Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
80. Asal Tetap Bersama


__ADS_3

Adji sudah bosan bermain permainan bodoh ini. Jadi setelah melihat bagaimana Nana tidak menyesal sedikitpun atas kelakuannya, Adji menyuruh orang menyeret dia.


Dia bermain kotor, maka Adji juga akan bermain sesuai aturan permainan dia.


Dia wanita mandiri, kan? Wanita yang berdiri di kaki sendiri. Maka meski Adji menyeret dia dengan orang-orangnya, tidak ada yang bisa menolong Nana atau menyadari dia diseret.


Satu per satu orang yang mencelakai keluarganya akan Adji seret. Terutama mereka yang bertindak dengan otak yang tidak berfungsi.


Kemarahan Adji membumbung tinggi rasanya. Ingin ia mengobrak-abrik tempat Ajeng sekarang juga untuk menyadarkan dia pada kenyataan.


Tapi Adji masih berusaha waras. Jadi ketika merasa ingin meledak, Adji datang ke rumah sakit, berharap melihat Juwita bisa menenangkan.


Kalau melihat Juwita, Adji yakin pikirannya bakal lebih tenang.


"Halo, Om."


Adji tersenyum luluh cuma karena satu cubitan kecil di dagunya.


Bibirnya langsung mencium mulus pipi Juwita, membaui aroma minyak telon yang dia pakai.


"Kamu beneran enggak kenapa-napa, kan?" tanya Adji, untuk kesekian kali.


Adji melihat rekaman CCTV Juwita dam Mbak Uni berkonfrontasi. Termasuk waktu Juwita memelintir tangan Mbak Uni, dan meninjunya sampai pingsan.


Jujur saja, Adji puas. Memang Juwita harus melakukan itu biar orang yang mencelakainya tahu dia bukan orang lemah.


"Aku sakit, Om." Juwita menjawab berlebih-lebihan. "Sakit banget."


Adji mencium wajahnya kanan kiri karena gemas. "Sini saya sembuhin."


Tangan Adji meremas gemas pinggang Juwita, hingga wanita itu tertawa kecil. Dia membiarkan tubuhnya masuk ke pelukan Adji, walaupun sebenarnya infus membuat posisi itu sulit.

__ADS_1


Tapi asal memeluk Juwita, Adji tidak masalah.


"Om." Juwita berbisik manja.


"Hm?"


"Mau pulang."


"Kamu kalau minta sesuatu kenapa enggak yang bisa dikabulin gitu? Memang sengaja minta buat ditolak?" Adji membalas usil.


"Ya kamu jahat, nolak mulut." Juwita malah menggigit dagunya. "Pulang. Mau pulang."


Imut.


Adji terkekeh gemas. Mengambil tangan kanan Juwita yang ternyata lebam, dan menciumnya hati-hati.


Sebenarnya Cetta juga sudah merengek mau pulang bersama Juwita karena bosan di rumah sakit. Apalagi, Adji juga melarang Mama, Papa juga Ayah dan Ibu meninggalkan rumah untuk sekarang karena takut justru mereka ditargetkan.


Kondisi Juwita memang terlihat sudah lebih baik. Tapi Adji masih khawatir. Karena nyatanya, setiap malam Juwita merintih dalam tidurnya, kadang-kadang sampai menangis seolah dia mimpi buruk.


"Saya juga mau kamu pulang."


Adji menarik dia duduk untuk lebih leluasa memeluknya. Mengusap-usap punggung Juwita agar dia lebih merasa nyaman.


"Yang betah dulu di rumah sakit. Dulu kamu kan juga marah-marah kalau Ibu mau pulang cepet."


Juwita cemberut.


"Kalo cepet sembuh, nanti saya beliin mainan yang banyak."


"Emang aku Cetta!"

__ADS_1


"Mirip."


Juwita mengerutkan wajah, membuat Adji gemas dan kembali mencium wajahnya.


Gelak tawa kecil terdengar sampai ke depan ruangan Juwita. Abimanyu berdiri di dekat pintu, hanya menatap kosong lantai koridor.


Dasar tolol dirinya ini. Kenapa pula dari semua manusia yang bisa jadi cinta pertamanya, itu malah istri Papa sendiri?


"Bangsatt."


"Karena suka Juwita?"


Abimanyu membeku. Pelan-pelan menoleh pada adiknya, Banyu, yang baru saja bertanya seolah itu bukan apa-apa.


"Lo—"


"Lo bego apa tololl sih, Bang? Lo mau berak aja gue tau muka lo kayak gimana." Banyu mendengkus. "Enggak usah ngerasa terlalu berdosa gitu. Lo suka sama orang juga enggak bisa lo kontrol."


"Tapi—"


"Tapi lo enggak ada maksud ngerebut Juwita dari Papa, kan?"


"Gila aja." Abimanyu langsung membantah.


Jelas tidak. Di otaknya sudah terpatri kuat bahwa Juwita adalah pengganti Mama, orang yang Mama tinggalkan untuk Papa sebagai ibu pengganti mereka.


Abimanyu tidak akan pernah merusak apa yang ditinggal Mama.


"Buat gue, Bang," Banyu meninju dadanya pelan, "asal Juwita enggak pergi kayak Mama, itu udah cukup."


Ya, Abimanyu juga.

__ADS_1


Asal Juwita tetap bersama mereka, sebagai keluarga.


*


__ADS_2