
"Siapa?" tanya Adji, menyadari air muka Juwita berubah. Apalagi notifnya juga masih terus terdengar. "Juwita?"
"Hah?" Juwita buru-buru menurunkan suara notifikasi hingga hening, dan menutup ponselnya. "Enggak. Temen tadi ketemu, ngirimin foto-foto."
"Oh."
Juwita merinding. Belum pernah seumur hidup dirinya dapat chat ganas semacam itu.
Demi Tuhan, sampai segitunya orang-orang suka mengurus hidup orang lain? Siapa sih yang sekurang kerjaan itu mengirim chat?
Dilihat dari profilnya, ini bukan nomor utamanya dia. Karena tidak ada foto profil.
Juwita berusaha keras mengabaikan, dan untungnya berhenti sendiri. Atau lebih tepatnya ia blokir.
Tapi waktu mereka naik setelah menidurkan Cetta, kembali notifikasi masuk, dari nomor baru lain yang mengumpat tak jelas.
"Tadi saya ditelfon," ucap Adji membuka topik. Berpikir Juwita menatap ponselnya karena chat teman. "Oma Putri protes, katanya kenapa kamu bawa anak-anak ke jalanan."
"Maaf," balas Juwita tak fokus. "Maaf, apa?"
"Keluarga saya enggak suka kamu bawa Cetta ke pinggir jalan, gaul sama anak-anak pemulung."
Juwita bingung harus fokus ke mana, tapi pembicaraan Adji membuatnya juga tersulut. "Kamu sendiri enggak suka?"
"Ya saya sih enggak masalah. Maksud saya ngasih tau, biar kamu paham aja sudut pandang keluarga saya gimana."
"Menurut aku anak-anak yang aku temuin tadi lebih baik daripada anak kamu, Abimanyu atau Banyu."
Adji tersentak.
"Maaf-maaf aja, Mas, tapi nyatanya anak-anak kamu manja. Abimanyu yang sibuk protes sama aku karena hal enggak jelas, Banyu yang taunya cuma ngisengin orang, dua-duanya cuma sibuk sama diri sendiri."
Ketika Juwita mengatakan itu, sebenarnya baru saja ia membaca tulisan ini:
__ADS_1
Anaknya Adji enggak level main sama pemulung!
Dasar cewek miskin!
Enggak ngerti gaul sama yang selevel!
"Saya enggak bisa bantah." Adji bergumam. "Saya hargain cara didik kamu. Kalau menurut kamu itu yang baik, yaudah, saya dukung."
Juwita menghela napas. Menepikan ponselnya yang mendadak jadi sangat mengerikan.
Oke, lupakan. Lupakan soal kebencian orang. Mereka semua cuma orang-orang kurang kerjaan yang saking gabutnya bisa mengomentari hidup orang lain.
Lupakan saja.
"Aku sebenernya enggak masalah sama omongan keluarga kamu." Juwita naik ke paha Adji, memeluk lehernya. "Biarin aja mereka ngomong apa. Toh, itu kualitas mereka."
"Iya." Adji langsung mengusap-usap punggungnya. "Saya percaya sama Melisa, sama kamu."
"Saya juga bakal lakuin apa pun buat uang. Tenang aja. Kamu enggak sendirian."
Juwita tertawa kecil. "Kamu enggak terbebani, kan?"
"Sama?"
"Ya sama mahar saya."
"Uang saya banyak."
"Idih."
Adji malah tergelak. Mendorong bahu Juwita mundur biar punya ruang mencium bibirnya.
"Terserah orang mau ngomong apa," bisik pria itu lembut. "Saya sama kamu kan ujung-ujungnya cuma harus jalanin hidup kita berdua."
__ADS_1
"Kamu enggak ngerasa aku matre banget? Ngerepotin banget?"
"Biasa aja."
"Kok gitu?"
"Kalo kamu enggak jalanin tugas kamu terus saya harus jalanin tugas saya, ya saya ngeluh."
Adji mencubit pipinya seraya memandangi wajah Juwita puas-puas.
"Kan saya udah bilang. Kamu di rumah, urus anak-anak, masak, layanin saya di ranjang, perawatan biar cantik: kalo tugasnya beres, saya kasih bonus. Kan simpel."
"Kalo udah enggak cantik?"
"Jangan salahin saya enggak ngeliat lagi."
Juwita mencubit lengan Adji hingga dia tersentak. Tapi bukannya minta maaf, dia malah membela diri dengan berkata itu kodrat.
Demi Tuhan yah, Juwita tidak akan pernah melupakan Melisa.
Karena meskipun pria ini punya segalanya, dan mungkin memang Juwita jadi parasit di hidupnya, Adji memandang sisi baik daripada sisi buruk.
Kalau bukan dibentuk dengan hubungan sebelumnya, mana mungkin dia sebijak ini, kan?
Benar. Ayo abaikan kebencian siapa pun.
Bukan urusan Juwita mereka berpikir apa.
Pokoknya bukan urusan Juwita.
Melisa saja ikhlas suaminya bersama Juwita, kenapa pula orang luar itu merasa berhak tidak puas?
...*...
__ADS_1