Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
16. Diem Aja


__ADS_3

"Mbak Uni gimana?" Juwita rasa perlu menanyakan itu.


"Kamu nginep aja di rumah sakit nanti. Biar saya yang selesaiin masalahnya. Itu salah saya kurang perhatian."


Juwita menatap Cetta yang sudah tak sabar ingin belanja cokelat.


Anak ini tidak benar-benar terlihat sakit atau terluka oleh pengasuhnya jadi mungkin sulit memperkarakan masalah sampai ke polisi.


"Cetta jarang nyari Melisa atau emang belum paham?"


Cetta terlihat bingung namanya disebut, tapi Adji mengerjap seolah ada beban di hatinya.


"Saya enggak tau harus bilang apa, jadi cuma nunggu dia terbiasa. Awal bulan Melisa pergi, dia nangis terus. Sekarang ... yah, kayaknya udah mulai terbiasa."


Kalau dipikir lagi, dia tidak memusuhi Juwita secara pribadi. Kalau bukan karena dua bocah setan itu, anak ini hanya menganggap Juwita sebagai pengasuh baru.


*


"Ibu gimana?" Meski sudah bertanya tadi di telepon pagi-pagi, Juwita tidak rugi bertanya lagi waktu melihat ibunya berbaring di ranjang rumah sakit.


Dilihat dari kondisi Ibu, itu jauh lebih baik dari sebelum beliau mendapat penanganan. Hanya melihat itu saja sudah cukup bagi Juwita mengingatkan diri untuk tidak mengeluh.


Memang merepotkan punya tiga anak, terutama dua anak empat belas tahun dan enam belas tahun. Tapi itu adalah harga dari kesembuhan Ibu, jadi Juwita harus sabar-sabar mengingat.


"Itu anaknya Adji?" Ibu bertanya waktu melihat Cetta di dekat Adji, sibuk makan permen gummy. "Umur berapa?"

__ADS_1


"Enam."


"Udah sekolah juga?"


"Belum. Katanya tahun depan baru masuk."


Juwita ikut melihat Cetta. Dari jarak ini dia hanya terlihat seperti bocah menggemaskan yang membuat kalian mau bawa pulang anak itu sekalian.


Tanpa tahu betapa merepotkannya dia.


Cetta mengunyah permennya khusyu, tapi tiba-tiba meludahkan itu lagi, datang pada Juwita.


"Enggak mau."


Juwita tertawa kaku menerima permen gummy penuh liur di telapak tangannya. Mau protes, ya dia anak kecil.


"Jajan sembarangan begitu nanti dia enggak mau makan nasi." Ibu bergumam. "Hati-hati ngurus anak orang, Nak. Perhatiin makanannya juga."


"Mas Adji yang beliin."


"Laki-laki mana terbiasa ngurusin makanan anaknya. Minta apa juga asal diem dikasih."


Juwita memiringkan wajah, bingung. Tapi ia patuh mendengar wejengan Ibu soal jangan membiasakan anak kecil jajan terlalu puas, karena nanti malas makan.


Setelah itu, Ibu curhat masalah keluarga mereka yang merasa ada masalah karena Juwita menikah tapi tidak mengundang siapa-siapa.

__ADS_1


Jelas saja, Juwita bereaksi jengkel.


"Suka-suka aku dong mau bikin acara mau enggak. Emangnya mereka bayarin kalo kita bikin pesta? Bikin capek doang, nyenengin juga orang lain doang. Kurang sibuk amat idupnya."


"Kamu kalo ngomong depan keluarga Adji jangan serampangan begitu."


"Ya enggak gitu juga." Juwita mendengkus. "Tapi, keluarganya Mas Adji gimana sih, Bu? Kok enggak ada satupun yang aku tau orangnya. Ada gitu yang pernah ketemu?"


Ibu menghela napas lemah. "Yang kalo ke pesta suka rombongan terus gayanya paling banyak, itu keluarganya Adji."


Tipe yang paling Juwita benci.


"Tapi Ibu denger Adji sama keluarganya ada masalah."


"Masalah?"


"Istri pertamanya Adji enggak cocok sama keluarganya. Adji itu enggak punya rumah di sini dari kecil. Emang dia tinggalnya numpang sama Om Tantenya dulu, sama adeknya juga. Orang tuanya Adji keluar negeri, baru mulai kerja di sana dulu."


Heeeh, Juwita baru dengar itu.


"Terus waktu dulu Adji nikah, kan di rumah tantenya itu. Keluarga istrinya Adji sama keluarga tantenya mulai bermasalah di sana. Uang acara deh kayaknya Ibu denger. Makanya Adji sama keluarganya enggak deket."


"Gitu, toh."


"Kamu jangan ikut-ikutan begituan." Ibu meremas tangannya dengan tangan yang tidak dipasangi infus. "Pasti keluarganya Adji udah pada julid soal kamu. Jangan ladenin. Pokoknya diem aja."

__ADS_1


Juwita diam, meski ia tak menjamin akan benar-benar diam nanti.


*


__ADS_2