Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
242. Telepon Pengganggu (lb)


__ADS_3

Sasdia dan Torih berdiri di depan gerbang tinggi kediaman Vetro. Sepasang paruh baya itu saling tatap merasa ragu untuk melanjutkan niat mereka. Sampai saat ini mereka bahkan belum pernah menginjakkan kaki di kediaman pemimpin mafia itu. "Bagaimana, Mas?" tanya Sasdia.


Torih menghela napas panjang mencoba menghilangkan kegugupannya. Setelahnya laki-laki itu melanjutkan langkah semakin mendekat ke gerbang utama itu. Tepat di depan gerbang utama itu, sepasang paruh baya itu dihadapkan dengan laki-laki kekar yang mereka tebak adalah anggota Death.


Sedangkan lima laki-laki kekar itu menatap Torih dan Sasdia dengan pandangan mengintimidasi. "Siapa kalian?" tanya salah satu dari lima laki-laki itu.


Glek …. Torih dan Sasdia menelan ludah mereka kasar saat mendengar suara berat yang begitu menyeramkan bagi mereka. Mereka baru ditanya oleh salah satu anggota Death, tetapi mereka sudah terlibat begitu ketakutan. "Ekhm … kami ingin bertemu dengan Nyonya Vetro," sahut Torih pelan.


"Sudah punya janji?" tanya satu laki-laki.


"Belum," sahut Torih masih dengan nada pelannya.


"Kalau belum punya janji maka pergilah, bukan sembarang orang yang bisa menemui Nyonya Vetro saat ini," tutur laki-laki itu lagi.


"Maaf, tapi bisakah kalian hubungkan Nyonya Vetro dulu? Katakan aku Torih Gerisam ingin bertemu," bala Torih memberanikan diri.


Nampak lima laki-laki itu kembali menatap Torih dan Sasdia dengan pandangan menilai. "Kau hubungi saja, aku yang berjaga," papar salah satu dari mereka.

__ADS_1


...*****...


"Dad, ini kenapa wajah Geno jadi seperti ini?" Cara begitu terkejut saat melihat wajah putra tampannya sudah begitu putih oleh bedak.


"Oh, itu … aku memberikan dia bedak supaya lebih lama wanginya. Aku suka mencium pipinya, tapi bedaknya malah begitu mudah menghilang. Jadi aku beri dia bedak lebih tebal supaya nanti tidak sering dipakaikan bedak lagi," papar Geo polos.


Mulut Cara ternganga dengan mata melotot mendengar perkataan polos dari suaminya. Setelahnya wanita itu mendekat ke arah putra kecilnya itu dengan wajah kasihan. "Kasihan sekali kamu, Sayang. Malah menjadi korban dari kepolosan Daddy kamu," ucap Cara.


Freon dengar kalimat Cara menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa Mommy? Bukannya itu lebih baik?" tanya Geo.


Cara menghela napas lelah mendengar pertanyaan dari suaminya. "Iya, Sayang. Ini lebih baik, kamu bahkan membuat putra kita saat ini benar-benar seperti boneka badut," celoteh Cara.


"Mungkin nanti setelah besar kamu perlu membalaskan ini, Sayang," celetuk Cara.


Mata Geo melotot saat mendengar perkataan Cara. "Kok begitu, Mommy?" tutur Geo.


"Iya, karena kamu malah membuat anak kita sebagai permainan. Kamu pikir anak kita boneka? Lihatlah wajahnya, siapa saja yang melihatnya pasti akan tertawa," protes Cara mulai kesal.

__ADS_1


"Tapi aku tidak tertawa, Sayang," balas Geo.


"Iya, kamu tidak tertawa karena kamu memang jarang tertawa. Dasar tembok," gerutu Cara.


Mata Geo kembali melotot saat mendengar gerutuan dari mulut istrinya. Laki-laki itu mendekat ke arah sang istri dan menatap wajah Cara dari jarak dekat. "Apa Mommy? Kamu mengatakan aku tembok?" tanya Geo ingin memastikan.


"Iya, Daddy tembok!" sahut Cara ketus.


Geo mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan Cara. Setelahnya laki-laki itu tersenyum miring menatap sang istri dengan pandangan tidak dapat diartikan. Melihat itu Cara malah nampak waspada. 'Apa yang ingin dia lakukan?' batin Cara waspada.


Dengan tiba-tiba Geo mengangkat tubuh sang istri dan membawa tubuh kecil itu ke atas ranjang. Cara jelas saja sangat terkejut saat dengan tiba-tiba Geo mengangkat tubuhnya. "Daddy, apa-apaan ini?" pekik Cara terkejut.


Geo menatap wajah sang istri sambil menyeringai nakal. "Apa tembok bisa melakukan hal seperti ini? Apa lagi hal lebih?" papar Geo.


Secara perlahan, Geo meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang dan mulai mengungkung tubuh Cara. Laki-laki itu sengaja menggoda sang istri yang saat ini sudah nampak pasrah. Geo semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang istri. Sampai jarak di antara wajah mereka tinggal beberapa senti saja.


Kring … Kring … Kring …

__ADS_1


"Sh**!" umpat Geo saat telepon mansion itu mengganggu aksinya. Sedangkan Cara sudah tertawa melihat wajah kesal milik sang suami.


__ADS_2