Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
83. Anakmu Mana?


__ADS_3

"Akhirnyaaaaaaaaa!" Juwita langsung merentangkan tangan lebar-lebar, serasa mau memeluk rumah tiga tingkat itu saking rindunya. "Pikachu, Mimi-Cuih, dan apa pun itu piaraan kalian, penguasa udah pulang!"


Kelakuan Juwita dibalas geleng-gelengan kepala oleh Adji di belakangan, tapi tak menghentikan karena Juwita terlihat sangat bahagia.


Capek Juwita di rumah sakit.


Juwita rindu setiap sudut rumah yang sebenarnya baru sebentar ia tinggali. Rindu mendengar suara bola Abimanyu tiap kali masak, rindu suara Cetta teriak dari ruang peliharaannya, bahkan mungkin rindu dengan Pika dan Mimi.


"Kakak!" Cetta berlari keluar dari dalam rumah, langsung berlari ke pelukan Juwita.


Muka Juwita langsung dihujani kecupan keras. Cetta memegangi pipinya dan mencium seluruh wajah Juwita seolah sudah lama tidak bertemu, padahal kemarin juga dia menginap di rumah sakit.


"Muach, muach, muach! Aku sayang kamu, Pikachu."


"Hehe, Cetta sayang Kakak juga."


"Seneng banget yah ketemu Kakaknya." Mamanya Adji ikut menyambut Juwita dengan pelukan meski Cetta ada di gendongan Juwita.


Sekali lagi, Juwita dapat kecupan di seluruh wajah.


"Maafin Mama yah enggak nengokin kamu. Adji tuh ngelarang-larang Mama. Kamu jangan mikir Mama enggak mau nengokin kamu, yah. Awas, loh. Mama dilarang pergi."


Juwita tertawa kecil. Beralih ke pelukan Papanya Adji yang bertanya kondisinya.


Baru setelah itu Juwita menurunkan Cetta, mendatangi Ibu dan Ayah untuk memeluk mereka.

__ADS_1


Ibu langsung menangis melihatnya. Jelas memang kelihatan sedih dan takut pada kondisi anaknya.


"Cengeng banget sih Ibu aku, nih." Kini bukan Juwita yang dapat, tapi ia yang menciumi wajah ibunya. Memeluknya penuh kasih sayang. "Udah tua kok nangis. Malu sama umur, Bu. Udah, udah. Enggak boleh nangis."


Ayah menghapus air mata di pipi Juwita yang tertawa sambil menangis melihat Ibu. "Kamu udah enggak pa-pa, kan?"


"Iya, Yah. Udah dibolehin pulang sama Mas Adji sama dokter juga."


Untuk hari itu, Adji menyuruh Juwita tidur dengan Ibu dan Ayah jika mau. Makanya Juwita tidur dengan mereka, menghabiskan malam jadi anak bayi lagi tidur diapit kedua orang tuanya.


Memang sih Juwita akui. Enggak mungkin ada tempat lebih nyaman dari pelukan ibu dan ayahnya. Juwita juga curhat, menangis, menumpahkan semua ketakutannya karena perbuatan Ajeng.


Tapi Juwita tidak bilang kalau Ajeng itu mantan selingkuhan Adji, sebab tidak semua orang bisa mengerti.


"Anak Ibu." Bisikan Ibu membelai pendengaran Juwita. "Kamu anak baik dari dulu. Tuhan ngasih kamu hadiah keluarga baik sekarang. Jagain baik-baik, biar kamu juga dijaga sama Yang Di Atas."


*


Juwita bangun pagi-pagi buat menyiapkan makanan untuk semua orang. Biar tambah disayang sama ibu mertua juga kan, bangun pagi-pagi masak.


Tapi ternyata di dapur malah sudah ada Mama sedang membuat makanan ditemani Adji.


"Sayang." Adji merentangkan tangan, minta Juwita datang ke pelukannya. "Tidur nyenyak kemarin?"


"Iya, dong." Juwita tersenyum manis. "Tapi kok Mama pagi banget masak? Kan ada aku, Ma."

__ADS_1


"Emang begitu Mama. Ada Melisa juga dulu kalau Mama dateng, Mama yang masak."


Mamanya Adji tertawa kecil. "Waktu mertua Mama masih ada, Mama sering dimarahin enggak bisa masak. Jadi mantu Mama santai aja."


"Idih." Juwita mengintip, tapi sambil Adji masih memeluknya dari belakang. "Nanti aku ngandelin Mama terus, emangnya boleh?"


"Hm? Boleh dong."


"Jangan mau." Adji menggeleng. "Entar disuruh mijitin dari sore sampe subuh."


Juwita tergelak. Menyamankan diri di pelukan Adji sambil melihat mertuanya masak.


Menunya agak beda, yah. Soalnya Mama masak makanan Italia yang Juwita lupa namanya apa. Memang tidak bisa dibantu.


Dapur mulai rame waktu Papa muncul, disusul Ibu dan Ayah. Papa memutar musik Jawa, bikin suasana semakin hidup diselingi tawa.


Juwita mengisi suasana dengan bernyanyi juga, tapi langsung ingat anak-anak belum bangun.


"Aku bangunin anakmu dulu."


Adji menunduk, mencium pipinya. "Anakmu mana?"


Sikut Juwita menjadi alasan Adji mengerang, dan ia kabur buru-buru.


*

__ADS_1


__ADS_2