Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
100. Omelet Sosis (lb)


__ADS_3

Jesy menatap tajam ke arah Cara yang sedang tersenyum sinis ke arahnya. "Apa matamu juga sedang sakit?" tanya Cara.


Jesy terkejut, setelahnya wanita itu memilih mengalihkan pandangannya. "Moodku hari ini cukup bagus, kalau kalian bisa diajak bekerja sama. Kalian akan melewati hari ini dengan mudah. Lagi pula, sudah cukup aku beri kalian waktu dua hari untuk bersantai bukan?" tutur Cara.


Sasdia dan Jesy masih diam, setelah kejadian dua hari yang lalu. Rasa takut di dalam hati sepasang ibu dan anak itu mulai tumbuh untuk Cara. Kegilaan Cara kala itu cukup menghantui ingatan mereka dan membuat trauma. "Baiklah, sekarang buatkan aku omelet sosis. Aku sedang begitu menginginkan itu sekarang," titah Cara.


Sasdia mengepalkan tangannya, tetapi setelahnya wanita paruh baya itu menghela napas panjang mencoba mengontrol emosinya. "Kamu duduk saja, Sayang. Biar Mama saja yang membuatnya," ucap Sasdia kepada Jesy.


"Uuh … sweet sekali ya kalian. Sayangnya aku menginginkan kalian berdua yang memasak. Lagi pula, siapa yang mengizinkan anakmu duduk santai?" tukas Cara.


Sasdia menatap protes ke arah Cara yang sedang tersenyum manis ke arahnya. "Tidak apa-apa, Ma. Aku tidak lelah, ayo kita buat bersama," papar Jesy.


Sasdia menghela napas berat mendengar perkataan putrinya. "Kalau kamu lelah katakan saja, Sayang. Tidak bisakah kamu memberi keringanan untuk Jesy? Dia sedang hamil." Sasdia menoleh ke arah Cara memohon.

__ADS_1


"Bagaimana ya? Mood aku memang cukup baik hari ini, baiklah kalau begitu. Tapi, dia hanya boleh duduk di lantai," balas Cara santai.


Sasdia melotot mendengar perkataan Cara. "Ma, sudah. Ayo kita buat," ajak Jesy.


Dada Sasdia naik turun merasa begitu marah karena baru saja direndahkan. "Cepatlah, aku sudah lapar," sela Cara.


...*****...


Rical berjalan dengan wajah datar memasuki sebuah klub malam. Laki-laki itu tersenyum miring kala melihat seorang laki-laki paruh baya sedang menarik paksa seorang gadis. Rical mendekat ke arah mereka dengan empat laki-laki yang sedari tadi mengikutinya di belakang. "Stamon Ajaly," sapa Rical.


"Kau terkejut aku tahu keberadaanmu?" tanya Rical santai.


Stamon hendak melarikan diri, tetapi gerakannya kalah cepat dengan empat laki-laki di belakang Rical yang sudah lebih dulu menghajar tubuh laki-laki paruh baya itu. Seorang gadis yang tadi ditarik paksa oleh Stamon sudah berteriak histeris. Aksi pemukulan itu membuat keadaan klub kacau, para pengunjung melarikan diri dari sana merasa begitu takut. "Aaa … Ayah, tolong jangan pukul lagi." Gadis itu menangis histeris.

__ADS_1


Rical yang sedang duduk santai di atas sebuah sofa menatap instens gadis yang sedang menangis di atas lantai. "Kau masih membelanya? Padahal dia baru saja berniat menjualmu," ejek Rical.


Gadis itu merangkak dan mendekat ke arah Rical. Setelahnya gadis itu memegang kaki Rical sambil menatap memohon. "Tolong, Tuan. Suruh mereka berhenti, kasihan ayahku," pinta gadis itu.


Rical tersenyum miring melihat itu. "Kau pikir kesalahan ayahmu itu bisa diampuni hanya dengan kata-kata? Dia masih beruntung aku yang ke sini, bagaimana kalau Tuan Vetro? Aku jamin dia semakin sengsara," papar Rical.


"Cukup, seret ke sini," titah Rical.


Empat laki-laki itu menyeret tubuh mengenaskan Stamon yang masih sadar. Gadis yang mengaku anaknya itu mendekat sambil menangis melihat keadaan sang ayah. "Stamon Ajaly, kau sungguh laki-laki bodoh yang tamak. Kau meremehkan Death?" desis Rical.


Stamon menggeleng pelan. "Saya minta maaf, Tuan. Saya mengaku salah," ucap Stamon pelan.


"Aku rasa kau tahu bagaimana Death menghabisi pengkhianat," sahut Rical.

__ADS_1


Napas Stamon tercekat, dia adalah salah satu anggota Death yang entah kenapa memilih berkhianat hanya karena uang. Hampir lima tahun Stamon bersama dengan Death, dia jelas tahu bagaimana kejam dan liarnya perkumpulan itu. Dia sudah begitu sering melihat pembunuhan sadis tanpa hati selama bergabung di dalam Death.


"Kau beruntung karena istri Ketua sedang hamil. Jadi dia tidak akan datang untuk mengeksekusimu. Jika dia yang mengeksekusimu, kau tahu sendiri bagaimana gilanya dia," bisik Rical.


__ADS_2