Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
86. Lo Cantik


__ADS_3

"Halo, Cahku." Juwita langsung memanggil anak tiri pertamanya begitu panggilan tersambung. "Kamu di mana? Kok belum pulang?"


"Latihan."


"Udah jam setengah enam loh ini, Sayang. Enggak latihan di rumah aja habis makan?"


".... Gak, gue lagi sibuk."


Juwita mengerutkan kening, langsung peka kalau Abimanyu dalam mood yang buruk. Kenapa? Ada masalah lagi dengan teman sekolahnya?


Ah, iya sih turnamen di depan mata. Mungkin karena itu.


"Yaudah, semangat yah. Protein sama asam aminonya jangan lupa."


"Hm."


"Dah."


"Hm."


Juwita memiringkan wajah keheranan. Sudah lama juga rasanya tidak bicara pada anak tirinya dengan nada malas-malasan begini.


"Abi katanya latihan, Mas." Juwita kembali ke meja makan, duduk di samping Adji dan Cetta. "Pulang telat kayaknya. Nanti aku siapin makanan buat dia sendiri."


"Enggak bilang pulang jam berapa?"


"Enggak."


Karena si Sontoloyo pertama itu memang bukan anak nakal yang sukanya pulang telat buat main, Adji juga tidak terlalu khawatir. Satu-satunya alasan Abimanyu pulang telat pasti soal voli, jadi itu bukan kegiatan yang perlu ditegur siapa-siapa.


Cuma, Juwita diam-diam cemas. Abimanyu dikawal ke sekolah, tapi tetap saja Ajeng itu gila. Dan kalaupun tidak, nada lesu Abimanyu tadi bikin cemas.


Alhasil, Juwita menunggu di teras rumah bersama Banyu buat memastikan anak tirinya pulang.


"HP-ku ada sama kalian atau sama Papa?"

__ADS_1


"Emang kenapa?" tanya Banyu protektif.


"Ya masa aku enggak pake HP, Banyu? Helo, jaman apakah ini? Jaman monyet-kah?"


"Beli lagi yang baru."


Juwita menarik jambang Banyu hingga anak itu menjerit. "Enggak boleh yah, mentang-mentang uang Papamu banyak. Bela-beli-bela-beli. Cari uang itu susah."


Banyu menggosok jambangnya dongkol. "Terus Papa kerja buat apa kalo enggak dipake duitnya, begoo?!"


"Ya banyaklah!" sembur Juwita keki. "Buat Mama Papa, buat buka usaha baru, buat nyumbang orang enggak mampu. Kamu udah punya rumah gede, makan terserah kamu tiap hari, masih aja semena-mena."


Juwita menggeleng-gelengkan kepala.


"Awas aja kamu ya kalo nanti udah kuliah. Kubilang sama Papa, Abi sama Banyu enggak boleh dikasih uang jajan. Kerja sendiri cari uang."


Banyu cuma mendengkus, tidak lagi membalas apa-apa.


Ada hening sejenak di antara mereka. Juwita mengoleskan badannya minyak telon menghalau nyamuk, tapi yang terundang malah Cetta.


"Kakak, Cetta mau main."


Anak itu duduk di pangkuan Juwita, mencari posisi pas bersandar sambil main iPad di tangannya.


Memang bagi mereka, Juwita itu cuma alat bantu.


Kalau bukan alat bantu masak, ya alat bantu duduk.


"Oma tadi bilang mau ngajarin kamu Bahasa Inggris. Kenapa malah main, hah?"


"Udah."


"Udah apa? Udah Oma ngomong kamunya kabur?"


Pipi Cetta jadi bulan-bulan tangan Juwita. Dicubit-cubit sesuka hati sementara anak itu hanya meringis kecil, fokus pada layar.

__ADS_1


"Juwita." Tiba-tiba, Banyu memanggilnya.


Suara dia agak serius, makanya Juwita pun menjawab tanpa canda. "Apa?"


"Lo udah suka sama Papa?"


"Maksudnya?"


"Ya gitu."


Juwita memiringkan wajah, sempat tidak paham. Tapi beberapa saat kemudian Juwita mengerti dan tertawa kecil.


"Kalo enggak suka mana mau aku ngurusin kalian, bocah."


Juwita mengacak-acak rambut Banyu, merasa lucu karena bocah itu malah kepikiran soal urusan yang menurutnya bukan urusan dia.


Memang yah, anak ini kelakuannya yang paling bikin sakit kepala, tapi dia juga yang paling banyak kepikiran.


"Maksud gue," Banyu menepis tangannya pelan, memegang pergelangan tangan Juwita tanpa menyakitinya, "lo enggak ngerasa lo bisa dapet yang seumuran lo?"


"Hm?"


"Ya, lo kan ...."


"Hm?"


Senyum Juwita merekah lebar, mendekatkan wajahnya pada Banyu hingga anak itu mundur.


"Hmmmmmmm? Aku apa, Sayangku? Aku apa, hmmmmm?"


Banyu menatapnya kesal sekaligus tidak berdaya. "Lo—"


"Aku apaaaaaaaa? Bilang dong yang jelas. Ayo, ayo, ayo. Bilang yang jelas."


Banyu berdecak kesal. Mendorong bahunya agar duduk tegak lagi. "Lo cantik," kata dia ogah-ogahan.

__ADS_1


Juwita langsung bersorak kegirangan.


*


__ADS_2