
Geo memeluk posesif tubuh Cara, sepasang suami istri itu berjalan di lorong penjara markas Death. Wajah dingin Geo mampu membuat aura tegang di dalam penjara markas itu semakin pekat. Semua anggota Death memilih menunduk merasa begitu tertekan dengan aura yang di keluarkan oleh pemimpin mereka. "Selamat malam, Ketua," sapa para anggota Death serentak.
Suara itu menggema di lorong sempit markas Death. Tiga laki-laki yang sedang berada di dalam satu penjara utama markas itu menoleh saat mendengar itu. Sedangkan laki-laki yang menjadi tawanan di ruangan ini sudah merinding ketakutan. "Siksaan yang sesungguhnya segera datang," bisik Alex kepada laki-laki itu.
Bisikan Alex membuat tawanan itu meneguk ludahnya susah payah. Keringat dingin bercucuran dari tubuh laki-laki itu, entah kenapa untuk mengangkat kepalanya saja. Tawanan itu begitu tidak berani. "Erwardu Kenzo," desis Geo begitu rendah.
Edwardu Kenzo atau laki-laki yang dipanggil Tuan Kenzo oleh Cara tadi siang adalah laki-laki yang menjadi tawanan di dalam sana. Edward terkesiap saat mendengar suara rendah Geo yang begitu mampu memancing bulu romanya untuk berdiri. "Duduklah, Baby," ucap Geo kepada Cara.
Seperti biasa, akan ada satu kursi di dalam ruangan penjara markas itu. Jika biasanya Geo yang akan menduduki kursi itu, berbeda dengan sekarang. Jelas saja Geo akan menyuruh ratunya untuk duduk di sana. Cara duduk di kursi sambil menatap datar Edward yang masih menunduk. "Kenapa menunduk Tuan Kenzo? Bukankah tadi Anda mengatakan akan membuat saya menyesal?" ucap Cara.
Suara Cara membuat Edward kembali terkejut. Laki-laki itu mengernyit saat merasa mengenali suara perempuan itu. Dengan gerakan kaku, Edward memberanikan dirinya mengangkat kepalanya guna melihat wajah perempuan itu. Tepat saat matanya beradu tatap dengan Cara, Edward melotot terkejut. 'D-dia?' batin Edward panik.
__ADS_1
Cara tersenyum miring ke arah Edward yang sudah semakin pucat. "Masih ingat aku bukan? Pastinya ya, kita baru saja bertemu tadi siang. Apa lagi, aku sangat mengingat perkataan Anda kepada saya. Belum lagi … dengan hadiah yang Anda berikan tadi, sungguh menantang juga," papar Cara sinis.
Napas Edward memburu karena panik, laki-laki itu menelan salivanya susah payah saat menyadari dirinya sedang berada di ujung kematian. "Padahal aku sudah memperingatkan Anda tadi, tapi Anda malah menghiraukannya. Sekarang Anda mengerti bukan maksud saya tadi siang?" sambung Cara.
Lidah Edward terasa begitu berat, laki-laki itu tidak mampu menyahut perkataan Cara. Rasa takutnya lebih mendominasi sehingga mampu mengikat keberaniannya di dalam sana. "Berhubung tadi siang Anda sudah memberi saya hadiah, jadi sudah seharusnya saya memberi hadiah juga untuk Anda bukan?" ucap Cara.
Cara yang duduk begitu anggun di atas kursi itu semakin terlihat mengagumkan karena empat laki-laki yang berdiri di sekelilingnya. Namun, kata mengagumkan itu tidak berlaku untuk Edwar yang lebih melihat mereka dengan ketakutan. "Kau punya nyawa berapa? Sehingga berani menyentuh milikku?" desis Geo.
"Belum, tapi … matanya membuat aku risih," sahut Cara.
Glek …. Edward meneguk ludahnya susah payah, laki-laki itu sudah bisa menebak kalau hidupnya akan begitu tersiksa di sini. Edward jelas tahu bagaimana liar dan kejamnya Death. "Kau berani menatap wanitaku dengan mata hinamu ini?" desis Geo.
__ADS_1
"Bagusnya bagaimana aku menghukum matamu ini?" tutur Geo, "tapi … aku ingin kau melihat apa saja yang akan aku lakukan kepadamu. Matamu ini, akan aku eksekusi paling akhir," sambung Geo dingin.
.
.
.
.
Hai … selamat berpuasa bagi yang menunaikan ibadah puasa❤️ Jangan lupa untuk terus menunggu kelanjutan PIM ya🔥 Jangan lupa tinggalkan jejak, supaya otor semakin semangat up 🥳 Boleh juga dong ceki-ceki akun otor ditempat lain🤭
__ADS_1