
"Terus, kamu mau minta apa?" tanya Adji lembut, berharap bisa memberikan sesuatu untuk Juwita agar dia senang dan lebih cepat sembuh.
Walaupun dia terlihat baik-baik saja, Juwita tidak mungkin tidak ketakutan. Dia cuma berusaha terlihat baik-baik saja agar tidak banyak orang yang khawatir.
"Biar aku yang nyelesaiin masalah sama mantan kamu," ucap Juwita penuh keyakinan.
Tapi keyakinannya dipatahkan karena Adji langsung menggeleng. "Gak. Ini masalah saya. Kamu seharusnya enggak repot sama itu."
"Tapi yang dia celakain aku, bukan kamu."
Bukan Juwita bilang Adji yang seharusnya kena, tapi dia menyerang Juwita yang tidak ada hubungan sama sekali dengannya.
"Iya, saya tau. Saya ngerti kamu marah."
Adji mengusap-usap lengannya, berharap Juwita tenang dengan itu.
"Saya yang bakal nyelesaiin. Sampe dia enggak akan pernah bisa liat kamu lagi. Saya cuma enggak nyelesaiin sekarang biar kamu tau. Oke?"
Juwita menggeleng pelan, meski itu jadi alasan kepalanya berdenyut.
"Itu enggak adil, Mas." Juwita benar-benar tidak terima.
"Juwita."
"Masalah dia sama kamu, tapi aku yang kena. Terus seenaknya diselesaiin gitu aja padahal aku udah kayak gini? Enggak bisa. Dia bikin Ibu nangis."
Adji menghela napas. Kalau cuma soal mau membalas sih Adji tidak masalah, tapi ia tak mau lagi melihat Juwita terlibat hal bodoh, terutama tentang Ajeng padahal ada banyak hal dalam hidup mereka yang jauh lebih penting buat diurus.
Seperti Juwita dan Mama pergi liburan bersama untuk mendekatkan diri sebagai menantu dan mertua.
__ADS_1
Atau Juwita pergi menemani Ibu-nya jalan-jalan buat healing bersama. Atau sekalian seluruh keluarga mereka ke pulau tertentu buat berselancar dan mengumpulkan kerang.
Masalah Ajeng sangat tidak penting untuk Juwita turun tangan sendiri.
"Please." Juwita memelas dengan bibir cemberut. "Aku enggak bakal kayak gini lagi. Sumpah, demi Tuhan, enggak bakal pernah lagi. Biarin aku nyelesaiin urusan sama mantan kamu."
"Kamu di rumah aja. Nanti saya kasih uang."
"Mas, aku nih bukan anak kecil, loh." Juwita terus merengek.
"Yaudah, jadi anak kecil aja." Tapi Adji masih ngotot. "Nanti saya bawa ke timezone atau ke mana, terserah kamu. Saya sewa seratus orang jagain kamu biar lalat aja enggak bakal lewat."
Juwita melotot. Mulai tidak bisa bicara lembut. "Urusanku juga. Jangan nyuruh-nyuruh aku enggak ikut campur," tegasnya berusaha galak.
"Urusan kamu ya urusan saya." Ternyata galak tidak membuat Adji mundur.
"Mas!"
"Aku enggak bakal puas kalo enggak damprat dia, Mas!" teriak Juwita, berharap Adji pasrah.
"Yaudah, sini saya puasin."
Akh, dasar keras kepala!
Kenapa Juwita lupa kalau Adji sekeluarga itu orangnya gendeng semua? Dia pikir Juwita akan baik-baik saja kalau dia menyelesaikan masalah padahal Juwita sebenarnya tidak bersalah namun dianiaya?
Dih, sori yah, Juwita rasa sabar dan bodoh itu tidak sama.
Sabar itu kalau diomongin kalian diam. Oke, sabar saja.
__ADS_1
Tapi masa dipukul dua kali di tempat umum masih juga sabar?
Itu sih masokis!
"Bocahku." Ketika malam tiba, bocah-bocahnya berkumpul di kamar sementara Adji pulang.
Juwita melarang dia berdiam diri di rumah sakit terus. Adji pasti punya banyak pekerjaan juga, dan masih harus hadir menyelesaikan banyak persoalan mengenai kekerasan Juwita kemarin.
Merespons panggilan Juwita, Abimanyu dan Banyu datang, disusul Cetta yang matanya fokus pada Nintendo.
"Kenapa?"
Juwita mengulurkan tangan, minta dipegang. Boleh dong manja-manja dikit dengan anak tirinya? Mumpung mereka tidak lagi macam setan.
"Papa bilang kalian udah tau soal Ajeng."
Mereka berdua duduk masing-masing di sisi tempat tidur Juwita.
"Emang kenapa?" balas keduanya cuek.
"Aku jujur aja enggak bisa terima kalo enggak bales dendam." Juwita mulai curhat, untuk melancarkan misinya.
Tapi anak ada dari ayahnya. Jadi yaiyalah mereka kembar.
Banyu mendengkus, kentara menolak. "Enggak usah sok ngomong dendam."
"Enggak asik, ah." Juwita menarik tangan, tapi Banyu buru-buru menahannya. "Aku serius," ucapnya sekali lagi. "Seenggaknya, aku harus ngomong sama dia."
Abimanyu menghela napas. "Terus maksudnya?"
__ADS_1
Senyum Juwita langsung merekah. "Bantuin."
*