Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
131. Lo Salah


__ADS_3

"...."


"Kenapa? Lo sakit hati sama ni orang?"


Yang sejak tadi Banyu panggil 'ni orang' tidak lain dan tidak bukan ya Abimanyu. Dia nampaknya belum memaafkan secara penuh kesalahan Abimanyu yang membikin Juwita pergi.


"Enggak, bukan kayak gitu," jawab Juwita, membantah hal itu, karena ia pun sudah memaafkan Abimanyu sejak kemarin-kemarin.


Juwita langsung mengulurkan tangan, memegang tangan Abimanyu erat-erat. Anak itu pun langsung balas menggenggam tangannya erat.


"Baik yah kita? Enggak ada apa-apa. Emang cuma—" ucap Juwita, tapi langsung terpotong oleh Banyu.


"Lo kalo mau bikin alesan yang bagus dikit. Gue enggak goblok."


Ya, dia terlalu pintar sampai bicaranya jadi kurang sopan.


"Kite temenan aja." Juwita menjawab diplomatis. "Aku, kalian, Papamu—ya, temenan aja."


Itu intinya. Walau kenyataan mungkin tidak seramah itu, tapi yang jelas, mereka masih bisa bercengkrama bersama diluar hubungan keluarga.


Jika mereka berdua mau, Juwita bisa menemui mereka dua kali seminggu nanti.


"Lo enggak punya jawaban lebih kreatif?" Banyu masih membalas kurangajar.


"Ya terus aku harus ngomong apa, Bocah?!"


Juwita ujung-ujungnya malah jadi emosi. Jengkel mendengar Banyu terus membacotinya.

__ADS_1


"Ini masalah orang tua, kalian bocah diem aja!"


"Orang tua apaan anak aja enggak punya."


"Kamu ngajak gelut, hah?! Sini hayok. Tak pites telurmu baru tau rasa! Sini!"


Banyu malah senyum. Terus dengan brengsekknya dia berkata, "Gue haus. Beli boba di sini lewat mana?"


"Lewat kematian." Juwita mencibur kesal.


Apalagi Banyu malah berlalu tanpa perlu diberi jawaban, plus memanggil Cetta. "Aku mau beli es krim, kamu mau ikut enggak?"


"Mau!"


"Hati-hati!" Juwita berteriak mengingatkan, apalagi minimarket terdekat perlu dijangkau dengan menyebrang.


Mungkin buat menyelesaikan sesuatu yang tidak bisa Abimanyu ucapkan ketika banyak orang di sekitar mereka.


Dan benar, waktu tersisa mereka berdua saja, Abimanyu langsung mengambil alih tempat Banyu tadi, mengayunkan ayunan Juwita pelan.


"Lo pergi dari rumah karena gue?"


Anak ini sudah sangat dewasa buat menyukai Juwita lalu mengalah dan sadar memang tidak mungkin.


Walau dia pun masih cukup kekanakan buat kabur dari rumah dan mempermalukan dirinya sendiri.


Tapi, Juwita tahu bahwa Abimanyu tidak terlalu butuh diberitahukan dia salah apa. Abimanyu cuma butuh didorong buat mengakui kesalahan dia apa.

__ADS_1


Seperti sekarang.


"Aku dateng ke rumah kalian karena Mbak Melisa percaya aku bisa jagain kalian." Juwita menjawab apa adanya. "Tapi kalo ternyata justru kalian banyak masalah, kamu terbebani dan lain sebagainya ya, ya berarti harusnya Mbak Melisa enggak percaya."


Atau ya, harusnya Melisa menyuruh Juwita bekerja sebagai pengasuh saja, bukan ibu pengganti. Dengan begitu Juwita tidak perlu sampai terlalu mengusik banyak orang.


Intinya, terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan hingga begitu banyak orang menolak.


"Maaf."


Juwita tersenyum. "Enggak perlu. Aku enggak ngerasa kamu salah banget."


"Bukan itu." Abimanyu sempat terdiam beberapa waktu. "Maaf bikin lo nangis berkali-kali."


Diam-diam, Juwita menggigit bibir dalamnya. Ada kelegaan di hati Juwita karena Abimanyu mau minta maaf sekalipun Juwita sudah memaafkan semua hal yang dia lakukan.


"Gue enggak tau gue kenapa."


Abimanyu berhenti, sekaligus menghentikan pergerakan ayunan itu.


"Gue tiba-tiba jadi enggak waras sendiri, kecewa sama lo terus, enggak tau lagi. Gue enggak ngerti. Padahal gue tau gue harusnya jagain lo. Gue tau gue harusnya enggak nyusahin lo, apalagi bikin lo nangis."


"Abi—"


"Tapi Juwita, gue enggak pernah minta lo pergi. Gue enggak pernah berharap lo ninggalin rumah. Lo salah kalo lo ngerasa harus keluar biar semua orang bahagia."


*

__ADS_1


__ADS_2