Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
56. Kan Aneh


__ADS_3

"Cahku, sini makan dulu!"


"Cetta lagi sama Pika!"


Juwita mengembuskan napas lelah. "Ya taro dulu Pikachu-nya di kandang. Buruan sini atau kukasih ayam nih makananmu."


Hening sebentar, tapi Cetta akhirnya muncul dengan baju setengah basah.


Juwita sebagai seorang wanita melihat bocah itu nampak habis bermain air dan ia jamin airnya air bekas Mimi (kura-kura Banyu) kontan saja melotot.


"Tak jual juga kamu lama-lama." Juwita mendumel sambil buru-buru membuka baju kotor Cetta. "Diem sebentar kagaaaaaak bisa banget. Kenapa, sih? Apa sih masalah hidupmu? Kenapa enggak mau diem sebentar, hah? Ayo sini bilang sama aku."


Cetta tertawa. "Kakak juga kotor."


"Aku habis beres-beres, kamu main doang sama Pikachu. Dimakan Pikachu kamu baru tau rasa. Kudoain dimakan kamu."


"Enggak bisa, Kakak. Pika mulutnya kecil."


Malah dijawab.


Juwita mendengkus, memasangkan bajunya Cetta buru-buru sebelum meletakkan makanan di depannya.


Diusap kepala bocah manis itu, mencium keningnya lalu beranjak merapikan sisa-sisa peralatan.


"Kakak, HP Kakak nyala-nyala."


Juwita sudah punya firasat itu bukan hal bagus, tapi harus tetap dibuka karena bisa saja Ibu atau Adji yang mengirim pesan.


Sebelum membaca, ada baiknya Juwita minum dulu, tarik napas dulu, mempersiapkan diri dulu.


Hai, Wi.


Masih inget gue enggak?

__ADS_1


Hm? Bukan teror?


Juwita membuka profil pengirim pesannya buat tahu siapa. Di sana ada foto seorang laki-laki duduk di kap mobil, berpose dengan gaya rambut kece..


Butuh waktu lima detik buat Juwita konek siapa dia.


^^^Bang Adit? ^^^


🙂


Masih inget ternyata.


^^^Iyalah, Bang. Masa lupa? ^^^


Dia ini bisa dibilang pernah punya jasa dalam hidup Juwita dulu. Walaupun mungkin bisa dibilang urusan sepele.


Waktu tahun terakhir masa kuliah di mana ekonomi keluarga Juwita mulai merosot tajam, Bang Adit pernah meminjamkan uang untuk Juwita tanpa diminta.


Soalnya dia tahu Juwita lagi butuh tapi tidak enak minta pada orang tuanya yang lagi susah.


Ya, Juwita pernah suka dia juga, terus terang. Siapa gitu cewek enggak baper diberi pertolongan pas lagi butuh-butuhnya?


Walaupun sekarang cuma masa lalu.


Gue dapet kabar katanya lo nikah, yah?


Kok enggak bilang-bilang, sih?


^^^Hehe. ^^^


^^^Emang enggak dirayain, Bang. ^^^


^^^Soalnya Ibu juga baru operasi kemarin. ^^^

__ADS_1


^^^Malah nyusahin kalo bikin acara segala. ^^^


Oh, Ibu sakit?


"Kakak, Cetta udah enggak mau."


"Yaudah, sana cuci tangan cuci mulut. Aku temenin nonton bola baru tidur siang."


Juwita beranjak ke sofa depan televisi sambil tetap melihat ke handphone-nya.


Setelah semua teror itu, lega juga bisa bicara santai dengan seseorang.


Awalnya sih menurut Juwita itu cuma basa-basi teman lama yang baru saling kontak lagi. Tapi, lama-lama Juwita merasa aneh karena Adit mulai menyinggung perasaan.


Sedih sih gue dengernya.


^^^Kok gitu, Bang? ^^^


^^^Lo sedih ditinggal kawin junior, yah? ^^^


^^^Tenang kali, Bang. Lo kan cakep, ^^^


^^^emang jodohnya pasti yang cantik banget.^^^


Ya sedih juga kalo yang diharepin malah diambil orang.


Adit memang karakternya begini, yah? Juwita lupa, njir. Tapi serius kenapa dia bicara aneh begini?


^^^Siapa tuh, Bang? ^^^


Enggak polos kok, Juwita. Tahu dia menyinggung Juwita. Masalahnya, pertanyaan pertama dia soal pernikahan Juwita lalu sekarang sengaja mengungkit-ungkit masa lalu.


Kan aneh.

__ADS_1


...*...


__ADS_2