
"Tenaga gorila." Banyu sulit tidak berkomentar melihat Mbak Uni tak sadarkan diri akibat tinjuan Juwita.
Memang penampilan itu menipu dan sangat tidak pantas dijadikan landasan kepercayaan.
Dari luar Juwita terlihat seperti ... yah, macam perempuan yang kalau dilempar kodok dia menangis, dipertemukan kura-kura dia semaput. Rasanya dia itu rapuh.
Tapi service bolanya membikin Abimanyu cengo, mampu mengendalikan Cetta, dan sekarang orang pingsan cuma karena satu tinjuan.
Yang bikin gemas, Juwita malah mengusap-usap tangannya. Bergumam, "Sakit juga, yah."
Goblock, gumam Banyu miris.
Yaiyalah sakit. Orang yang dia tinju saja langsung KO. Berharap saja orangnya tidak luka dalam. Bukan karena khawatir pada Mbak Uni, tapi karena Juwita harus tanggung jawab lagi.
"Lo serius enggak pa-pa?" tanya Abimanyu.
Abimanyu melepaskan Mbak Uni begitu saja, karena memang sudah tak bisa lari. Kini dia menunduk, mengecek perban di belakang kepala Juwita.
"Kepala lo enggak sakit, kan?"
Juwita berpose dengan dua jari.
"Jawab, geblek."
"Sakitlah, geblek." Juwita mendengkus. "Sakit tapi mau gimana? Nangis? Aku bukan bocah."
"Kata orang yang kemarin nangis berhari-hari."
"Heh!"
__ADS_1
Juwita memang rada sableng. Tapi waktu dia menunjukkan ekspresi aslinya, Banyu dan Abimanyu sulit menolak.
"Pusing, sih. Ke kamar aja. Aku mau istirahat."
Tentu, mereka enggak meninggalkan Mbak Uni begitu saja. Juwita mengambil ponsel wanita itu, sedangkan Banyu langsung menghubungi kepala penjaga untuk mengamankan Mbak Uni.
Begitu berbaring di ranjang ruang rawatnya, Juwita langsung membuka handphone Mbak Uni. Melihat ada chat antara dia dan Ajeng yang diberi nama samaran.
Juwita pun langsung mengirim pesan.
^^^Saya udah dorong Mbak Juwita, Bu. ^^^
Apanya yang luka?
Juwita berselfie lengkap dengan jempol terangkat.
Hatinya, tulis Juwita bersama foto selfie itu.
Tapi Juwita pantang menyerah. Sekali lagi ia berfoto, dikirim.
Belum dibalas, Juwita berfoto lago, berfoto lagi, lagi, lagi, dengan berbagai ekspresi menjengkelkan yang pasti bikin Ajeng panas.
"Lo emang enggak bisa nyelesaiin masalah pake cara normal," komentar Banyu yang sejak tadi melihat Juwita. "Emang gila."
"Bocahku, orang waras memang susah kalau lawan orang gila. Susah, Bocahku. Susah. Jadi memang harus ada gila-gilanya juga."
Tidak, sih. Juwita bercanda.
Sebenarnya yang mau Juwita lakukan adalah melabrak Ajeng, mencekik lehernya sambil bertanya di mana otak dia tertinggal sampai dia bisa-bisanya berjalan tanpa otak.
__ADS_1
Tapi Juwita tidak bisa, karena jahitan di kepalanya akan lepas dan Juwita bisa tambah sekarat.
Makanya untuk sekarang Juwita cuma bisa melakukan ini.
*
Adji tidak menyangka kalau Ajeng sampai membayar Mbak Uni juga dalam melancarkan aksi tidak warasnya. Apalagi dia bermaksud mencelakai Juwita di rumah sakit, langsung, saat Juwita bahkan belum pulih.
Dasar perempuan sinting.
Tapi yang paling Adji tidak sangka, adalah informasi bahwa Nana dan Ajeng ternyata berteman.
Teman yang cukup dekat sampai Nana tahu bahwa Ajeng bermaksud mencelakai istrinya.
"Saya enggak nyangka kamu bisa sekurang kerjaan ini buat saya."
Adji tidak memberi waktu sama sekali dan langsung mendatangi kediaman Nana.
"Bisnismu banyak yang mau diurus tapi masih ada waktu bikin beginian di belakang saya?"
Nana menatapnya dingin. "Laki-laki tukang selingkuh kayak kamu memang pantesnya dapat karma."
Adji terbelalak tak percaya. "Istri saya yang tau dari mulut saya langsung aja enggak banyak komentar. Siapa kamu seenaknya mau jadi Tuhan di hidup saya? Hak dari mana kamu dapet, hah?"
"Istri kamu itu masih muda, Dji. Masih anak kecil. Mana mungkin dia paham busuknya kalian laki-laki."
"Jadi ini soal suami kamu yang selingkuh?" balas Adji semakin takjub. "Suami kamu selingkuh, ninggalin kamu, terus kamu tau saya pernah selingkuh, seenaknya kamu ngejudge saya sama kayak suami kamu?"
Wanita itu langsung terdiam.
__ADS_1
"Kamu sadar diri yah, Na. Suami kamu selingkuh bukan cuma karena bajingan, tapi dia capek sama kamu. Jadi daripada ngurusin rumah tangga saya, lebih baik kamu urusin diri kamu yang bikin suami kamu milih selingkuh."
*