Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Orang Mencurigakan


__ADS_3

"Maaf." Banyu berjongkok. Menatap wajah adiknya yang sekarang memerah menahan tangisnya. "Maaf, Dek, Abang yang salah."


Bahu Cetta bergunjang akibat napasnya yang dia tahan agar tangisannya juga tidak keluar. Dia tidak mau menangis sekalipun dia sebenarnya sangat mau menangis.


"Kalau bisa milih, mungkin aku juga enggak bakal nyuruh Abimanyu nikah." Banyu memegang bahu Cetta dan tersenyum getir. "Aku panik. Marah juga. Aku enggak tau harus gimana dan tiba-tiba aja kepikiran mungkin itu ide bagus. Kalau tau bakal begini, aku juga enggak bakal nyuruh."


Cetta akhirnya menangis.


"Aku janji sama kamu enggak akan pernah biarin Juwita menderita sendirian. Kita bakal selalu ada buat Juwi, oke?"


Cetta berusaha keras menghentikan tangisannya. Anak itu mendongak, menatap Banyu tegas. "Kalo sekali lagi Kak Juwita mau pergi, aku bakal pastiin dia enggak pulang lagi!" ancam anak itu penuh kesungguhan.


Banyu hanya mengangguk sebagai respons. Pada intinya mereka berdua sama-sama tidak mau wanita kesayangan mereka menanggung beban terlalu berat lagi.


*


Juwita bermaksud membuat makanan kesukaan Cetta biar mood anak itu membaik. Karena di kulkas ada cumi, Juwita memang tak berani mendekati kulkas. Juwita putuskan buat keluar ke minimarket, mumpung Banyu dan Cetta juga ada di rumah menjaga adik-adik mereka.


Saat berjalan sendirian menuju minimarket, Juwita entah kenapa merasa diikuti. Berulang kali Juwita berbalik, melihat seorang pria berpakaian hitam dengan masker di wajahnya tengah berjalan santai.

__ADS_1


Kelihatannya santai tapi Juwita merasa diikuti.


Tak mau terjadi hal aneh, Juwita mempercepat langkahnya. Beruntung ia bisa segera mencapai jalan raya, menyebrang di keramaian hingga perasaannya sedikit lebih tenang. Juwita pun bergegas masuk ke dalam, menenangkan diri.


Copet kali, yah? Begitu pikir Juwita. Kalo aku udah masuk begini kan enggak mungkin sampe diikutin.


Juwita pun meneruskan rujuannya berbelanja. Tapi yang tidak ia sangka, pria itu ikut masuk ke dalam toko, berpura-pura jadi pelanggan.


Wajah Juwita mulai pucat. Ia bisa bela diri hingga kalau ada sesuatu dirinya tak akan jadi korban secara total, tapi sebagai seorang wanita, Juwita merasa gelisah akibat pria itu.


Kalau bukan copet, jangan bilang dia orang mesum?


"Oke, tenang, Wi." Juwita berdiri di rak depan kasir, agar setidaknya ia terlihat oleh pegawai toko di sana. Buru-buru dikeluarkan ponselnya, menghubungi Banyu agar dia bergegas datang.


"Mas, please." Juwita berulang kali menghubungi Adji. Dia memang biasanya tidak mengangkat panggilan kalau sedang kerja makanya Juwita juga tidak terbiasa menelepon Adji.


"Mas, please. Please."


Panggilannya juga tidak diangkat. Kemungkinan dia sedang ada pertemuan penting dan ponselnya didiamkan.

__ADS_1


Juwita menoleh ke arah rak pria itu berdiri dan sekarang dia berdiri di sana, fokus menatap Juwita.


Jantung Juwita rasanya jatuh ke perut. Ia punya trauma sendiri dengan semua hal ini. Jangan bilang dia mau memukul Juwita? Atau dia orang mesum yang mau memperkosanya?


Wanita itu menunduk ke ponsel dan akhirnya mengambil pilihan terakhir.


"Abimanyu," ucapnya cepat begitu panggilan dijawab.


Satu-satunya yang tidak ada di rumah sekarang itu Abimanyu, tapi Juwita hanya bisa percaya padanya sekarang.


"Jemput aku sekarang."


Mungkin Abimanyu tak menyangka Juwita akan meneleponnya lagi setelah semua drama di antara mereka. Sempat anak itu diam, tapi kemudian bertanya, "Lo kenapa?"


"Ada orang ngikutin aku dari tadi. Aku telfon Cetta sama Banyu enggak diangkat." Juwita bernapas berat dan kedinginan. "Plis, Bi, aku takut."


"Lo di mana?" Nada Abimanyu berubah sigap.


"Minimarket deket rumah."

__ADS_1


"Gue ke sana sekarang. Tetep deket kasir!"


*


__ADS_2