
"Kalian baik-baik sama Abang, yah? Ibu pergi dulu."
Adji hanya diam menyaksikan Juwita pamit pada anak-anaknya. Mau bagaimana lagi jika dia full time sebagai ibu rumah tangga. Bahkan kata Banyu jika Juwita tak terlihat di rumah, maka harus dipertanyakan apakah mereka pindah dunia atau salah masuk rumah karena memang sangat jarang Juwita keluar.
Suasana rumah memang agak kurang baik sejak kepergian Abimanyu. Terutama bagi mental anak-anak yang masih terus bertanya kapan Abimanyu pulang. Maka dari itu Adji berpikir mengubah suasana.
"Cetta enggak keluar kamar dari kemarin," kata Juwita begitu masuk ke mobil. "Yuni juga maunya tidur sama Cetta aja. Enggak mau sama aku malah."
"Mereka sama Abimanyu dari lahir. Butuh waktu buat adaptasi."
Juwita mengangguk, tak membalas lagi. Mobil Adji terus berjalan membelah jalanan kota, melaju cukup santai untuk menikmati waktu.
"Mas," panggil Juwita setelah sekian lama diam.
"Hm?"
"Aku ngerasa kamu kayak ada pikiran."
Tentu saja. Itu pikiran yang sulit Adji kendalikan. Makin dan makin Adji memikirkannya, makin ia sadar bahwa hubungan mereka itu tidak berlandaskan ketulusan.
Tentu saja di dalamnya ada sangat banyak ketulusan.
Adji mencintainya, Juwita mencintai Adji pula dan mereka membesarkan anak bersama-sama, termasuk anak Adji dari istri sebelumnya.
Namun ... kenapa rasanya jauh?
"Juwita."
"Ya?"
"Kalau ada pilihan buat kamu milih kehidupan lain kamu bakal milih?"
"Pilihan?" Juwita memiringkan wajah. "Aku bakal selalu milih Mas sekalipun ada pilihan."
__ADS_1
"Tapi gimana kalau ada pilihan buat enggak milih Mas sama sekali?"
".... Aku—"
"Jawab nanti, tolong." Adji sekilas menoleh. "Bukan sekarang. Pikiran baik-baik dulu."
Juwita merasa itu agak tidak normal tapi ia mengangguk, memikirkannya baik-baik. Lagipula pertanyaan itu juga sangat filosofis. Seolah ada jawaban dari sekadar kata 'ya' dan 'tidak'.
Selama Juwita berpikir mobil terus melaju sampai akhirnya mereka tiba di depan gerbang sebuah kediaman. Juwita mengerutkan kening begitu gerbang terbuka dan mobil Adji kembali melaju melewati padang rumput luas yang merupakan 'halaman' rumah itu.
"Mas, jangan bilang kamu mau beli ini? Ini bukan rumah presiden, Mas?"
Adji tertawa kecil. "Masih banyak yang lebih mewah. Cuma Mas pilih ini karena halamannya luas. Anak-anak bisa main."
Juwita menelan ludah. "Kalo ulernya Cetta dilepasin di sini beranak-pinak juga bisa kali, Mas, ya ampun."
"Liat-liat dulu."
Kayaknya tanah untuk halaman lebih luas daripada tanah untuk rumahnya.
Juwita melangkah di atas rumput-rumput yang terpangkas rapi. Mendekati sebuah pohon tua yang di salah satu cabangnya tergantung ayunan. Wanita itu duduk di sana, memejamkan matanya saat berayun.
Saking fokus pada ayunan, Juwita tak memerhatikan Adji tengah menatapnya lekat.
Cantik. Istrinya adalah wanita cantik. Bukan sangat cantik, jujur saja, karena masih ada banyak yang lebih cantik. Tapi memandang Juwita terasa berbeda. Saat dia tersenyum, saat dia memejamkan matanya lembut, Adji merasakan ketenangan luar biasa dalam jiwnya.
Abimanyu mungkin terpikat pada hal itu. Karena jika dipikir dengan logika, bukankah semua perempuan-perempuan yang dia koleksi dan jadikan pelampiasan itu bisa saja lebih cantik dari Juwita? Meski begitu matanya terpaku pada Juwita.
Seolah-olah hanya Juwita wanita di dunia ini.
"Kamu udah mikirin?" tanya Adji di tengah aktivitasnya memandang sang istri. "Jawaban soal pertanyaan Mas tadi."
Juwita membuka matanya yang sempat terpejam.
__ADS_1
"Kalau ada pilihan, yang enggak nyakitin siapa pun termasuk Mas, anak-anak, atau siapa pun yang kamu khawatir bakal sakit hati—enggak ada satupun yang bakal menderita termasuk diri kamu kalau kamu milih pergi ke hidup lain, pasangan lain, anak-anak yang lain, kamu mau milih?"
Juwita wanita yang lembut sampai kadang-kadang dia melukai dirinya sendiri demi hal itu. Jadi kalau semisal dia bisa tetap jadi dirinya, tidak menyakiti siapa pun tapi bisa memilih sesuatu yang lain, maukah dia pergi?
Tidak memilih Adji dan semua masalah yang dia dapatkan dalam hidup Adji?
"Kamu terlalu overthinking, Mas." Juwita beranjak, menarik lengan Adji untuk mendekat kemudian duduk lagi di ayunan itu.
Wanita itu mendongak, menatap wajah Adji yang fokus memandangnya.
"Satu-satunya hal yang enggak mau aku sesalin di dunia ini cuma kamu. Emang siapa sih yang lebih beruntung dari aku? Punya suami yang rela ngelakuin apa aja—walaupun yah, kamu agak terlalu pendiem—punya anak tiri yang sayang banget sama aku dan punya anak yang disayang banget sama kalian semua."
"...."
"Cuma karena orang benci aku, cuma karena mereka bilang aku enggak pantes, enggak berarti itu bikin kebahagiaan aku sama kalian kurang."
"...."
"Kalau ada pilihan lain, Mas, aku bakal milih kamu lagi even itu susah."
Bibir Adji mau tak mau tersenyum. Pria itu membungkuk, meraih wajah Juwita untuk menciumnya.
"Makasih, Sayang." Adji mengecup keningnya dan tersenyum. "Kamu selalu bikin Mas ngerasa dunia baik-baik aja."
Diizinkan bersamanya, ditakdirkan bersamanya mungkin adalah salah satu hadiah terbaik yang pernah Adji terima dari Tuhan.
*
mungkin karena author lagi sibuk juga, walaupun pengen bikin adegan super romantis dan waw-waw malah stuck sendiri. kapan-kapan kalau author udah kepikiran mungkin bakal nambahin tapi kalau enggak, kita berpisah di sini dan siap-siap ke Abimanyu.
terima kasih buat semua readers sejauh ini, nemenin author menyelami juwita. walaupun enggak seratus persen memuaskan karena tentu karya ini banyak kekurangan, terima kasih karena tetap mau baca.
🙏🙏🙏
__ADS_1