
"India," ucap Rose saat mengamati peta dari benua Asia yang tersaji di atas meja raksasa itu. "Pencarian ke tiga belas di negara ini kuharap membuahkan hasil."
Memang tidak lucu rasanya Rose mencari seekor anak kecil selama sepuluh tahun, namun ini membuktikan cukup banyak. Kemampuan Rose, Damar, Dion masih jauh jika dibandingkan dengan Mahesa Mahardika.
Itu membuatnya sangat kesal setiap kali ia memikirkan dipermainkan oleh lawan politik dari mendiang pamannya sendiri.
Tapi Rose sudah bersumpah akan mencari anak itu. Tidak peduli memakan waktu berapa lama, akan ia temukan bahkan kalau yang tersisa hanya tulang belulang.
"Bagaimana dengan Kisa? Dia sudah siap mencarinya, kan?"
"Sudah, Nona." Abirama yang menjawab. "Tim lapangan juga sudah siap. Izin masuk dari pemerintahan daerah juga sudah dipastikan."
"Bagus, kalau begitu—"
Rose baru saja ingin berkata 'bergerak dan temukan anak itu' ketika tiba-tiba gambar peta di meja menjadi abstrak. Alarm khusus langsung berbunyi, sebuah pertanda bahwa seseorang coba meretas sistem istana.
Seisi ruang rapat seketika tegang. Peretasan semacam ini bukannya tidak sering terjadi, namun Rose punya firasat.
Dan hal itu langsung dikonfirmasi oleh Olivia.
"Mereka ninggalin video." Olivia memerintahkan divisi siber istana memutar video tersebut pada layar di meja rapat.
Rose langsung memicing saat wajah Zayn tampak dengan senyum khasnya.
"Olla, meamor," sapanya dengan aksen Spanyol yang kental.
Tapi Rose sudah tahu itu cuma tipuan kecil agar orang berpikir dia sedang berada di negara yang menggunakan bahasa serupa. Rose sudah mencarinya ke seluruh penjuru.
"How is it going, Young Lady? Masih sibuk nyariin rakyat jelata ini? Apa Tuan Putri serindu itu sama saya?"
Rose melipat tangan. Mengepal tangannya kuat-kuat karena marah setiap kali ia berpikir dipermainkan rakyat jelata macam Zayn.
"Tuan Putri mungkin mau basa-basi yang panjang sama saya karena rindu, tapi saya orangnya pemalu bikin video begini. Jadi saya cuma mau bilang sesuatu."
Zayn tersenyum saat matanya seakan-akan tahu di mana Rose dan menatapnya tanpa ragu.
"Saya di India."
Ekspresi Rose seketika murka.
"Kamu menghinaku?!" teriaknya keras padahal tahu itu cuma video. Rose jelas tidak akan terima jika seseorang seperti berkata 'apa boleh buat kamu bodoh, jadi aku kasih tau aja jawabannya apa'.
Rose sudah dua belas kali mengirim tim pencari ke India dan sedikitpun tidak pernah menemukan petunjuk soal Nabila. Namun sekarang orang ini tertawa seolah-olah mengejek 'kasian, udah nyari berkali-kali belum ketemu juga'.
"Rose." Olivia mengangkat tangan, memintanya diam karena Zayn masih punya sesuatu untuk dikatakan.
"Saya tungguin Abimanyu di India. Mungkin dia rindu sama anak kesayangannya?"
__ADS_1
Foto Nabila sedang memeluk Zayn tiba-tiba terpajang sebelum seluruhnya hanya tentang kegelapan.
Darah Rose rasanya mendidih. Ia kini bersumpah akan mencekik Zayn jika nanti dia tertangkap. Dia memperlakukan Rose seperti orang bodoh sampai akhir!
"SERET DIA PADAKU SECEPATNYA!"
Tim penyelamat tak menunggu waktu lama untuk berangkat.
*
"Zayn, timnya Olivia udah berangkat barusan." Rin melaporkan situasi pada pemimpin timnya yang tengah sibuk merangkai bunga. "Perkiraan mereka sampe ke sini, paling lambat seminggu. Regu defensif, siap seratus persen."
"Enggak ada yang butuh juga," timpal Zayn masa bodo. "Mereka dateng ke sini bukan buat perang. Cuma nganterin Abimanyu buat sujud."
"Zayn, mereka bawa dua jet tempur."
"Terus? Emangnya penting?"
Jumlah kekuatan tidak selalu menjamin kemenangan. Dua jet tempur dia bawa kek, nuklir dia bawa kek, tidak akan terpakai juga. Dipikir mereka bisa gegabah bertindak saat orang yang membuat segalanya jadi rumit ada di tangan Zayn?
Zayn mendengkus, bersamaan dengn tangannya selesai merangkai bunga. Pria itu beranjak, membawa rangkaian bunga yang ia buat sejak beberapa jam terakhir.
"Zayn."
