Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
129. Melepas Rindu


__ADS_3

Hari Juwita suram cuma karena memikirkan perceraian di depan matanya. Hati kecil Juwita terus berkata kalau ia tidak mau, tapi pada kenyataannya harus begitu.


Adji sudah memutuskan buat bercerai juga, maka Juwita bisa apa selain terima?


Setelah menangis, Juwita ternyata jatuh sakit. Siang malam ia muntah sampai tak bisa bangun dari tempat tidur, padahal Juwita tidak demam tinggi. Badannya cuma sakit-sakit, pegal sana-sini dan selalu merasa mual.


Ibu menyarankan Juwita ke dokter, tapi buat sekarang Juwita cuma mau tidur dan pura-pura tidak punya masalah. Mungkin Juwita malah tidak mau sembuh, biar setidaknya punya alasan buat menangis.


Setidaknya Juwita ditemani oleh Arja.


Seperti kebiasaan orang-orang bodoh pada umumnya, Juwita yang lagi sakit hati malah putar lagu India buat mendukung dirinya tambah sedih.


Biar tambah menangis.


Waktu Juwita sibuk menciumi badan Arja sambil meresapi musiknya, tiba-tiba pintu terbuka.


"Hadirmu akan menjadi ceritaaaa, terindaaaah, selama hidup dan setengah matikuuuu." Bima tiba-tiba muncul, cuma buat bernyanyi asal. "Walaupun harus aku meninggalkan dirimu, tapi kau sudah tidak tersimpan di hatiku."


"Brengsekk!" Juwita melemparnya dengan boneka. "Sana pergi! Sana!"


Bima tergelak. Memungut bantal yang Juwita lempar buat dilempar kembali ke kasur.


Hal itu malah membuat Arja tertawa sambil tepuk tangan.


"Horeee! Ayo, Nak, bilang horeee! Hore ada yang galau-galau."


Arja tertawa keras, semangat bertepuk tangan karena bapaknya.


Jelas Juwita tidak senang. Ia peluk Arja, melarang dia tepuk tangan meski anak itu malah semakin tertawa.


"Jangan ketawa! Jangan dengerin bapakmu!"


Bima tertawa kecil. "Ada yang nyariin lo."

__ADS_1


"Siapa? Tukang galon?" balas Juwita sinis.


Hanya beberapa saat setelah berkata begitu, Juwita mendengar suara yang sangat amat brutal ia rindukan.


"Kakak!"


Juwita terlonjak duduk. Melotot lebar-lebar saat benar Cetta berlari masuk, lompat ke tempat tidurnya yang menandakan itu bukan mimpi.


Badan Juwita langsung dipeluk erat-erat oleh anak itu.


"Pikachu." Juwita balas memeluknya biarpun bingung. "Kamu sama siapa ke sini?"


"Sama Abang."


"Papa?"


Cetta menatap Juwita dan mengingat pesan Adji.


"Enggak tau. Papa pergi kerja."


Juwita mengerutkan kening. Bingung mengapa Cetta bisa datang ke sini sementara Adji sepertinya sudah tidak mau berurusan dengan Juwita.


Tapi ternyata kejutan bukan cuma itu. Juwita terkejut lagi melihat kemunculan Banyu dan Abimanyu di pintu kamarnya.


"Kalian."


Keduanya masuk, ikut duduk di kasur sampai Arja bengong melihat wajah-wajah asing itu.


"Jangan bilang kalian ke sini enggak izin Papa? Awas, yah. Kucubit kalian kalo bener."


Banyu mengorek kuping cuek. "Bodo amat."


"Dih."

__ADS_1


"Cetta bilang mau ketemu lo, jadi kita nemenim."


Juwita tersenyum sedih mendengar itu.


Benar juga, sih. Mereka sudah sangat dekat dalam waktu singkat jadi mungkin wajar Cetta rindu padanya.


"Aku juga rindu kamu, Pikachu." Juwita puas-puaskan diri memeluknya. Mencium-ciumi Cetta seperti ia mencium Arja sedari tadi. "Rindu banget. Muach muach muach. Cahku sayang."


Cetta tertawa geli.


Banyu ikut tersenyum melihat itu. Rindu melihat Juwita dan Cetta berinteraksi, sampai rasanya mau ia bawa pulang Juwita sekarang juga.


Tapi tidak. Harus sabar.


Demi hasil yang permanen.


"Ini siapa?" tanya Abimanyu, menyadari keberadaan Arja.


Juwita sebenarnya mau bertanya apa Abimanyu sudah tidak marah padanya, namun situasi tidak mendukung hingga ia pura-pura lupa kejadian terakhir kali.


Pokoknya yang penting sekarang semua anak Melisa sudah berkumpul lagi.


Juwita melepaskan Cetta, menarik Arja ke pelukannya. "Ini sepupuku, namanya Arja. Kenalan dulu, Sayang. Ayo, Arja, bilang 'halo kakak, namaku Arja'."


Mereka bertiga kompak menatap Arja tak senang.


"Malah dipelototin!"


Arja yang merasa terintimidasi pelan-pelan menangis. Membuat Juwita mau tak mau beranjak, mengangkat anak itu pergi.


Duh, para sontoloyo ini kayaknya tidak hidup kalau tidak bikin masalah.


*

__ADS_1


__ADS_2