Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
31. Lepas Enggak?


__ADS_3

"Pasti habis ini gosipin Ibu!" sahut Juwita lepas mereka pergi. "Dasar sok sempurna! Cuma karena kebanyakan orang suka gembar-gembor soal nikahan, belum tentu akunya juga termasuk! Norak!"


"Udah, udah." Ibu terkekeh. "Emang begitu. Udah. Didengerin aja. Masuk telinga kiri keluar kanan."


"Emang kamu yakin enggak mau?" Ayah mengusap-usap punggungnya begitu duduk di sebelah Juwita. "Tabungan Ayah kan enggak dipake kemarin. Bikin acara aja biar pada enggak ngomong."


"Dih, Ayah. Kok malah repot, sih? Mulut mereka berbusa juga biarin aja."


Ayah tersenyum. Meraih Juwita dalam pelukannya dan menepuk-nepuk punggung gadis itu. Bahkan tanpa berkata, pelukan itu sudah cukup bagi Juwita.


Ayah bangga padanya karena tidak suka termakan omongan orang.


"Kamu gimana sama Adji?" Ibu meraih tangannya untuk digenggam erat. "Muka kamu cerah banget tadi waktu dateng. Kenapa? Cerita sama Ibu."


Mana mungkin ia cerita perihal hubungannya dengan Adji. "Enggak. Cuma seneng aja soalnya Cetta nempel banget."


"Enggak nyari mamanya?"


"Jangan, sih. Cuma pas bangun tidur kadang suka salah bilang Mama. Ya namanya juga anak kecil. Gampang terbiasa. Sekarang malah nempel banget sama aku."


Yah, setidaknya itu bukan kebohongan. Memang menyenangkan berteman dengan bocah. Walau merepotkan mengurusnya.


Juwita menghabiskan waktu bercerita tentang Cetta, agak berbohong soal betapa baik dan manis dua setan besar sisanya, lalu memastikan bahwa ia dan Adji baik-baik saja.


"Kamu siap-siap." Ibu meremas tangannya lembut. "Ibu denger sepupunya Adji mau lamaran. Kayaknya nanti kalian diundang. Inget, sabar kalo orang ngomong. Enggak usah dibales. Sengaco apa pun, jangan dibales."

__ADS_1


*


Juwita agak khawatir Abimanyu pergi ke sekolah tanpa makan makanan yang ia siapkan, tapi untungnya saat pulang, makanan itu sudah tidak ada.


Berarti dia sempat makan.


Rumah sepi ketika Juwita masuk. Pergi ke ruang bermain Cetta untuk melihat Adji ternyata sedang tidur di samping Cetta.


Katanya tadi dia masuk siang, kalau begitu dia sudah terlambat? Juwita berjongkok melihat mereka, berpikir apakah harus dibangunkan atau tidak.


Tapi, tiba-tiba Juwita ingat apa yang dilakukan Adji saat ia akan pergi tadi.


Oke, mari jangan bangunkan. Sesuai kata Abimanyu, kalau dia terlambat, itu salah dia sendiri.


Jelas Juwita melotot melihat pria itu tersenyum setengah mengantuk, tapi benar-benar tidak tampak bersalah melakukan.


"Baru pulang?"


Kalau Juwita memperlihatkan perasaan di sini, ia kalah!


"Enggak baru banget." Berusaha terlihat santai, Juwita menarik diri. "Udah siang. Tadi katanya mau pergi siang, kan?"


"Hmmm." Adji terduduk. Mengusap kepala Cetta sekilas ketika anak itu menggeliat terganggu oleh suara. "Enggak pa-pa saya tinggal?"


"Emang kenapa?"

__ADS_1


"Ya siapa tau kenapa-napa."


Juwita mendengkus. Lagi-lagi mau beranjak, tapi Adji memegang tangannya lagi.


Orang ini, ternyata memang sama saja dengan anak-anak dia! Tangan Juwita digenggam, sementara dia terduduk sambil mendongak padanya.


"Apa, sih?" Juwita berusaha tidak tersenyum, memilih terlihat kesal. Tidak sudi ia kalah dalam permainan ini. "Lepasin, ah. Saya mau bikin makan siang."


"Yaudah."


Tapi dia tidak melepaskan. Juwita menarik tangannya, dia tetap memegang.


"Saya enggak megang keras banget, kok." Adji menggoyangkan tangannya. "Kamu kali enggak mau lepas."


"Sembarangan!" Juwita mendorong tubuhnya ke belakang agar punya tambahan tenaga menarik tangan.


Bohong dia tidak memegang erat. Juwita berusaha pun tetap tidak bisa.


"Adji, lepas enggak?!"


"Masa sih enggak bisa lepas sendiri? Kamu kan kuat. Emang sengaja mau saya pegang."


Juwita mendelik kesal. Kenapa pula dirinya yang salah padahal dia yang berbuat?


*

__ADS_1


__ADS_2