"Apa lagi?"
Langkah Zayn seketika terhenti.
*
Pria itu menoleh, menatap rekan kerjanya bertahun-tahun itu dengan sorot mata dingin.
"Lo tolol atau goblok, huh?" Zayn berucap kasar, terpancing oleh emosi yang sejujurnya tidak diperlukan. "Ngapain gue repot-repot nyulik dia, biarin dia disiksa sama nyokapnya Sakura, kalo ujung-ujungnya gue kasian?"
"...."
"Rencana kita enggak ada yang berubah. Pertama Abimanyu, next Rose. Cuma karena otak lo kurang normal, jangan nuduh gue sembarangan, brengsek."
Zayn pergi meninggalkan Rin begitu saja, dengan napas yang mendadak berat ditarik. Walaupun embusan angin kencang dan suara pepohonan harusnya membuat Zayn tenang, ada kemarahan dan kecemasan dalam dadanya sekarang.
Pria itu menatap karangan bunga di tangannya. Karangan yang ia buat sebagai hadiah untuk si Bisu.
Semuanya Zayn lakukan demi membuat dia yakin, sampai di detik-detik terakhir, atau bahkan sampai dia tahu segalanya dan menolaknya karena terlalu yakin, bahwa Zayn adalah Om Baik Hati.
"Sakura," bisik Zayn pada angin yang menerbangkan helaian rambutnya. "Bentar lagi janji gue selesai."
"...."
__ADS_1
"Kepalanya Abimanyu plus istrinya yang nyakitin lo, bakal gue injek. Sisanya Juwita, keluarganya siapa pun itu yang cuma ngeliatin lo menderita, bakal gue bikin sakit sampe mereka juga ngerasain yang lo rasain."
Sampai mereka menyerah dan akhirnya memilih membunuh diri mereka sendiri.
"Gue enggak bakal mundur," bisik Zayn sekali lagi. "Bahkan kalau ada perasaan buat anaknya Abimanyu, gue bakal selalu milih lo."
Tidak pernah ada yang memilih Sakura di dunia ini, begitu kata Sakura dulu. Maka sejak saat itu Zayn berjanji bahwa ia akan selalu memilih Sakura bagaimanapun keadaan dia.
Tidak peduli seberat apa dada Zayn sekarang, ia tidak akan mundur dari rencana yang dibuatnya bertahun-tahun.
*
Nabila dari pagi hari sudah mengerjakan semua tugas-tugasnya agar sore hari lenggang. Ia tak akan dipanggil lagi buat mengisi air karena gentong sudah terisi penuh, tidak juga soal halaman kotor, lantai berdebu, cucian belum dilipat atau apa pun. Sisanya cuma makan malam yang nanti malam baru akan dibuat. Bumbu-bumbu untuk itu pun sudah siap.
Nabila tidak punya apa pun lagi yang menghalanginya bertemu Zayn, kecuali Zayn yang tidak kunjung muncul.
"Bisu!" Sebuah teriakan tapi tidak kasar membuat Nabila berpaling. Lina tengah berlari ke arahnya. "Kamu ngapain di sini?"
Nabila menunjuk ke jalanan kosong sebagai isyarat ia menunggu seseorang muncul.
"Kamu nunggu Tuan Muda pulang?"
Nabila menggeleng.
"Kalo gitu mending sekarang kamu masuk." Lina memegang pergelangan tangannya. "Enggak tau kenapa tapi kayaknya ada sesuatu. Aku diem-diem denger Nyonya ngomong."
Nabila tetap menggeleng. Ia tak mau masuk sebelum Zayn datang menunaikan janjinya. Dia bilang akan datang jadi pasti datang.
"Bisu, kamu enggak liat desa?" kata Lina lagi. "Dari tadi pagi semuanya sepi. Enggak pernah desa kayak gini. Pasti ada sesuatu. Ayok, mending kita masuk."
Nabila terus menggeleng. Tersenyum menepuk punggung tangan Lina, agar dia berhenti khawatir dan masuk saja jika memang dia merasa ada masalah.
"Bisu—"
Nabila menggeleng lagi.
Membuat Lina akhirnya menyerah juga.
"Kalo orang yang kamu tungguin udah ada, kamu buruan masuk, yah?"
Nabila mengangguk yakin. Gadis itu ditinggalkan sendirian di sana, memandangi sepinya jalanan desa. Memang sih, entah kenapa orang-orang desa hari ini tidak banyak berkeliaran. Tapi Nabila tidak peduli. Ia hanya menunggu Om Baik Hatinya datang.
Tanpa sadar sore sudah berganti malam. Nabila terus duduk di sana menunggu, tidak mau bergerak karena ia juga tidak dipanggil. Sebisa mungkin Nabila akan menunggu.
Semuanya hanya tentang sepi sampai tiba-tiba sebuah tangan mendarat di bahunya.
"Cantik."
__ADS_1
*