suka, Juwita."
"Suka apa?"
"Elo."
Juwita dipaksa terbelalak.
*
__ADS_1