
Abimanyu tidak pernah sengaja menyukai Juwita atau karena Juwita itu tipe cewek idamannya. Itu cuma perasaan yang menurut Abimanyu tiba-tiba muncul seiring banyaknya interaksi mereka.
Abimanyu tahu Juwita bukan perempuan murahan. Ia cuma mengejek agar Juwita tersulut.
Bukan dengan niat apa pun.
Ya, Juwita adalah ibu tirinya.
"Om Adji." Diam-diam Abimanyu melirik ke arah Juwita datang, mengendap-endap ke belakang Adji tapi sambil memanggilnya om. "Sawer Juwi dong, Om."
Adji yang sedang fokus menonton berita langsung menoleh. "Boleh. Sini joget dulu."
"Cetta aja yang wakilin aku joget, tapi kamu sawernya ke aku."
"Duduk di sini aja kalo gitu. Enggak usah joget," balas Adji sambil menepuk-nepuk pahanya. "Sini, Om sawer."
Juwita tergelak lepas. Duduk di pangkuan Adji tapi berteriak pura-pura tersakiti.
"Uwaaaaaa, Cettaaaaa! Tolong Kakak, Cettaaaa! Papa mau makan Kakak!"
Banyu berteriak, "Ambilin kodok, Cetta. Ambilin dua."
"Heh!"
"Sok takut padahal kelakuan kayak kodok."
Mungkin Juwita sedang menghibur diri. Dia mengambil dompet Adji yang kebetulan terselip di sofa, lalu mengeluarkan lembaran uang dari dalamnya.
"Siapa yang mau uang? Nih, aku kasih gratis."
"Cetta enggak mau uang, maunya biskuit cokelat!"
__ADS_1
"Bocahku, berhubung kamu ini masih bocah, jadi ya kuwajarin aja otakmu belum sempurna, tapi biar kukasih tau yah, beli biskuit itu enggak pake batu."
"Cetta tau."
"Hooh, begitukah? Terus pake apa?"
"Pake kartu."
Abimanyu memutuskan diam saja, menunduk pada ponsel Juwita di tangannya. Pesan teror itu masih terus berlanjut. Dan kata-katanya makin brutal sampai mengirim foto-foto pocong dan sejenisnya.
Kalau Juwita melihat ini, mungkin dia akan menangis lagi siang malam. Karena itulah Abimanyu dan Banyu sepakat tidak bicara.
Tugas Abimanyu sebagai anak adalah menghentikan persoalan konyol yang membahayakan Juwita. Mama pasti akan kecewa jika sampai kejadian serupa terjadi lagi.
"Papa, jangan peluk-peluk Kakak!"
"Lah, orang punya Papa."
Cetta mengeluarkan tangisan kencang membahana. Tapi Abimanyu tidak terusik, karena memang sudah biasa.
^^^Lo iri sama gue. ^^^
^^^Lo yang lontee. ^^^
Abimanyu menunggu dan hanya butuh waktu dua detik, pesan beruntun berisi cacian makin banjir.
Dugaan Juwita benar. Ini perempuan.
Emosian, sok cantik, dan merasa dia paling berhak menguasai Adji.
Masalahnya Juwita merasa tidak kenal perempuan macam itu. Waktu Juwita bertanya ada kenalan Adji perempuan yang suka pada Adji, Abimanyu dan Banyu merasa juga tidak ada.
__ADS_1
Setidaknya yang agresif luar biasa itu tidak ada.
"Bocahku yang ini liatin apa?"
Spontan Abimanyu mengantongi ponsel Juwita, sebelum dia melihat sesuatu.
"Gak ada," jawabnya cuek.
"Denger gak tadi Papa ngomong apa?"
"Hah?"
"Opa sama Oma minta dijemput."
"Bukannya pulang pas tahun baru?"
"Dipercepat. Sekalian mau lebaran di sini."
Juwita menarik pipi Abimanyu. "Makanya jangan ngelamun."
Dengan pasrah Abimanyu mengusap bekas cubitan itu.
"Juwita jemput juga?" tanya Abimanyu spontan. Merasa itu ide yang luar biasa buruk membawa Juwita keluar rumah sekarang padahal baru beberapa waktu kejadian itu terjadi.
"Dibilang aku udah enggak pa-pa, Bocah." Juwita mengacak rambut Abimanyu. "Lagian kan ada kalian, para kacung-kacungku yang budiman. Bukan begitu, bosnya kacungku, Om Duda?"
"Kalau Papa duda, lo janda." Banyu menyahut pedas.
Tapi Juwita malah tertawa bersama Cetta.
Abimanyu masih merasa itu ide buruk. Dilihat dari teror ini, kayaknya masih ada lanjutan brutal lagi.
__ADS_1
Tapi kalau ia menolak, Juwita mungkin akan merasa dikurung dalam kandang seperti hewan.
*