
Lalu Juwita beranjak, naik ke lantai dua sambil meneriakkan nama panggilan Cetta.
"Pikachu! Udah jam segini, Sayang. Makan dulu!"
"Cetta belum laper!"
"Aku ada es krim, loh."
Kayaknya Cetta langsung lari, karena sogokan terbaik buat anak itu memang cuma es krim. Oh, dan cokelat.
Adji memandangi Juwita sampai tak lagi terlihat di lantai dua. Otak Adji berusaha keras memikirkan ada apa, tapi karena bingung, Adji putuskan beranjak.
Keluar ke lapangan, mendekati Abimanyu.
"Abi."
Anak itu sibuk melatih kemampuan receive-nya dan tidak punya waktu buat menoleh.
"Bi, kamu ke Juwita dulu sana."
Dia langsung berhenti, menoleh. "Kenapa?" tanya dia cepat, seolah bakal langsung loncat.
Buat anak Adji, jauh lebih penting Juwita daripada Adji itu sendiri.
"Juwita tiba-tiba enggak mau liburan. Katanya batalin aja. Dia enggak mau bilang ke Papa kenapa. Siapa tau sama kamu dia mau."
Entah karena umur atau karena memang masalah persahabatan, Juwita kadang malah susah curhat ke Adji tapi gampang curhat ke Abimanyu atau Banyu.
__ADS_1
Makanya Adji jika ingin tahu Juwita kenapa, ia bakal bertanya pada dua anaknya dulu.
Sebagaimana Juwita adalah pawangnya anak-anak, anak-anak juga pawangnya Juwita.
*
Abimanyu memutuskan buat mandi dulu sekaligus mengakhiri latihannya sebelum menyusul Juwita ke ruang mainnya Cetta.
Di sana Juwita sedang menyuapi adik Abimanyu itu, sambil dia juga ikut makan dari piring yang sama.
Dari jauh sih kelihatannya dia tidak apa-apa, tapi kalau memang sampai berpikir membatalkan liburan, pasti ada apa-apa, kan?
"Juwita."
Dia langsung menoleh, tersenyum lebar menyambut Abimanyu. "Cahku udah latihan. Gimana? Seru?"
"Lumayan." Abimanyu duduk di sampingnya, langsung nyaman cuma dengan mencium aroma lembut dari badan Juwita.
"Kamu enggak makan dulu, Bi? Atau mau bareng juga, nih? Hmm, kusuapin?"
Abimanyu mendengkus, tentu saja tidak mau. Atau bukan tidak mau sih, tapi harga diri.
"Abang enggak usah." Cetta menyahut.
Abimanyu mengabaikannya, fokus pada tujuan. "Kata Papa, lo batalin niat mau pergi. Kenapa?"
"Enggak pa-pa."
__ADS_1
Yah, jelas Juwita tidak semudah itu dibujuk.
"Kakak enggak jadi pergi?" Cetta langsung menangkap sinyal. "Kalo Kakak enggak pergi, Cetta juga enggak mau pergi."
"Ohya? Pergi aja kamu sana. Kamu kan enggak suka sama aku."
Cetta malah menjatuhkan wajahnya ke paha Juwita, menggosok-gosok bibirnya yang belepotan ke sana. Juwita terpekik gara-gara itu, tapi pada akhirnya juga mengusap kepala Cetta dengan tangannya.
"Gue tau lo enggak bakal tiba-tiba enggak mau pergi. Lo kenapa?" Abimanyu bertanya lagi, sekaligus menolak usaha Juwita mengalihkan perhatian.
"Enggak pa-pa."
"Juwita."
Juwita diam.
Kalau dia ditanya bilang tidak pa-pa lalu ditanya lagu dia diam, berarti ada masalah. Mama begitu, Juwita juga begitu.
"Gue mau pergi liburan. Lo tega ngebatalin gitu aja?" pancing Abimanyu, biar dia segera jujur.
"Bukan kayak gitu, Bi. Aku cuma ...." Juwita makan dengan tidak semangat, kelihatan bingung mau bicara apa. "Ya intinya itulah."
"Itulah apa?"
"Bi, please." Juwita berpaling murung. Yang justru bikin Abimanyu makin gemas ingin bertanya.
"Ya lo jujur dong sama gue. Lo kenapa? Kenapa enggak mau pergi?"
__ADS_1
Pokoknya sampai dia jujur, Abimanyu bakal terus mendesak.
*