Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
128. Sepakat


__ADS_3

"Papa diem sama omongan mereka karena memang Papa enggak peduli." Adji menghela napas. "Mama kalian dari dulu juga udah bilang enggak usah peduli. Biarin aja. Karena emang dari dulu. Dari sebelum kalian lahir udah begitu."


Saat Adji tinggal dengan Oma Putri pun, tabiat beliau memang sudah demikian. Semua orang di dunia ini salah, kecuali Oma Putri. Satu-satunya yang bisa sedikit benar adalah mereka yang menyembah Oma Putri.


Begitulah mereka, dan Adji terbiasa. Melisa pun terbiasa.


Meski begitu, Adji merasa salah.


Karena ternyata Juwita dan Melisa beda. Mungkin Melisa bisa tahan karena memang sudah bertahun-tahun mengalami. Bagaimanapun, dia dan Adji menikah di usia Melisa masih sekitar Abimanyu.


Atau, yah, Melisa itu naik bersama Adji, jadi dia tidak pernah dihina numpang kaya saja, atau memanfaatkan Adji demi harta. Setidaknya orang-orang sedikit mengakui kalau Melisa berjasa di hidup Adji.


Malah orang mengakui kalau Melisa adalah salah satu alasan kesuksesan Adji.


Beda dari Juwita yang di mata orang lain, dia datang menikmati kekayaan Adji tanpa berbuat apa-apa.


Kesalahan Adji adalah menyamakan Melisa dan Juwita. Pikirnya mental mereka berdua bakal sama. Hingga justru Adji membiarkan istrinya terluka terlalu dalam sampai dia berpikir kepergiannya membuat orang bahagia.


"Papa salah, kalian juga salah."


Adji menatap mereka, terutama kedua anaknya yang sudah besar.


"Banyu, kamu mungkin udah dampingin Juwita belakangan. Tapi awal-awal, yang keliatan paling nolak ya kamu. Jangan kira Cetta enggak cerita kamu ngomong kasar berkali-kali sama Juwita."


Banyu langsung tersentak.


"Abimanyu. Kamu yang paling besar, kamu yang paling tua, tapi kamu justru yang paling bikin masalah. Papa enggak bilang kamu yang paling salah, tapi harusnya kamu lebih mikirin diri kamu."

__ADS_1


"Papa rasa kamu sendiri juga udah tau kalau Juwita ngelakuin banyak hal buat kamu. Dia nyembunyiin kesalahan kamu dari Papa cuma buat kamu, dia belain kamu depan Papa biarpun kamu kurang ajar sama dia, sampe-sampe dia jemput kamu, malu depan orang demi kamu, tapi kamu malah pergi, sampe dia pikir cara bikin kamu pulang ya dia yang pergi."


".... Maaf."


"Maaf enggak balikin Juwita."


Abimanyu semakin menunduk. Tidak bisa menyembunyikan penyesalan besar di wajahnya.


"Biarpun kayak gitu," Adji mengulurkan tangan ke puncak kepala mereka berdua, mengelusnya pelan, "Papa juga tau kalian sayang Juwita."


Tidak mungkin tidak terlihat bagaimana hawa mereka berubah sejak kedatangan Juwita. Apalagi karena mereka sempat kehilangan Melisa, Abimanyu dan Banyu terlihat sangat tidak bisa jika sebentar saja berpisah dari Juwita.


Mungkin bagi mereka, itu ketakutan tersendiri akibat kepergian ibu mereka. Jadi ketika Juwita sudah hadir di tengah-tengah keluarga ini, rasanya nyaris seperti Melisa kembali, walau dalam versi dan rupa berbeda.


"Anyway, Papa bukan mau ngomongin itu."


Adji menyalakan tablet di dekat tangannya, mendorong itu ke tengah-tengah. Pada layar sudah terlihat jelas rancangan yang Adji buat diam-diam.


Keduanya mengerjap terkejut. "Maksudnya?"


"Bukan berarti ini nyelesaiin masalah, tapi memang dari awal Papa ngerencanain ini. Papa cuma nunda resepsi pernikahan karena mau kalian sama Juwita deket dulu, akrab dulu, dan yah, nilai respons keluarga."


Sejak sebelum menikah, Adji sudah berencana mengadakan acara. Itu perlu sebab keluarga Adji semuanya gila kehormatan.


Tapi Adji memang tidak berencana mengadakan di awal pernikahan, lantaran kesedihan di keluarga ini masih sangat pekat.


Tidak lucu jika resepsi pernikahan Adji dihiasi oleh wajah murung Banyu dan Abimanyu. Adji selalu mau jika pun ia menikah lagi, anak-anaknya menerima itu dengan tulus dan ikhlas.

__ADS_1


Kini resepsi ini dibutuhkan. Untuk menunjukkan status Juwita secara 'glamor' di hadapan keluarga Adji yang gila status, sekaligus memperlihatkan kalau Juwita dan anak-anak adalah sahabat dekat.


Adji rasa Tante Sarah dan Oma Putri tidak akan bisa banyak bicara lagi. Karena selama ini yang mereka bicarakan dilindungi oleh rumor 'anak Adji tidak suka Juwita jadi tidak ada keharusan menghormati Juwita'.


"Terus Juwita gimana?"


"Tadi Papa udah bilang, Juwita keluar karena mau kalian tenang."


Adji menautkan tangan di bawah dagu, menatap mereka dengan senyum lembutnya.


"So, deal enggak ada masalah satu sama lain lagi?"


Banyu melirik Abimanyu, dan Abimanyu melirik Cetta.


Cetta memiringkan wajahnya setengah bingung, dan Adji mengusap-usap kepala si bungsu itu.


"Kita bawa Juwita pulang," ucap Adji, biar Cetta paham jelas.


Anak itu langsung tertawa gembira. "Deal!"


Banyu tersenyum. Tapi sejurus menunjuk Abimanyu. "Gue cekek lo bikin Juwita nangis lagi!"


"Ngaca." Abimanyu memhuang muka. "Katanya enggak bakal pernah mau nerima."


"Apa lo bilang?!"


Adji biarkan dua anak itu saling menghajar, lebih fokus tersenyum memikirkan Juwita.

__ADS_1


Ah, Adji rindu padanya.


*


__ADS_2