
"Lila, Nia, tolongin Ibu bangunin Nenek. Bilang Ibu udah siapin air panas buat mandi."
Juwita berseru memberitahu anaknya yang kebetulan sedang berada di dekat kamar Ibu dan Ayah berada. Pernikahan Abimanyu sudah di depan mata, jadi Ibu dan Ayah pun menginap di rumah kemarin.
Juwita turun terburu-buru ke dapur, membuka kulkas untuk melihat isinya nyaris kosong gara-gara kemarin malam anak-anak mengeluarkan semua isinya. Mama tidak terlihat jadi mungkin pergi membeli persediaan. Mau tak mau Juwita cuma mengeluarkan sisa-sisa, apa saja yang bisa dibuat sebelum Mama dan Banyu kembali.
Sebelum memulai, Juwita hendak memperbaiki posisi rambutnya. Tapi jepit rambut yang ia pakai justru tersangkut, membuat Juwita meringis.
"Inget nanti keramas, Wi," gumam Juwita pada dirinya sambil berusaha menarik jepitan itu lepas.
Namun sebelum jepitan itu lepas, sebuah tangan memegangnya, menghentikan Juwita.
"Biar gue," bisik suara yang berhasil menghentikan napas Juwita sesaat.
"Aku bisa sendiri." Juwita bermaksud menarik paksa saja karena itu lebih baik daripada apa pun yang mau anak ini lakukan.
Tapi Abimanyu menyingkirkan tangan Juwita.
"Rambut lo lepek," ucap Abimanyu sambil pelan-pelan mengurai rambut kusut Juwita dari jepitan.
Dia melakukannya sangat pelan seolah-olah Juwita bakal mati jika satu rambutnya tercabut. "Lo main pagi sama Papa?"
Juwita menepis tangan Abimanyu dan berbalik menjauh darinya. "Jangan ngomong sembarang kamu."
__ADS_1
Dia justru tertawa sinis. "Why? Lo dulu sering cerita juga ke gue soal itu."
Lebih baik tidak meladeni anak gila. Setidaknya Juwita bersyukur Adji sudah pergi dan Banyu mengantar Mama belanja. Dengan begini Juwita bebas menunjukkan wajah kesalnya.
"Lo mau bikin apa? Mau gue bantuin?" tawar Abimanyu tapi dengan niat yang tergambar jelas di wajahnya.
Juwita melotot. "Can you just disappear?" [Bisa enggak kamu ngilang aja?]
"Lo yang nyuruh gue di rumah."
"Oh, kalo gitu aku nyuruh kamu di kamar kamu, jangan keluar-keluar. Kalo perlu, aku suruh Cetta nganterin makanan buat kamu nanti."
Abimanyu memerhatikan wajah Juwita yang tak lagi memberinya kasih sayang.
"Jadi lo mutusin ngeliat gue sebagai 'penyakit'?"
Maka Juwita memunggunginya, mulai memasak dengan wajah seperti ingin membunuh seseorang.
"Kalo gitu gue juga bakal berenti."
"Bagus kalo kamu sadar kamu—"
Napas Juwita seperti mendadak tidak punya jalan keluar dan seluruhnya tertahan dalam paru-paru.
__ADS_1
Abimanyu jelas-jelas berdiri di belakangnya, persis, membiarkan punggung Juwita menyentuh tubuhnya.
"Gue bakal berenti sabar."
Napas Abimanyu terdengar samar ketika justru Juwita kehabisan napas, merasakan tangan anak itu menyentuh tangan Juwita di pinggiran meja.
Abimanyu benar-benar sudah gila. Dia sudah berhenti memikirkan siapa pun bahkan mungkin ibunya.
Kalo aku teriak dia bakal dimasukin ke penjara sama Mas Adji. Tapi ... Mama bakal syok, Ibu mungkin bakal pingsan, Mas Adji mungkin bakal bayar orang buat bunuh anaknya sendiri, anak-anak jelas jadi korban.
Seiring emosi dari kemarahan dan rasa sedih menyelimutinya, air mata perlahan jatuh ke pipi Juwita.
"Abimanyu." Bibirnya bergetar. "Don't do this. Please."
Itu bukan memohon agar dia melepaskan Juwita. Itu permohonan agar dia, demi Tuhan, sedikit saja, sangat sedikit kalau perlu, setidaknya ingat pada adik-adiknya.
Abimanyu justru berbisik, "Lo enggak tau yang gue rasain, kan?"
Ya Tuhan.
"Badan gue sakit, Juwi. Satu badan gue sakit nahan semuanya. Tapi lo masih minta gue sabar."
Napas Juwita rasanya mendadak lepas ketika Abimanyu mundur. Dengan cepat Juwita beranjak, berlari naik tanpa menengok pada Abimanyu lagi.
__ADS_1
Juwita menghapus airnya yang berjatuhan sambil mengingatkan diri bahwa nanti, Adji akan membawa asisten rumah tangga hingga Juwita bisa menghindari segala sesuatu seperti ini kedepannya.
*