Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
35. Apa Boleh Buat


__ADS_3

"Ugh." Juwita merasa tercekik oleh beban berat di tubuhnya. Dalam mimpi ia tenggelam dalam lautan, tertindi oleh sebuah jangkar raksasa yang super berat. "Adji."


Juwita merasa akan mati.


"Adji!" teriak Juwita dalam mimpinya, yang terbawa dalam dunia nyata.


Mata gadis itu terbuka, bernapas keras seolah benar-benar habis tenggelam. Namun berbeda dari dugaannya—ia pikir Adji menindih tubuhnya tanpa sadar—Juwita malah melihat kepala anak kecil.


"Cetta?"


Adji yang tengah bermain ponsel langsung menyahut, "Subuh saya bangun udah ada."


Berhenti bicara seakan Cetta setan yang menempeli Juwita.


Yah, walau Juwita pernah menggolongkan dia setan juga.


Hati-hati Juwita bangun, agak gemetar karena tenaganya belum berkumpul. Dibaringkan Cetta ke kasur sementara Juwita beranjak, mengecek jam dari ponselnya.


"Tumben udah bangun?"


Meski baru beberapa hari, Juwita lihat Adji itu bangun pukul enam tepat, tidak kurang tidak lebih. Sekarang belum pukul enam, meski nyaris.


"Ditendang." Adji menjawab dengan tawa kecil. Mendekati Juwita yang langsung memundurkan wajah. "Kenapa? Saya cuma mau lewat, loh."


Masih pagi loh ini. Memang waktunya dia bercanda dan bikin kesal?


Adji terlihat menikmati. Berlalu ke kasur untuk memperbaiki posisi tidur Cetta.

__ADS_1


Juwita melihat punggung pria itu saat membungkuk, berdecak kesal merasakan desakan aneh dalam dirinya.


Masa sih dia benar-benar tidak akan memulai? Masa Juwita yang harus mendekati dia duluan?


Pokoknya tidak. Juwita tidak suka kalah. Lagipula Juwita memang penganut paham 'wanita menunggu'.


"Kenapa?"


Juwita membuang muka, berjalan pergi. "Gak."


Tanpa Juwita lihat, Adji tersenyum geli. Terlepas dari Adji tengah menyusahkan diri sendiri, melihat Juwita dengan sisi menggemaskan itu juga sangat menghibur.


Hubungan ini bukan hubungan dingin benci sama benci. Bukan sebuah hubungan di mana mereka sepakat tidak saling suka. Malah justru hubungan terbuka di mana mereka berharap saling cinta.


Karena itu ... Adji tahu tidak sulit menggoda Juwita.


Yang sulit adalah meruntuhkan ego kekanakan dia.


Sementara Juwita yang tahu Adji sengaja, turun dengan muka sebal. Hari ini Juwita terlambat bangun, jadi lari paginya tak dilakukan, langsung pindah membuat makanan.


Baru saja Juwita membuka bungkus roti tawar gandum, Abimanyu muncul dari pintu depan.


"Pulang cepet?"


Anak itu lewat begitu saja, naik ke kamar.


Kalau wajah Juwita tadi cemberut, wajah anak itu seperti tengah marah.

__ADS_1


Hanya butuh waktu kurang dari satu menit, Abimanyu kembali turun, lengkap dengan sekeranjang bola voli.


Nampaknya bagi dia, voli itu seperti sebuah oksigen. Kalau tidak ada maka dia mati.


"Kenapa lagi dia?" Adji turun dan langsung melihat dari kaca pintu samping, di mana Abimanyu melatih service-nya dengan hawa seperti mau membunuh orang. "Kalian berantem?"


"Enggak. Pulang-pulang udah begitu."


Juwita rasa ia harus cepat-cepat menenangkan dia.


"Kita makan siang di luar, kamu mau?"


Tiba-tiba? "Buat?"


"Meeting sama delegasi Inggris."


"Serius?!"


Adji tertawa. "Ya makan, Juwita. Kan saya bilang makan siang."


Orang ini, digampar dosa tidak, sih?


"Saya serius." Adji menoleh pada anaknya. "Sama anak-anak. Sekalian ke mal belanja. Besok mau ke lamaran Intan, kan?"


"Intan?"


"Sepupu saya yang mau lamaran." Adji menatapnya. "Kayaknya saya juga mesti ngasih tau nama-nama keluarga saya."

__ADS_1


Uwwah, membosankan. Tapi apa boleh buat.


*


__ADS_2