
Sayangnya Abimanyu masih hidup. Pemuda itu sampai di indekosnya dengan sangat selamat, naik ke lantai di mana kamarnya berada.
Saat masuk, Abimanyu tak terkejut jika perempuan itu masih ada di sana. Olivia namanya. Teman Abimanyu di awal ia berkuliah, tapi berubah jadi selingkuhannya sejak Abimanyu merasa terlalu gila.
"Enggak nyangka lo nginep," ucap perempuan itu menyambutnya. "Lo bilang enggak suka pulang ke rumah."
"Gue enggak bilang gue suka sekarang," jawab Abimanyu dingin.
Olivia mengerutkan bibir dan sadar betul suasana hati Abimanyu begitu buruk. Dia adalah pria dengan masalah tempramental. Olivia cukup mengenalnya karena Abimanyu kadang banyak bicara, kalau sedang ingin. Abimanyu pernah bilang bahwa dia ingin menjadi atlet profesional, cabang olahraga voli tapi dia justru berhenti bermain voli atau apa pun setelah masuk dunia perkuliahan sekalipun dia punya bola voli yang dia pegang sepanjang malam saat depresi.
Ya, Abimanyu adalah laki-laki misterius yang aneh dan menarik.
"Terus, lo mau ke kampus atau nerusin rencana kemarin?"
Abimanyu melepaskan bajunya untuk diganti dengan baju lain, pertanda dia mau pergi tapi bukan ke kampus.
"Lo baru pulang terus lo mau pergi lagi?"
__ADS_1
Abimanyu tak menjawab Olivia. Mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk mencari kontak perempuan yang ia beri gelar Pacar.
"Halo, Beb." Abimanyu mendadak bersuara manis. "I miss you here."
"Miss you too. Tumben kamu nelfon jam segini? Kamu udah bangun?"
"Barusan." Abimanyu bersandar pada sofa dan menatap Olivia yang berbaring di kasurnya hanya dengan pakaian dalam. "Beb, aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Apa tuh, kok mendadak serius? Oh, aku tebak. Kamu mau ngajak aku dinner? Kamu selalu ngomong 'aku mau ngomong sesuatu' tiap kali mau ngajak aku dinner. Cute boy, I accept it."
Abimanyu tidak berniat mengajak dia dinner dan sejujurnya ia paling benci mengajak perempuan dinner. "Beb, kamu ada rencana nikah tahun ini?"
"Hah?"
"You WHAT?!"
Olivia sama tercengang mendengar perkataan Abimanyu namun Abimanyu yang sekalipun fokus melihat Olivia, kepalanya sibuk memikirkan hal-hal diluar itu.
__ADS_1
Ia tak mau menikah, terutama dengan cara seperti ini. Abimanyu juga tak berniat untuk pulang membawa istri cuma untuk membuktikan bahwa dirinya sudah melepaskan perasaan dari Juwita, sebab nyatanya Abimanyu tidak.
Namun setidaknya, setitik saja di hati Abimanyu, tak ingin mengacaukan tawa dan kebahagiaan keluarga. Jadi jika ini yang mereka mau, Abimanyu akan melakukannya.
"Papa nyuruh aku nikah sekarang jadi kalau kamu mau, kamu mau aku dateng ketemu orang tua kamu?"
Olivia menggelengkan kepalanya berulang kali saat menyaksikan Abimanyu membuat ekspresi jauh berbeda dari apa yang seharusnya dia buat.
Panggilan itu selesai dengan sempurna. Tidak ada wanita yang dimabuk cinta mau menolak lamaran dari Abimanyu, entah karena dia tampan, atau karena dia pandai berciuman, dan lebih-lebih karena orang tuanya kaya.
"Gue cuma mau nanya ini sekali, Beb," Olivia sengaja menekan panggilannya, "kebetulan lo ninggalin otak lo di mana? Gue punya duit buat ongkos taksi ngambilin, kalau lo butuh sekarang."
"Sorry enggak ngelamar lo." Justru itu balasan Abimanyu. "Gue butuh cewek baperan."
"Hah?"
"Cewek yang enggak ngerasa harus mikir kenapa dia mesti nikah sama gue, cewek yang bakal nangis bahagia karena diajak nikah tanpa alasan, terutama cewek yang enggak tau kalo gue enggak tertarik sama dia." Abimanyu mengambil kunci motornya lagi. "Mending lo pergi. Gue mau ngajak calon istri gue make out nanti."
__ADS_1
Olivia menatap kepergian Abimanyu tanpa bisa menahan dirinya migrain. Ia tahu ada sesuatu yang salah dengan anak itu sejak awal, tapi apa dia tidak berpikir bahwa dunia terlalu luas buat dia berpikir sempit?
*